Itu dia, kurang masuk akal jika para jaksa itu belajar hukum di AS, yg
mana sistem peradilan di sana tidak sama dengan sistem peradilan yg
ada di Indonesia.
Apa sistem peradilan di Indonesia mau diubah juga dengan menggunakan
sistem juri seperti di AS?

Bau jalan2? *sniffff*... kayaknya iya.

salam,

-bank al-

2008/10/11 elizabeth fang <[EMAIL PROTECTED]>:
> Menurut saya ngapin berkaca pada peradilan AS. Eropa lebih tegas soal 
> keputusan hukum. Di AS saja kan korupsi masih tinggi. Selain itu, sistem 
> peradilan mereka kan tidak hanya bergantung pada hakim, tetapi juga pada 
> dewan juri yg terdiri dari berbagai kalangan. Di peradilan kita, mana ada 
> sistem seperti itu. Makanya suap menyuap hakim di sini tinggi sekali., karena 
> keputusannya kan sentral di satu titik saja.
>
> Kalau di AS, mau nyuap hakim, kalau juri blg salah, ya apa mau dikata. 
> Percuma kan?!
>
> Belajar kalau hanya 10 hari juga masih kurang.
> Yah, jaksa belajar apa disana? Masalah ketegasan menuntut, keberanian utk 
> melawan itu kan dtg dari diri sendiri. Apakah mereka berani utk menentang 
> hati nurani, tahu salah tapi ngotot benar. Ga berani nuntut karena mencium 
> bau uang.
>
> Belajar sekarang mah percuma. Toh sewaktu sekolah hukum mereka kan sudah 
> diajari soal kebenaran itu harus berpihak pada siapa.
>
> Ini mah baunya jalan-jalan n menghabiskan anggaran negara saja. Mendingan 
> duitnya buat memperbaiki sistem pendidikan dan membangun sarana di tempat 
> terpencil. (Kok jd kayak laskar pelangi, hehehe)...
>
> Liz

Kirim email ke