Jelas jawaban Pak Godlip adalah jawaban yang rasional dan realistis, juga jawaban terpelajar. Karena Pak Godlip juga jelas orangnya dan latar belakangnya tidak seperti Kang Noer yang nggak jelas itu darimana asalnya.
Demokrasi memberi kesempatan kita untuk memilih, terkadang dalam alam demokrasi ada sekelompok orang yang tidak sabar melihat jalannya sejarah, lalu bergabung dalam kelompok yang ingin melompati sejarah. namun ada juga orang-orang dungu yang hanya mampu beretorika, tapi tidak paham konsep. Kelompok inilah yang kerap hanya jadi penghambat jalannya sejarah. Dan mereka sering mengklaim sebagai 'suara rakyat'. Setiap orang juga bisa ngomong sebagai penyambung suara rakyat. Anton --- In [email protected], Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Setuju pak Godlip, sebenarnya justru orang-orang yang berani mengatakan yang benar-lah yang mendapatkan ampunan dan mereka-mereka inilah nantinya yang akan selalu menjalankan hal yang benar setelah sadar bahwa perbuatan sebelumnya adalah sebuah malapetaka dan aib bagi semua anggota DPR. > Namun orang-orang yang "kecipratan" uang justru makin menutupi keburukan yang mereka lakukan sendiri, dan petentang-petenteng, "as if" merekalah yang "bersih" dan lain-nya "kotor". > > Semestinya para anggota DPR belajar dari hal-hal yang sudah terjadi, dan mulai belajar untuk memperbaiki kelakuan yang sangat "memalukan" BANGSA dan NEGARA tersebut. > Tetapi jika melihat dan membaca dikoran-koran, sepertinya mereka tidak merasa bersalah sama sekali. Dimana rasa bahwa merka-mereka ini adalah "ABDI RAKYAT?" > Namun sepertinya mereka-mereka inilah yang selalu benar, dan rakyat yang selalu salah, jika memberikan "input" untuk menyadarkan akan perbuatan mereka. > > Salam, > Yuli
