Pak Haniwar, teruskan perjuangan anda. Saya yakin, mayoritas di FPK ini ada
dalam posisi mendukung..karena yakin bahwa di dunia ini tidak ada lagi itu free
trade 100 %..apalagi di Indonesia ini...jelas harus ditolak habis. Dari awal,
negara ini sudah mengenal demokrasi ekonomi selain demokrasi politik. Soalnya
adalah inkonsistensi dan deviasi dalam sejarah kita. Saatnya dikembalikan ke
relnya.
Mereka yang berargumen dengan dasar free trade tidak lebih adalah antek antek
pengusaha atau pengusaha itu sendiri yang tega menjadi kaya DENGAN MEMISKINKAN
YANG LAIN, tepatnya dengan LEBIH MEMISKINKAN YANG SUDAH MISKIN. Tidak perlu
terus dilayani celotehan mereka.
Negara ada untuk menghilangkan hukum rimba....yang kuat memangsa yang lemah.
Free trade adalah hukum rimba. Karena itu diperlukan regulasi.
Terus berjuang pak Haniwar dan biar kita lain diupdate perkembangannya.
Salam, Irry.
Tunjung Utomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Belum lagi hilangnya sentuhan komunikasi antar manusia yang amat
kental
dipergakan di pasar-pasar tradisonal.
Di Hypermart??anda datang,anda pilih barang,anda bayar,selesai...bahkan
petugas kasir sebernarnya bisa digantikan oleh semacam mesin
pencatat.Memangmenawar harga barang itu kadang merepotkan tapi memaksa
kita untuk selalu
belajar skill antar pribadi.