Waah .. rasa nya agak keliru bila membandingkannya ke angka kematian di lalu lintas, apalagi penyajiannya seperti itu .. sekalian aja ambil angka kematian "diatas tempat tidur dalam keadaan terbaring" .. itu jauh diatas 80% dari angka seluruh kematian lho!! Trus .. apa mulai besok kita rame-rame hindari tempat tidur .. atau sekalian aja barengan mati berdiri dengan risiko capek?? Contoh lain, keberadaan "gas rumah kaca" dibutuhkan oleh bumi, jauh sebelum anak manusia rame-rame menggunakan "hubungan CH" sebagai sumber energi, GRK itu sudah terbentuk dan berfungsi sebagai "penjaga" suhu permukaan bumi agar tidak terlalu banyak memancarkan panas keluar atmosphere. Namun sejak zaman revolusi industri kita semua langsung ataupun tidak langsung "rajin" membebani kondisi fungsi GRK dengan memperkaya gas CO2. Nah bila issue nya kita belokkan, bahwa gas CO2 selalu diproduksi mahluk hidup saat mengeluarkan nafas .. termasuk manusia .. jadi repot kan??!! Maaf, hanya sekedar trigger berfikir bagi pembaca lain yang tetap ingin bersikap objective. Salam, Bodo
--- In [email protected], "Rovicky" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bacaan lain ada di > http://rovicky.wordpress.com/2007/07/14/fakta-chernobyl/ > Salah satunya fakta tentang radiasi. > > Harus dimengerti juga bahwa PLTBatubara juga mengeluarkan radiasi ! > Quote -- Kalo kita mau membandingkan, dalam sebuah kasus PLTU, dengan > asumsi dayanya 1.000 MWe dan membakar 4 juta ton batubara per tahun > maka cerobong asapnya melepaskan SEDIKITNYA 17 ton radioisotop berat > (Uranium dan Thorium) yang dominan sebagai pemancar alfa dan gamma. > Nah silahkan diperkirakan berapa besar radioisotop yang terpancar jika > kapasitasnya seperti PLTU Suralaya yang mencapai 4.000 MWe. Jangan > dilupakan faktor akumulasi radioisotop, karena kita sudah memanfaatkan > batubara selama lebih dari 150 tahun. So tanpa kehadiran dan kebocoran > PLTN pun lingkungan kita sudah tercemar berat oleh radioisotop, itu > dari emisi PLTU saja, belum diperhitungkan dari pabrik pupuk (Phosphat > itu mengandung Uranium dan tidak pernah diremoval) maupun dari pabrik > rokok (Tembakau itu mengandung Polonium-210, salah satu radioisotop > paling berbahaya karena memiliki aktivitas per satuan massa paling > tinggi sehingga puluhan ribu kali lebih toksik dari HCN). Dari > perspektif ini layak dipertanyakan benarkah angka 9.000 jiwa itu MURNI > korban Chernobyl, bukan karena kontaminasi dari sumber2 lain ? > -- end quote > > Jadi ketakutan radiasi PLTN sudah hampir sepadan dengan PLTBatubara > karena dalam PLTB tidak ada keharusan menangani limbah sesempurna > dalam PLTN. > Bahkan di Amerika-pun sepertinya belum sadar hal ini > refrensi : http://www.ornl.gov/info/ornlreview/rev26- 34/text/colmain.html > > Soal kecelakaan dan potensial mengalami celaka coba perhatikan : > korban kecelakaan lalulintas di Indonesia ini tahun 2003 saja 30.464 > orang per tahun atau 83,4 orang per hari !!! > > Jadi jalan raya "lebih menakutkan" ketimbang PLTN, apalagi kita salah > satu pemakai jalan .... > Hati2 dijalan ya ? > > rdp > rovicky.wordpress.com
