Pak Adhie, menyalahkan Temasek menurut saya kurang tepat ya. Dia punya uang dan ingin membeli asset yang waktu itu ditawar-tawarkan malahan melalui road show sampai ke Hong Kong dan Inggris. Yang salah ya yang menjual dong? Kok sekarang yang jadi musuh bangsa Temasek? Saya juga termasuk orang yang kurang setuju menjual aset negara ke asing. Salam.
--- Adhie Massardi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Temasek > > Oleh ADHIE M MASSARDI > > TEMASEK itu melanggar undang-undang, makanya didenda > Rp 250 miliar. Tapi Mahfud, kawan saya, menganggap > itu terlalu ringan. Temasek itu musuh bangsa. > Kehadirannya di Tanahair hanya mbah-nambah > kerusakkan moral, katanya dengan logat Madura. > > Marwan yang sudah lama tak setuju Temasek menguasai > hajat hidup orang banyak, menepuk-nepuk bahu Mahfud. > Akhirnya ada juga yang sependapat dengan dirinya. > Tapi perjuangan kita belum selesai, Cak. Mafia > peradilan bisa main di tikungan, kata Marwan cemas. > > Merasa dapat angin, Mahfud makin semangat. Katanya, > untuk mencegah mafia peradilan main di tikungan, itu > soal gampang. Kita upayakan pengadilannya di jalan > lurus, katanya. > > Cuma Mahfud menyayangkan kenapa juga DPR tak kunjung > bikin undang-undang APP. Temasek itu bisa dijerat > dengan UU APP. Kalau masih membandel, kita kirim FPI > untuk melakukan pressure, katanya. > > Mendengar ini Marwan Batak, seperti juga kita, > merasa yakin Mahfud nggak nyambung dengan pokok > masalah. Apa hubungannya Temasek dengan UU APP dan > FPI? Meskipun sama-sama bikin kita nafsu, Temasek > bukan tema seks. Tapi bukan orang Madura kalau > tidak bisa menyambungkan persoalan sederhana begini. > > > UU Anti-Penjajahan dan Penjarahan itu penting guna > melindungi bangsa dan kekayaan negara. Nah, untuk > mengamankan UU itu, aparat hukum kita pasti nggak > mampu. Makanya harus dimobilisasi Front Pembela > Indonesia, tutur Mahfud. > > Kalau ini kita setuju. Soalnya di negeri kita banyak > elite politiknya tapi tidak ada kepemimpinan > politik. Kata orang Madura, besar bedanya antara > elite politik dan pemimpin politik. Kalau elite > politik berjuang untuk kemakmuran diri sendiri. > Sedangkan pemimpin politik berjuang demi harkat, > martabat dan kesejahteraan rakyatnya. Untuk itu, > semboyan yang dipakai adalah: tujuan menghalalkan > cara. > > Demi kejayaan Amerika, halal bagi Bush mengebom > Afganistan atau menyerbu Irak. Atau menyampuri > urusan dalam negeri orang lain. (Cuma belakangan > teman Bush di Inggris jatuh, di Australia jatuh. > Siap menyusul teman Bush di negara lainnya...!) > > Demi kemakmuran rakyatnya, PM Singapura mengundang > siapa saja pemilik uang. Tak penting itu hasil > korupsi atau bukan. BUMN-nya juga diijinkan > melakukan semacam penjarahan di negeri orang, asal > dapat laba banyak. > > Demi meningkatkan harkat dan martabat bangsa > menyusul kemajuan ekonominya, pemimpin politik > Malaysia mengakuisisi budaya bangsa lain, dan > mengakuinya sebagai budaya bangsanya. Tak penting > itu dianggap melanggar hak cipta atau disebut > penjarah budaya. > > Jadi bila pemimpin politik di negara lain > semboyannya tujuan menghalankan cara, elite > politik kita nggak tahu apa tujuannya. > > Kita hanya bisa termangu melihat negeri ini > dijadikan TKP pemimpin politik kedua negeri tetangga > itu. Di mata mereka, jangan-jangan Republik > Indonesia ini pasar loak raksasa. Segalanya sangat > murah, nyaris gratis malah. > > Dan Temasek, BUMN Singapura itu, ketika menguasai > Indosat dan Telkomsel memang nyaris gratis bila > dibandingkan dengan harganya sekarang ini. > > Maka tekad Chandra Wijaya dari HIPMI memobilisasi > dana untuk menguasai kembali Indosat dan Telkomsel, > adalah upaya mengembalikan harkat dan martabat > bangsa. Makanya sulit dan nyaris mustahil.
