Pak Haniwar itu pedagang, bukan "akademisi". Pasti dia akan tersinggung diberi
julukan ini.
Free trade itu bagian tak terpisahkan dari liberalisme, jadi kalo Anda jadi
anteknya yang satu, dengan sendirinya juga jadi anteknya yang lain.
Hayo, belajar dulu sama "akademisi' FPK, biar gak keliru-keliru.
manneke
budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Manjanya yaa.. kurang memaksimalkan potensi kekuatan pasar
tradisional.
Di luar negeri, masyaraktnya mudah ditata.. disini.. masy maunya demo melulu.
Di Batam, Pasar Induk Jodoh dibangun MEGAH, biaya digratiskan 3 bulan, bangunan
kokoh bediri dgn arsitektur indah, pengelola dan penangangan kebersihan bagus..
tapi: para pedangan memilih LARI ke jalanan, memenuhi kaki lima bikin sempit
jalan, bikin macet, sampah,...
apa ini gak manja?
Di Pasar Turi Suroboyo.. terkenal sebagian besar pedangangnya yg etnis tertentu
suka memainkan timbangan... apa ini gak curang??
Di Pasar Yogyakarta (rumah sodara) sudah terkenal daging ayam yg dijual dengan
ayam mati/bangkai.. apa ini tidak kurang ajar???
Soal dukungan pemerintah, setahu saya yg bukan akademisi di FPK ... Care4 dan
Hypermart apakah gedungnya di bangun pemerintah..setahu saya mereka bayar
sangat mahal untuk beli tanah?? apakah retribusi (pajak) sama dengan pasar
tradisional?
Pasar Tradisional kan yg dibangun pemerintah.. yg udah dapat retribusi
murah...yg harga stand lebih murah dari stand basah di Hypermart... (CMIIW)
eh... saya pernah diskusi sama teman2 bagaimana mengangkat harkat ekonomi
bangsa dan daya saing produk indonesia... usulan saya: bagaimana kalo Negeri
kita yg sudah puluhan tahun jadi budak teknologi Jepang-amerika-Eropa memberi
proteksi dengan menerapkan pajak tinggi. Jadi motor roda dua
Honda-Yamaha-suzuki sekarang harganya bisa 20 jutaan, mobil 1500cc sedan bisa
500 jutaan.. dan laptop yg paling murah P4 spec paling rendah harganya bisa 15
jutaan...Biar produesen bangsa ini bangkit menciptakan produk dengan merk
sendiri! Dan tynt mereka pada kompak GAK MAUUUUU...Anda setuju?
(Soalnya dengan adanya free trade barang2 itu jadi murah), apakah artinya
mereka 'antek free trade"??
Wah, hebat juga para "akademisi" di FPK ini.. para kaum "pemikir" bangsa yg
tiap hari bisa nge-net.. ..smp jarang belanja ke pasar basah...
Saking hebatnya smp bisa nebak seseorang 'antek' free trade...
tapi yaa.. dituduh jg gak pa-pa.. yg penting bukan "antek" liberalisme....dan
bukan pendukung serta pengikut kaum liberalis negeri ini..