Mas benar .  yg penting ada aturan..

tapi juga harus disiapkan dulu agar  peretail kecil nya bisa bersaing..
]

soal permintaan mas,   ngirim  drfat perpres..komplit  . lagi mikir.. 
melanggar aturan membocorkan rahasia negara nggak ya... .   smile..


Tapi sesungguhnya.. aku pikir rnggak ada untungnya kok asing masuk...nggak 
ada nilai tambah apapun.. malah ada nilai kurang

De[artemen Perdagangan kita lucu juga, kini dia minta spy Carre 4sbg balas 
jasa, jg mengekspor produk kita ke LN, dan dijawab, kalau masuk standar 
Carre4 dunia ya bisa.

Aku bilang , kalo sdh masuk standar.. ya banyak eksportir lain juga bisa, 
lha seringnya   produyknya yg nggak bagus...
Cari mangga sekontainer  yg rasa dankematangan nya sama aja susah setengah 
mati...

Jadi mestinya , departemen perdagangan mending dorong spy Ramayana dan 
matahari aja yg buka cabanga d i LN.. ketimbang nyuruh Carre4  ekspor 
barang kita, lebih dekat mrk yg mauskkan private label Prancis ke 
Inodoesia.  Kalau mau cari i9nvestor, ya yang bergerakl di manufacture. 
budi daya pertanian dong, ada nilai tambah lalu bisa ekspor..


Salam

Haniwar


At 06:49 AM 08-12-07, you wrote:

>Tentunya, persoalannya tidak lagi Menolak atau tidak. Karena pada
>kenyataannya berbagai jenis Hypermarket sudah masuk ke Indonesia.
>
>Yang saya ingat tentang perlawanan terhadap kapitalisme adalah mencari
>titik seimbang. Sehingga tidak ada lagi monopoli terhadap satu bidang
>usaha akibat adanya modal yang besar.
>
>Saya sih tidak berkeberatan terhadap masuknya hipermarket - C4 masuk
>hero bergeliat, persaingan terjadi. perluasan kesempatan kerja akibat
>adanya dinamisasi.
>
>Ada yang menarik mengapa c4 tetap bertahan, bahkan metode bisnisnya di
>tiru oleh hampir semua hypermarket yang ada. Keterlibatan pengusaha
>kecil (local) untuk memasok produknya ke C4. Ini yang membuat bisnis
>C4 tidak selalu tergantung pada produk-produk luar negeri. Ini mungkin
>satu catatan.
>
>Bagian yang lain. Saya setuju bila ada pemetaan lagi jaringan
>distribusi yang tidak memihak kepada kepentingan Kapital. Mungkin
>inilah tugasnya bung Haniwar di perpres nya itu.
>
>Perbandingan pasar :
>
>Sebuah pasar di Blora jakarta pusat, menjadi sepi pembelinya. Padahal
>lokasinya tidak berada di dekat hipermarket. mini market yang terdekat
>hanyalah alfa. Keadaan pasar ini memprihatinkan. Di bagian depan yang
>berhadapan dengan stasiun dukuh atas saja yang terlihat rame artinya
>ada beberapa toko yang buka. TOko bangunan, penjahit, toko
>kelontong... bila kita masuk lebih jauh lagi, pasar hanya di isi oleh
>beberapa pedagang- atau lebih tepatnya hanya satu dua saja yang
>dagang-. sepi sekali. Tentu ini bukan akibat hipermarket. Tetapi lebih
>karena di daerah itu perumahan yang ada sebagian telah berubah menjadi
>kantor dan tempat kost-kostan. Akibatnya jelas, pembeli berkurang dan
>pedagang kabur.
>
>Pasar lempuyangan - Yogya.
>
>Pasar ini memang tidak serame bringharjo atau pasar tradisional Sentul
>di dekat taman siswa. Tapi denyut pasar tradisional ini masih ada.
>pedagangnya dari dulu ke dulu mungkin itu-itu saja. Waktu saya kuliah
>dulu di sana memang sedikit terlihat lebih rame tapi tahun 2007 sudah
>berkurang. Tidak sepi tetapi tidak juga rame. lapak yang tersedia
>paling tidak terisi full. bagian lantai sudah di keramik. tidak becek
>lagi dan mungkin lebih nyaman untuk dipakai berbelanja. Di tahun-
>tahun saya kuliah pasar ini sedikit lebih rame..dan baru saat ini saya
>menyadari bahwa ketika saya kuliah dulu, yogya masih merupakan kota
>pelajar di mana hampir semua orang dari luar pulau jawa ingin ke yogya
>untuk kuliah. Sekarang tidak lagi. pola ini mengganggu denyut warung
>makan yang dulu menjamur di yogya. Tentu juga pasar tradisional
>seperti pasar lempuyangan juga terganggu.
>C4 masuk di yogya sekitar tahun 2006. (koreksi bila saya salah).
>
>Jadi hypermarket belum mempengaruhi pola konsumsi masyarakat jogya.
>dan bukan karena hypermarket maka pasar-pasar tradisional tutup atau
>sepi. Ada faktor-faktor lain.
>
>Tabik

Kirim email ke