Justru itu mas HS kenapa ini bisa terjadi, karena iklan yang gencar hasil
yang dijanjikan dari GMO itu lebih tinggi dari varietas lokal (150%).
Istilah Hibridisasi lebih melekat untuk varietas GMO di tingkat petani.
Mengenai produk GMO untuk konsumsi langsung baik untuk jangka pendek untuk
mengatasi kekurangan supply, tetapi di jangka panjang perlu dijaga dengan
jaring pengaman berupa cinta varietas lokal.

Untuk GMO non-makanan di Indonesia mungkin perlu uji multi-lokasi dulu,
tetapi impact kepada lingkungan mungkin banyak pakarnya (terputusnya rantai
makanan prey-predator). Pertanyaannya apakah metode konvensional saat ini
tidak mampu menandingi mutasi atau transgenik.

Bukan saya menggurui LIPI dan deptan , tetapi dari ratusan varietas berbagai
tanaman yang di lepas tidak membumi dimasyarakat karena penemunya hanya
tertarik dengan gelar profesor riset. Bagian ini perlu di koreksi (antara
breeder ---- penangkar benih ------ petani). Toh buktinya supertoy bisa
berkembang dengan cepat walau sedikit menipu, bagaimana nasib
varietas-varietas yang tersimpan hanya sebagai plasma nuftah.

Sayang kan hasil penelitian yang dananya besar dari inventor --- tidak
meluruh ke implementor bahkan investor.

Mengenai produktivitas dan efisiensi saya rasa petani sudah sangat paham
tentang ini (tapi ingat mekanisasi pertanian hanya layak untuk lahan yang
sangat luas). Jadi untuk lahan-lahan kecil perlu ada reformasi koperasi yang
lebih berpihak kepada sharing anggota. Saya juga agak heran dengan mulai
terjadi degradasi peranan Petugas Penyuluh Pertanian dan Peternakan yang ada
di daerah-daerah dan ada yang sudah mulai dihapus dibeberapa daerah, justru
ini telah ditiru oleh Malaysia di in-situ project mereka di beberapa wilayah
dengan aktivitas yang mirip dengan panca usaha tani..

Kenapa saya masih menekankan lahan (ekstensifikasi) karena inilah yang
paling murah biayanya dibandingkan intensifikasi dan perlakuan khusus
terhadap lahan. Bisa sajakan sentra pertanian di kalimantan.

Gitu aja dulu mas HS tambahannya

Ilmi

2008/10/9 Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]>

>   akugak ngerti kenapa hibrida dianggap lebih keren dr GMO
>
> juga gak ngerti kenapa GMO bukan solusi ..mengingat jagung ..kedele
> GMO sudah banyak beredar disini dan bikin petani amrik untung
>
> juga Cina dan India sudah pakai GMO ini. utk non makanan spt kapas
> sudha lebih banyak ;g yg pakai
>
> bagian inijuga gak jelas maknanya
>
>
> Tanya ke LIPI sudah ada berapa varietas tanaman yang di lepas, dimana
> dikembangkan dan menurut saya itulah solusinya.
>
> apa solusinya ?? mohon pencerahan tambahan
>
> soal konversi lahan.. sudah muali di buat larangannya
>
> tapi saya tetap pikir bhw produktivitas dan efisiensi yg harusnya
> jadi fokus utama..
>
> lha hasil penelitian FAO bilang... bhw kita maish banyak
> penambahanlahan di luar jawa.
>
> di luar negeri malah gak ada lgyg bis amemperluas.
>
> lahan terus mengecil... konnsumsi terus meningkat... lalu maishmau
> ngandalin pada lahan ???
>
> HS

Kirim email ke