Bagaimana pun kesalahan tetaplah kesalahan, dan itu kesalahan KOMPAS. Tidak 
bisa dipilah ini kesalahan korektor atau wartawan. Ketika ia menjadi berita dan 
disajikan pada khalayak, maka itu menjadi KOMPAS sebagai institusi. 
   
  Kesalahan lain yang menurut saya fatal adalah berita tentang hasil survei 
Lakpesdam NU yang menempatkan SBY-Akbar sebagai pilihan pertama calon presiden. 
Padahal Lakpesdam NU tidak pernah mengadakan survei ini dan itu sudah dibantah 
oleh ketua Lakpesdam NU, tapi porsi bantahannya tidak seimbang dengan porsi 
berita yang menyesatkan itu. Kompas, makin tua kok makin ga cerdas!.
   
  salam
   
  raja
  pelanggan setia KOMPAS

mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Wah kalau begitu jabatan KOREKTOR lebih tinggi dari pada WARTAWAN 
dong pak? 

Tetapi kalau kita baca boks jajaran redaksi media cetak mana pun, tidak ada itu 
istilah KOREKTOR pak.

Jadi kadang kita perlu repot sedikit.

salam,

rad

Kirim email ke