KPI kalo bikin kebijakan mbok ya yang esensial gitu lho...
segala banci lah diprotes.
berani nggak kalau menyetop acara sinetron2 "impor" dari India yang isinya
ngerusak budaya bangsa

2008/9/10 uge basar <[EMAIL PROTECTED]>

>   Banci mah dari jaman dulu udah ada, anak-anak juga udah ngerti ga usah
> kuatir, banci mah ga nular. yang nular mah Korupsi, Narkoba, esek-esek
> sejenis dll
>
> ----- Original Message ----
> From: manneke budiman <[EMAIL PROTECTED] <hepaesthos%40yahoo.ca>>
> To: 
> [email protected]<Forum-Pembaca-Kompas%40yahoogroups.com>
> Sent: Wednesday, September 10, 2008 12:56:06 PM
> Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: KPI Peringatkan Tayangan
> "Kebanci-bancian"
>
> Seneng juga bisa menghibur Anda. Akhirnya ada juga ya lucunya? Jadi, nggak
> galak mulu dong? Soal laptop satu lemari dan periset kelas internasional,
> siapa ya yang bikin pengumuman duluan di milis ini? Karena diumukan, ya
> tentu diingat-ingat. Mosok diumumkan buat dilupakan? Nanti yang bikin
> pengumuman kuciwa dong? Hehehe, ngomong-ngomong soal problem psikologis.. ..
> �
> Nah, gitu dong, ini baru penjelasan kelas riset internasional. Masuk akal,
> wajar, jelas (meski nggak serta-merta betul).
> �
> Sekarang saya coba tunjukkan di mana kelirunya: alasan utama KPI melarang
> acara "kebanci-bancian" (khususnya reality show) adalah karena mereka anggap
> itu bikin anak-anak jadi bingung. Alasan ini yang saya gugat. Nah, Anda
> dalam 'pembelaan' terhadap kebijakan KPI menafsirkan bahwa dalam reality
> show, mudah menjelaskan bagi anak kenapa aktor/aktris bisa ganti peran
> jender, sedang dalam sinetron lebih susah (?). Gitukah?
>
> Ini asumsi, Bung. Sebagai orang yang menggeluti dunia riset, bukankah
> asumsi beginian perlu diteliti dulu kebenarannya? Anda bicara ini pake dasar
> hasil riset yang sudah ada atau cuma 'perasaan' doang? Saya pribadi sih
> punya 'perasaan' (bukan riset lho), anak tak akan bingung kalo ortu bisa
> mendampingi dan menjelaskan dengan bener (yang suka bingung itu kan ortunya,
> lalu diproyeksikan ke anaknya, hehehe). Jadi, apakah itu reality show yang
> masa putarnya pendek atau sinetron yang masa putarnya panjang, bukanlah
> esensinya. kalo sinetron dengan acting "banci-bancian" juga menciptakan
> stigam terhadap kaum waria, yo efeknya podo wae.
>
> Saya juga katakan, bahaya lebih besar yang ditumbulkan acara (mau reality
> show, mau sinetron, sami mawon) dengan acting "kebanci-bancian" adalah bahwa
> itu semua kian mengukuhkan stigma negatif yang sudah diberikan kepada kaum
> waria. Di sini, tantangan terhadap ortu lebih berat: jika ortunya sudah
> kemakan sama stigma itu, pendidikan anaknya ya makin gelap berkenaan dengan
> identitas waria. Jadi, persoalannya jauh lebih rumit daripada sekadar
> menjelaskan konsep jenis kelamin kepada anak.
>
> Anda? Yah, Anda cuma bisa berkutat dalam wacananya KPI dan tak mampu
> melihat betond and behind. Jadi, terperangkap juga dalam isu
> bingung-bingungan anak-anak, padahal acara-acara itu (reality show maupun
> sinetron) menghadirkan masalah yang lebih serius daripada itu, yakni
> stigmatisasi kaum waria. Efeknya pada pendidikan anak? Mosok perlu saya
> jelaskan juga sih?
>
> Mengenai tidak adanya keharusna peran waria dimainkan waria tulen, yes,
> betuuul. Setujuuuu. Yang penting, kewariaan tidak dieksploitasi (apalagi
> oleh non-waria) untuk kepentingan sendiri ataupun komersial, dengan cara
> menjadikan kewariaan sebagai bahan ketawaan atau lucu-lucuan atau pelecehan.
> Maka, jika ini prinsipnya, bisa saja ada reality show atau sinetron yang
> menampilkan peran waria (tanpa harus dimainkan waria tulen) asal
> substansinya tidak negatif.
>
> Gimana kalo substansinya negatif tapi dimainkan waria tulen? Berdasar
> prinsip penghormatan atas identitas waria, maka yang inipun mestinya tak
> lolos sensor KPI. Gampang kok.
>
> Nah, masih mau jadi ketua KPI, eh maaf, .... maksudnya, masih mau jadi
> pejabat publik?
>
> manneke
>  
>



-- 
Muhammad Arief Rahman, S.Pd.
Pengajar Bidang Studi Bahasa dan Sastra Indonesia
SMP Labschool Jakarta
HP : 021 93 201 201


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke