Lagi ingin bahas pertanian lagi . Di Kompas ada tulisan Hermas berjuudul . "Penyusutan Lahan issue utama Keatahanan Pangan."
Walau saya gak pernah suka soal ketahanan pangan jadi issue, tapi sy sependapat bhw luasan lahan yg terlalu kecil bg petani adalah masalah besar yg perlu diatasi. Yg lebih menarik dari tulisan ini adalah soal tanaman transgenik atau GMO. Hermas secara cukup balance mengemukakan positip negatip dr GMO ini. Faktanya indonesia belum memanfaatkan positipnya GMO ini dan malah mungkin terlalu ketakutan dgn bahaya spt yg dibilang serikat petani spt dikutip Hermas sbbb : "bibit tanaman GMO menciptakan ketergantungan. Sebagian besar bibit dan produk GMO diproduksi, didistribusikan, dan dikuasai oleh perusahaan transnasional agrobisnis. Ketika petani hendak memakai bibit, harus membayar. Jadi, diperlukan biaya yang besar. Celakanya, bibit itu tidak bisa ditanam lagi dan harus dibeli." "Ada kekhawatiran terjadi efek samping dari pemakaian benih dan konsumsi pangan transgenik pada manusia. Memang dalam kajian dunia pemakaian transgenik tidak ada resistensi terhadap tubuh manusia. Namun, itu dalam rentang waktu singkat. "Kita tidak bisa memprediksi dalam waktu 20 tahun," katanya.' ...end of quote Yang jadi persoalan saya . kenyataannya Indonesia sudah mengkonsumsi produk gMO impor dlm jumlah besar yaitu kedelai. Lalu luasan tanaman dg nGMO di dunia meningkat pesat.., termasuk di negara asal spt Amerika juga Australia dan pastinya India dan Cina. Mesir dan negara Asia Afrika lainnya juga mulai menmanfaatkannya Sebenarnya berkurangnya lahan memang bisa disiasati dgn penggunaan teknologi GMO ini yg bisa punya produktivitas jauh lebih besar dan dapat di buat sesuai kebtuhan alam setempat. Pertanyaan besarnya..apakah kita akan tetap takut pakai GMO .krn belumteuji 2o tahun . ??/ sementara produk GMO jelas sudah masuk ?/ apakah kita teap ketakutan dampak buruk 20 tahun lalu sementara risk asseesment sudah dilakukan dgn cukup baik utk mengnatisipasi hal itu ? Apakah kita tetapa kan menolak memakai smeentara negara lain sudah memakainya, dan menikmati hasisnya ?? sementara dampak negatip yg nyata sampai saat ini,paling juga ada bebarapa kasus yg menimbulkan alergi . ? Kalau issuenya takut ketergantungan..apakah jawabannya jangan memakainya ?? Bukankah lebih baik sekarang memakai nya walau dr produk luar,lalu secara konseptual berencana, membuatnya sendiri di masa datang, karena sebenarnya Indonesia juga punya banyak ahli perekayasa genetika. Jadi kita gak pelru tergantung dna juga gak pelru nunggu untuk memakainya.. Sebagai contoh , di widya karya pangan nasional kemarin, ada berita bhw LIPI telah sukses membuat benih padi dr rekayasa genetika ..cuma belum dikomersiilkan. Kita maunya hanya daging yg mahal.krn katanya aman..padahal daging yg menurut kita gak aman itu malah di pakai diseluruh dunia tanpa dampak negatip .kita maunya teknologi kuno..sementara teknologi GMO yg m,emberi produktivitas tinggi nyatanya telah dipakai diseluruh dunia dgn aman aman saja dan bahkan kita sudha mengimpor nya dlm bentuk kedelai GMO Baik daging itu maupun produk GMO itu sudah melalui penlitian soal kemananan pangannya..dan dapat di jejaki asal usulnya ( memiliki traceability) . Yang perlu kita lakukan padahal cuma.., melalukan risk assesment shg memastikan bhw daging yg masuk adalah benar daging yg aman.., benih gMO yg masuk benar benih GMO yg sudah melalui penelitian mumpuni. Sementara itu bangun industri perbenihan kita dgn rekayasa genetis, bangiun peternakan kita di timur Indonesia secara efisien. Bukan menolak semuanya dan menjadi negara pertanian yg paling gak efisien di dunia..dan lalu tenggelam bersama sang surya.. Kita punya pakar untuk itu..dan hentikan kecengengan itu yg sesungguhnya adalah jebakan sejati menuju kemandirian pangan kita. Bukan impor yg seharusnya menghantui kita , tapi keengganan memanfaatkan teknolgi baru menuju efiseinsi dan produktivitas yg lebih tinggi ., , dan hanya bangga dgn keosmbongan masa lalu sejenis dgn kebanggan bhw pelru waktu 100 tahun utk bebas PMK tanpa makna apapun dlm tingklat produktivias industri peternakan kita HS HS .
