Rekan-Rekan FPK,

Memang masalah bahan baku Uranium ini masih tergantung dari luar
karena walaupun punya tambang uranium tapi kalau tidak punya
teknologi pengayaan uranium, tetap saja butuh negara lain yang sudah
punya teknologi tersebut.

Tentunya kita tidak mau mengikuti jejak Iran yang menentang resolusi
PBB dengan terus melakukan pengayaan uranium.

AS dan Rusia sebagai negara terdepan dalam penguasaan teknologi
nuklir, menyadari bahaya nuklir dari negara-negara seperti Korea
Utara dan Iran. Oleh karena itu kedua negara ini mendukung adanya
suatu jasa pelayanan bahan bakar nuklir yang handal. Mohammed
ElBaradei (Ketua IAEA) menyatakan bahwa jasa pelayanan bahan bakar
nuklir ini harus di bawah Otoritas Multi Nasional. Berita
selengkapnya bisa dilihat di :
http://www.thejakartapost.com/detaileditorial.asp?
fileid=20070716.E02&irec=1

Jadi saya rasa Indonesia masih bisa mengandalkan PLTN karena sudah
ada usaha-usaha dari negara maju nuklir dan IAEA untuk memastikan
adanya pasokan bahan baku nuklir yang handal. Selain adanya jaminan
pasokan bahan baku nuklir ini, faktor-faktor utama mengapa
Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Philipina, Thailand, Vietnam dan
Mongolia tertarik untuk mulai menggunakan energi nuklir untuk
listrik adalah sbb:
1) energy security (ketahanan energi) : Nuklir mampu menyediakan
energi dalam jumlah besar/masif.
2) pollution (polusi) : Energi nuklir ramah lingkungan. Bagi yang
tidak setuju dengan istilah ini, setidaknya akuilah bahwa NUKLIR
lebih ramah lingkungan dibanding batubara, minyak bumi dan gas alam.
3) global warming : Energi nuklir bebas emisi karbon yang merupakan
penyebab utama PEMANASAN GLOBAL dan PERUBAHAN IKLIM.

Mungkin pada satu saat nanti kita bisa mengurangi polusi di Jakarta,
dengan kendaraan berbahan bakar hidrogen atau baterai yang
dihasilkan dari energi listrik (yang dihasilkan dari energi nuklir).

Best Regards,
Rudyanto

--- In [email protected], reni renata
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Bung Rovcki, saya belum sempat membaca web yang memuat
> PLTN lengkap.
>
> Tapi dari sepenggal replay anda, menggambarkan bahwa
> belum ada kesiapan kesinambungan bahan baku. Uranium
> masih dalam bentuk trace material yang kandunganya
> sangat kecil. Anda tahu, proses pemurnian uranium ini
> juga masalah yang belum bisa dituntaskan . maksud saya
> teknologinya masih pihak luar yang punya. Dus artinya
> sama saja bahan baku PLTN masih tergantung pada pihak
> luar walapun bahan tambangnya ada di Indonesia.
> Kesimpulan saya Indonesia konsen dulu saja pada proses
> pemurnian uranium, setelah punya stok yang cukup
> (ready to use) sebagai bahan pembangkit listrik baru
> go on...
>
> Mungkin itu lebih baik?
> Janganlah kita mengatasi masalah dengan membuat
> masalah yang lebih besar yang punya potensi untuk
> menjerumuskan bangsa ini yang sudah morat-marit.

> Salam
> Bu Reni



Kirim email ke