Fenomena banci dalam tayangan TV kita sudah lama ada. Bahkan dalam drama Shakespeare pun, pemeran perempuan dimainkan oleh laki-laki. Beberapa kesenian tradisional di Jawa juga menggunakan laki-laki sebagai pemeran perempuan, dan kadang sebaliknya. Rumusan mengenai 'banci' menurut Prof Arief Rahman yang menjadi nara sumber dalam Dialog Public KPI tersebut adalah: terjebaknya jiwa perempuan dalam tubuh laki-laki (atau sebaliknya). Jadi, banci adalah sebuah kondisi yang tidak dikehendaki oleh yang bersangkutan.
Pengertian "kebanci-bancian" adalah perilaku dari seseorang yang sesungguhnya tidak mengalami sexual orientation disorder, untuk tujuan entertainment dan komersial. Arief Rahman menduga bahwa perilaku "kebanci-bancian" tersebut bisa jadi sangat menyakitkan bagi banci. Menurut saya, agar asumsi itu meyakinkan maka untuk itu masih perlu kesaksian, apakah benar adegan tersebut bagi mereka merupakan pelecehan. Prof Sasa Djuarsa menggunakan pasal dalam Standar Program Siaran Pasal 12 tentang Pelecehan Kelompok Tertentu yang berbunyi: "Lembaga penyiaran dilarang memuat program yang melecehkan kelompok masyarakat tertentu yang selama ini sering diperlakukan negatif, seperti:" - tercantum dalam ayat 1.b. "kelompok masyarakat yang kerap dianggap memiliki penyimpangan, seperti: waria, banci, laki-laki yang keperempuanan, perempuan yang kelaki-lakian, dan sebagainya". Dalam ayat berikutnya, lembaga penyiaran juga dilarang menyiarkan program yang menjadikan kelompok tersebut sebagai bahan olok-olok atau tertawaan. Nampak bahwa kedua ayat tersebut lebih berorientasi pada kelompok masyarakat tertentu. Namun persoalan sesungguhnya adalah lebih dalam dari itu: sosialisasi banci sebagai pilihan. Dalam kasus Ivan Gunawan dan Tora Sudiro dalam Extravaganza, Arief Rahman menilai bahwa penampilan atau kadar pelanggaran mereka berbeda. Apa yang ditampilkan oleh Tora adalah sesuatu yang vulgar dan tidak semestinya ada dalam tayangan TV. Sementara penampilan Ivan Gunawan yang kadang memerankan diri sebagai perempuan, merupakan sarana sosialisasi tentang banci yang membingungkan anak-anak. Soal adanya perbedaan antara pemeran "kebanci-bancian" dalam variety shows dan sinetron, Prof Sasa melihat bahwa dalam sinetron lebih ada kelonggaran karena cerita dalam sinetron adalah fiktif dan ada plot cerita yang harus dikembangkan. Namun, bagi saya sendiri kalau tayangan tersebut sudah bernada mempromosikan banci sebagai sebuah pilihan dan dapat mengacaukan persepsi kelompok masyarakat yang rentan seperti anak-anak, serta melecehkan kelompok tertentu - entah ditayangkannya dalam bentuk apa pun - mestinya diperlakukan sama. Mudah-mudahan saya tidak salah menangkap isi Dialog Publik tersebut. Salam, Guntarto ----- Original Message ---- From: manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, 31 August, 2008 12:57:28 Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: KPI Peringatkan Tayangan "Kebanci-bancian" ???????? Mengapa dibedakan antara reality show dan sinetron? Mengapa yang satu haram, sedang yang satunya lagi halal? Ada yang bisa bantu otak saya yang lagi buntu ini? manneke
