Tidak capek tampaknya para caleg membela parpol yang mengusungnya Sehingga semalam KangNoer disuguhi debat oleh Bung Pius dan Mbak Dita Bagaimana mereka tiba-tiba paling ahli membela Gerindra dan PBR Seperti ahlinya Uda Indra membela Golkar dan Bung Budiman bela PDI-P
Dalam dialog semuanya mengatakan partai mereka tidak busuk dan terbaik dari yang busuk :) Jadi kalau versi Bung Pius Gerindra baik maka PDP dan PDIP busuk karena beliau terdepak dari sana Jadi kalau Gerindra baik maka Golkar busuk karena parabowo yang baik meninggalkan Golkar Jadi sebenarnya mana partai yang baik sehingga sekumpulan aktivis bisa terberai dalam baju berbeda Pertanyaan jadi menarik ketika ada pertanyaan, bagaimana kalau nggak diusung sebagai caleg...? Masihkan Dita manggandeng PBR kelangit...? Masihkah Bung Pius naik Garuda...? Atau Uda Indra masih bersandar dibawah beringin...? Atau Bung Budiman masih berpacu bersama Banteng....? Ah....susah juga mendalami logika para calon pemimpin yang konon katanya cerdas-cerdas ini...? Kaumku rakyat jadi bingung...? Bagaimana mungkin para aktivis, akdemisi yang klimis ini telah tertipu juga hati nuraninya Ketika mereka teriak politisi busuk dan meminta rakyat melihat track record sebelum memilih Tetapi disaat injury time mereka ternyata juga ikutan diusung tanpa melihat track record yang mengusung Apakah Bung Indra tidak melihat kubangan sejarah beringin...? Apakah Bung Budiman tidak melihat ceceran darah sejarah sang banteng...? Apakah Bung Pius tidak melihat cakaran sang Garuda...? Atau Mbak Dita juga memejam saat panasnya bintang membakar....? Entahlah logika awam dan bodoh seperti KangNoer susah mencernanya........ Sayang logika KangNoer akhirnya menemukan sebabnya......? Ketika mbak Dita keluarkan desahan kecewa karena partainya nggak lolos Sehingga seolah tidak ada lagi kendaraan Mbak Dita akan mogok dalam sejarah bangsa Yang menjadikan Mbak Dita kalap mata dan beralih dari perjuangan nurani menjadi materi Sepuluh tahun reformasi memang bukan waktu yang pendek untuk hasil terbaik Bukan juga waktu yang panjang untuk terus berjuang dan bersabar menunggu perubahan Tetapi sayang mereka aktifis tidak belajar dari para pejuang pendiri bangsa ini Walaupun paling ahli cerita tentang Tan Malaka ternyata mereka tidak sadar esensi perjuangan beliau....... Seandainya Tan Malaka masih hidup maka air matanya akan terus meleleh Karena aktifis pembaca bukunya hanya faham kulit luar sebuah gerakan Sehingga intinya sebuah kesabaran dalam berjuang dibanding tujuan instan tidak tertampak Menjadikan setiap generasi menelurkan aktifis yang berujung jadi politikus populis dan borjuis bergaya hidup hedonis :)..... Regards, KangNoer [Non-text portions of this message have been removed]
