At 03:18 AM 12/5/2007, you wrote:

>Manjanya yaa.. kurang memaksimalkan potensi kekuatan pasar tradisional.
>Di luar negeri, masyaraktnya mudah ditata.. disini.. masy maunya demo melulu.
>Di Batam, Pasar Induk Jodoh dibangun MEGAH, biaya digratiskan 3 bulan, 
>bangunan kokoh bediri dgn arsitektur indah, pengelola dan penangangan 
>kebersihan bagus.. tapi: para pedangan memilih LARI ke jalanan, memenuhi 
>kaki lima bikin sempit jalan, bikin macet, sampah,...
>apa ini gak manja?
>Di Pasar Turi Suroboyo.. terkenal sebagian besar pedangangnya yg etnis 
>tertentu suka memainkan timbangan... apa ini gak curang??
>Di Pasar Yogyakarta (rumah sodara) sudah terkenal daging ayam yg dijual 
>dengan ayam mati/bangkai.. apa ini tidak kurang ajar???



Mau tahukurang ajarnya Hypermarket  ?/

dia cuma sewa , dan sewanya jauh lebih murah dari tenant lain ( dia bbisa 
dapat di bawah 100 rb per m2 , yg lain busa 1 juta lebih per m2 )

lalu dgn listingfee aja dia sudha untung

dgn kekuatan dominant powernya .. dia dapt potonganharg ayg luar biasa.. ( 
mematikan pemasok ), dan dgn itu mematikan pesaing, apa itu spupermarket 
lebih kecil, atau pasar tradisional..

nah di LN.. , abuse dominant power ini di cegah dgn berbagai aturan..., 
baik yg vertikal ( ke pemasojk ) maupun yg horizontal) sesama peretail.





>Soal dukungan pemerintah, setahu saya yg bukan akademisi di FPK ... Care4 
>dan Hypermart apakah gedungnya di bangun pemerintah..setahu saya mereka 
>bayar sangat mahal untuk beli tanah?? apakah retribusi (pajak) sama dengan 
>pasar tradisional?
>Pasar Tradisional kan yg dibangun pemerintah.. yg udah dapat retribusi 
>murah...yg harga stand lebih murah dari stand basah di Hypermart... (CMIIW)

athu nggak pasar tradisional nggak pwernah di upgradee/./ nggak pernah di 
cat ulang...dll. di bangun.. terus ya udah.. biarin rusak


>eh... saya pernah diskusi sama teman2 bagaimana mengangkat harkat ekonomi 
>bangsa dan daya saing produk indonesia... usulan saya: bagaimana kalo 
>Negeri kita yg sudah puluhan tahun jadi budak teknologi 
>Jepang-amerika-Eropa memberi proteksi dengan menerapkan pajak tinggi. Jadi 
>motor roda dua Honda-Yamaha-suzuki sekarang harganya bisa 20 jutaan, mobil 
>1500cc sedan bisa 500 jutaan.. dan laptop yg paling murah P4 spec paling 
>rendah harganya bisa 15 jutaan...Biar produesen bangsa ini bangkit 
>menciptakan produk dengan merk sendiri! Dan tynt mereka pada kompak GAK 
>MAUUUUU...Anda setuju?
>(Soalnya dengan adanya free trade barang2 itu jadi murah), apakah artinya 
>mereka 'antek free trade"??


Memang saya pernah usul bgt.. wajar wajar aja deh.., kayak di Malaysia... 
Hypermart nggak boleh di pusat kota... kalau satu juta penduduk maka 
maks  ada 3 hypermarket.


Kalau Jakarta ada 8 juta , maka paling banyak  23 hypermart... itung aja 
skrg ada brp . di pusat kotra lagi.


>Wah, hebat juga para "akademisi" di FPK ini.. para kaum "pemikir" bangsa 
>yg tiap hari bisa nge-net.. ..smp jarang belanja ke pasar basah...
>Saking hebatnya smp bisa nebak seseorang 'antek' free trade...
>tapi yaa.. dituduh jg gak pa-pa.. yg penting bukan "antek" 
>liberalisme....dan bukan pendukung serta pengikut kaum liberalis negeri ini..


biasanya sih neo lib dan antek free trade sama aja..

fair trade bukan free trade kebablasan..

pilih mana biarkan 12 juta pedagang mati.. krn katanya mrjk cengeng atau 
tinggal free trade kebablasan.??

Haniwar


Kirim email ke