Ada ketololan terbesar yang sering terjadi dalam pemahaman sosialis. Sosialisme kerap digambarkan sebagai anti kapital, sosialisme kerap digambarkan berlawanan dengan sistem kapital. Sosialisme kerap hanya terhenti pada 'hukum-hukum Lenin' sementara perkembangan sosialisme modern tidaklah khas abad 19 dan abad 20. Perkembangan sosialisme sudah menuju pada akulturasi dari nilai-nilai esensi ideologis yang mewudjud pada kesejahteraan bersama.
Otak Ilmi adalah jelas otak produk lama yang sudah sepantasnya dibuang ke keranjang sampah sejarah, semetara memahami sosialisme tidak perlu dengan retorika produk masa lampau. Sosialisme adalah kesadaran bertindak untuk pertama-tama, merebut kembali hak kapital Indonesia ditengah bayang-bayang Neo Liberalisme, Sosialisme adalah bentuk gerakan generasi baru yang tidak kaku memahami ruang gerak ideologis. Kalau saya kerja di Pasar Modal, karena saya tahu bagaimana, berpikir, bertindak dan menjadi kaya ditengah susunan masjarakat sedemikian, tapi setidak-tidaknya Pasar Modal sama sekali tidak bertentangan dengan sistem sosialisme bila semuanya mengerti dengan baik apa makna sosialisme apa makna Pasar Modal yang menampung kapital itu sendiri. Anton Anticelli --- In [email protected], "Mohamad Ilmi Hussein" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Anton yang jelas latar belakangnya (eh.. belum jelas juga bagi saya, mana > ada sosialis mau jadi broker) > > Theory beyond theory, ini yang kita cari di milis ini. Ingat teori itu > biasanya hanya mempan digunakan oleh dosen untuk memveto keunggulan > mahasiswanya. Lha kalo dalam diskusi ini, ya retorikanya yang kita > hargai,bukan latar belakangnya. Seperti anda apa bukan itu retorika bahkan > lebih banyak memelesetkan untuk mengarah ke pembenaran anda. > > Kang Noer terus aja di milis ini ya, saya suka sekali opini anda. > Kalau anton susah nemu rakyat yang anda maksud nanti biar saya yang cekoki. > > Wahai rakyatku....kata anton.... saya juga juga kan termasuk rakyat > Wahai rakyatku yang terhimpit.... kata anton....saya juga kan termasuk > dihimpit kebutuhan > Wahai rakyatku yang teraniaya ....kata anton .... saya juga lho, soalnya > belum bisa jadi Prof. > Wahai kaum proletar ....kata anton..... walau saya nggak mau (tapi kan saya > masih ngontrak nih siapa tau bisa kebagian land-reformnya anton) > > Karena ada yang dimangsa, maka muncullah sang pemangsa > Karena ada yang miskin maka muncullah kata si kaya > Karena ada kesedihan terpola sebuah kata bahagia > Karena ada kenyataan pedih rakyat memunculkan harapan nikmatnya (jadi > anggota legislatif gitu) > > (maaf ton. baru belajar membuat puisi, tentunya banyak salahnya)' > > Tolong pencerahan opsi-call & opsi-put versi sosialis dong. > > Ilmi > > 2008/9/4 anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]> > > > Jelas jawaban Pak Godlip adalah jawaban yang rasional dan realistis, > > juga jawaban terpelajar. Karena Pak Godlip juga jelas orangnya dan > > latar belakangnya tidak seperti Kang Noer yang nggak jelas itu > > darimana asalnya. > > > > Demokrasi memberi kesempatan kita untuk memilih, terkadang dalam alam > > demokrasi ada sekelompok orang yang tidak sabar melihat jalannya > > sejarah, lalu bergabung dalam kelompok yang ingin melompati sejarah. > > namun ada juga orang-orang dungu yang hanya mampu beretorika, tapi > > tidak paham konsep. Kelompok inilah yang kerap hanya jadi penghambat > > jalannya sejarah. Dan mereka sering mengklaim sebagai 'suara rakyat'. > > Setiap orang juga bisa ngomong sebagai penyambung suara rakyat. > > > > Anton >
