Reality show juga fiktif kok, meski namanya pake embel-embel "reality". Ini 
juga jenis acara yang khusus dirancang dan dikemas untuk menghibur, bukan 
menyajikan kenyataan seperti halnya acara siaran berita, misalnya.
�
Pertunjukan "kebanci-bancian" walau bisa jadi sangat menghibur bagi banyak 
orang, tetapi sebetulnya sangat merendahkan kaum transvestite dan menciptakan 
stereotipe yang kian negatif atas golongan minoritas ini. Ini tak perlu pake 
riset-risetan dulu karena sudah jelas bersangkutan dengan martabat manusia. 
Sama dengan kalo etnik Tionghoa nggak suka kalo di sinetron dan lawak selalu 
ditampilkan peran Babah yang pelit, culas, dan kalo bicara cadelnya 
dilebih-lebihkan.
�
Jadi kalo KPI serius, baik yang di reality show maupun yang di sinetron harus 
diatur semua, tidak pakai alasan fiksi atau bukan fiksi. Alasan utamanya adalah 
karena tidka menghormati martabat kaum transvestite, bukan karena bikin bingung 
anak-anak. Ini alasan yang kekanak-kanakan. Lha kartun kaya Tom & Jerry itu apa 
gak bikin bingung anak-anak? Wong tikus dan kucing kok bisa ngomong?
�
Dalam pementasan Shakespeare di abad ke-17, memang perempuan dilakonkan oleh 
aktor laki-laki, tapi bukan dengan alasan mau "banci-bancian. Perempuan 
dilarang naik pentas main sandiwara pada masa itu karena dunia seni pertunjukan 
masih dianggap dunia 'maksiat' yang tak cocok buat perempuan. Dalam Opera Cina 
di masa lampau, tokoh perempuan juga dilakonkan aktor laki-laki, tapi sekali 
lagi alasannya bukan untuk bikin orang ketawa melihat peran "banci".
�
Tapi langkah KPI ini bisa jadi adalah langkah awal yang baik. Jika kita nonton 
acara-acara tivi di negara-negara maju, walau tak ada acara yang isinya 
eksploitasi "banci-bancian", mutu acara-acaranya secara umum tetap lebih tinggi 
daripada di Indonesia.
�
manneke

--- On Sun, 8/31/08, D Guntarto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: D Guntarto <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: KPI Peringatkan Tayangan 
"Kebanci-bancian"
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Received: Sunday, August 31, 2008, 8:31 AM






Fenomena banci dalam tayangan TV kita sudah lama ada. Bahkan dalam drama 
Shakespeare pun, pemeran perempuan dimainkan oleh laki-laki. Beberapa kesenian 
tradisional di Jawa juga menggunakan laki-laki sebagai pemeran perempuan, dan 
kadang sebaliknya.
Rumusan mengenai 'banci' menurut Prof Arief Rahman yang menjadi nara sumber 
dalam Dialog Public KPI tersebut adalah: terjebaknya jiwa perempuan dalam tubuh 
laki-laki (atau sebaliknya). Jadi, banci adalah sebuah kondisi�yang tidak 
dikehendaki oleh yang bersangkutan.

Pengertian "kebanci-bancian" adalah perilaku dari seseorang yang sesungguhnya 
tidak mengalami sexual orientation disorder, untuk tujuan entertainment dan 
komersial. Arief Rahman menduga bahwa�perilaku "kebanci-bancian" tersebut 
bisa jadi sangat menyakitkan bagi banci. Menurut saya, agar asumsi itu 
meyakinkan maka untuk itu�masih perlu kesaksian, apakah benar adegan tersebut 
bagi mereka merupakan pelecehan.
�
Prof Sasa Djuarsa menggunakan pasal dalam Standar Program Siaran Pasal 12 
tentang�Pelecehan Kelompok Tertentu�yang berbunyi:�"Lembaga penyiaran 
dilarang memuat program yang melecehkan kelompok masyarakat tertentu yang 
selama ini sering diperlakukan negatif, seperti:" - tercantum dalam ayat 1.b. 
"kelompok masyarakat yang kerap dianggap memiliki penyimpangan, seperti: waria, 
banci, laki-laki yang keperempuanan, perempuan yang kelaki-lakian, dan 
sebagainya".
Dalam ayat berikutnya, lembaga penyiaran juga dilarang menyiarkan program yang 
menjadikan kelompok tersebut sebagai bahan olok-olok atau tertawaan. Nampak 
bahwa kedua ayat tersebut lebih berorientasi pada kelompok masyarakat tertentu. 
Namun persoalan sesungguhnya adalah lebih dalam dari itu: sosialisasi banci 
sebagai pilihan.
�
Dalam kasus Ivan Gunawan dan Tora Sudiro dalam Extravaganza, Arief Rahman 
menilai bahwa penampilan atau kadar pelanggaran mereka berbeda. Apa yang 
ditampilkan oleh Tora adalah sesuatu yang vulgar dan tidak semestinya ada dalam 
tayangan TV. Sementara penampilan Ivan Gunawan yang kadang memerankan diri 
sebagai perempuan, merupakan sarana sosialisasi tentang banci yang 
membingungkan anak-anak.

Soal adanya perbedaan antara pemeran "kebanci-bancian" dalam variety shows dan 
sinetron, Prof Sasa melihat bahwa dalam sinetron lebih ada kelonggaran karena 
cerita dalam sinetron adalah fiktif dan ada plot cerita yang harus dikembangkan.
Namun, bagi saya sendiri kalau tayangan tersebut sudah bernada mempromosikan 
banci sebagai sebuah pilihan dan dapat mengacaukan persepsi kelompok masyarakat 
yang rentan seperti anak-anak, serta melecehkan kelompok tertentu - entah 
ditayangkannya dalam bentuk apa pun - mestinya diperlakukan sama.

Mudah-mudahan saya tidak salah menangkap isi Dialog Publik tersebut.

Salam,
Guntarto

Kirim email ke