Ivan Gunawan, Olga Syahputra jangan dicekal pleaseee.......mereka
banci tapi banci yang lucu, yang buat saya hilang stress kalo ngeliat
mereka ngelawak. Apalagi kalo Ivan Gunawan ketemu Ruben dan Eko. Atau
Olga maenin Jaja Miharja. Lucu banget...........

Anton


Sekum Ikatan Penggemar Dewi Perssik dan Saipul Jamil.


--- In [email protected], D Guntarto
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Fenomena banci dalam tayangan TV kita sudah lama ada. Bahkan dalam
drama Shakespeare pun, pemeran perempuan dimainkan oleh laki-laki.
Beberapa kesenian tradisional di Jawa juga menggunakan laki-laki
sebagai pemeran perempuan, dan kadang sebaliknya.
> Rumusan mengenai 'banci' menurut Prof Arief Rahman yang menjadi
nara sumber dalam Dialog Public KPI tersebut adalah: terjebaknya jiwa
perempuan dalam tubuh laki-laki (atau sebaliknya). Jadi, banci adalah
sebuah kondisi yang tidak dikehendaki oleh yang bersangkutan.
>
> Pengertian "kebanci-bancian" adalah perilaku dari seseorang yang
sesungguhnya tidak mengalami sexual orientation disorder, untuk
tujuan entertainment dan komersial. Arief Rahman menduga
bahwa perilaku "kebanci-bancian" tersebut bisa jadi sangat
menyakitkan bagi banci. Menurut saya, agar asumsi itu meyakinkan maka
untuk itu masih perlu kesaksian, apakah benar adegan tersebut bagi
mereka merupakan pelecehan.
>  
> Prof Sasa Djuarsa menggunakan pasal dalam Standar Program Siaran
Pasal 12 tentang Pelecehan Kelompok Tertentu yang
berbunyi: "Lembaga penyiaran dilarang memuat program yang melecehkan
kelompok masyarakat tertentu yang selama ini sering diperlakukan
negatif, seperti:" - tercantum dalam ayat 1.b. "kelompok masyarakat
yang kerap dianggap memiliki penyimpangan, seperti: waria, banci,
laki-laki yang keperempuanan, perempuan yang kelaki-lakian, dan
sebagainya".
> Dalam ayat berikutnya, lembaga penyiaran juga dilarang menyiarkan
program yang menjadikan kelompok tersebut sebagai bahan olok-olok
atau tertawaan. Nampak bahwa kedua ayat tersebut lebih berorientasi
pada kelompok masyarakat tertentu. Namun persoalan sesungguhnya
adalah lebih dalam dari itu: sosialisasi banci sebagai pilihan.
>  
> Dalam kasus Ivan Gunawan dan Tora Sudiro dalam Extravaganza, Arief
Rahman menilai bahwa penampilan atau kadar pelanggaran mereka
berbeda. Apa yang ditampilkan oleh Tora adalah sesuatu yang vulgar
dan tidak semestinya ada dalam tayangan TV. Sementara penampilan Ivan
Gunawan yang kadang memerankan diri sebagai perempuan, merupakan
sarana sosialisasi tentang banci yang membingungkan anak-anak.
>
> Soal adanya perbedaan antara pemeran "kebanci-bancian" dalam
variety shows dan sinetron, Prof Sasa melihat bahwa dalam sinetron
lebih ada kelonggaran karena cerita dalam sinetron adalah fiktif dan
ada plot cerita yang harus dikembangkan.
> Namun, bagi saya sendiri kalau tayangan tersebut sudah bernada
mempromosikan banci sebagai sebuah pilihan dan dapat mengacaukan
persepsi kelompok masyarakat yang rentan seperti anak-anak, serta
melecehkan kelompok tertentu - entah ditayangkannya dalam bentuk apa
pun - mestinya diperlakukan sama.
>
> Mudah-mudahan saya tidak salah menangkap isi Dialog Publik tersebut.
>
> Salam,
> Guntarto

Kirim email ke