Mengapa Lasma jadi begitu sinis dan pesimis? Tulisan Ramardhana di 
Kompas itu justeru memperlihatkan bahwa dalam hal menerima orang-
orang minoritas sebagai pemimpin, Indonesia sudah lebih maju dari 
AS.  

Lebih jauh lagi tulisan itu mengatakan bahwa upaya untuk memelihara 
momentum sebagaimana yang saya sebutkan di atas justeru ada di tangan 
kalian orang-orang muda. Kalianlah yang harus mengambil prakarsa. 
Jangan hanya menunggu dan mengeluh. 

Saya melihat bahwa dalam mengomentari "pencapaian" yang dilakukan 
oleh AS itu, dan ketika membanding-bandingkannya dengan Indonesia, 
maka orang lebih banyak melihat kepada sisi masyarakat pemilih. Orang 
hanya berkata, "Betapa terbuka dan majunya masyarakat AS itu. Betapa 
intoleran dan piciknya masyarakat Indonesia itu...." 

Orang tidak melihat sisi tokoh yang dipilih. Orang lupa bahwa sebagai 
orang minoritas Obama bisa terpilih karena dia memang memiliki 
kwalitas lebih daripada orang mayoritas yang menjadi pesaingnya. Dan 
kwalitas seperti itu jugalah sebenarnya yang dimliki oleh para 
pemimpin kita yang berasal dari golongan minoritas.

Saya sering berkata kepada anak-anak saya: "Kalau ada sebuah jabatan 
publik yang memiliki kwalifikasi 7 (tujuh), dan ada sejumlah calon 
untuk itu yang sama-sama memiliki nilai 7 (tujuh), maka adalah wajar 
kalau jabatan tersebut diberikan kepada calon dari golongan 
mayoritas. Seandainya pun calon-calon lain memiliki nilai 8 
(delapan), maka adalah masih wajar kalau jabatan itu diberikan kepada 
calon dari golongan mayoritas yang memiliki nilai 7 (tujuh). Karena 
itu agar jabatan tersebut pasti akan diberikan kepadamu, atau 
masyarakat pasti akan memilihmu, maka kau harus memiliki nilai 9 
(sembilan). Dan nilai extraordinary itu tentu tidak saja mencakup 
keahlian, tapi juga kerendahan hati, kesederhanaan, kerja keras, 
kejujuran dan luasnya pergaulan ...."

Karenanya kalau "obama-obama" kita itu hanya orang rata-rata, dan 
hanya bisa tawuran (seperti yang terjadi hampir setiap hari di depan 
RS Cipto Mangunkusumo), tak usahlah kita menyalahkan masyarakat 
sebagai intoleran dan picik.

Apa yang saya katakan ini berlaku dimana-mana. Dia berlaku di Rusia, 
AS, Mesir, dan--tentu saja--Indonesia. Bacalah sejarah dan cobalah 
cari tahu kwalitas apa yang dimiliki oleh Dr. J. Leimena--misalnya--
sehingga ia bisa menjadi Waperdam dan ketika Presiden Sukarno 
bepergian ke luar negeri ia pernah dipercaya untuk memegang pemangku 
jabatan presiden Republik Indonesia.

Horas

Mula Harahap  

  

Lasma Siregar:

Apakah ada kemungkinan (bagaimana pun kecilnya) buat beliau ini
untuk bisa dicalonkan sebagai Presiden NKRI? Kalian tahu sendiri 
jawabannya kan? Yes, we can (ini wong USA)! Yes, we.... (ini wong 
Indon)!



radhardahana:

persoalan tinggal bagaimana orang muda saat ini mampu meneguhkan 
dirinya, berperan menentukan dalam gerak kita ke depan. tak ada 
jalan lain: peran itu harus direbut, sebagaimana sejarah juga 
mengajarkan. tidak memohon, menuntut, atau berbelas kasihan. 
kapasitas dan kapabilitas yang menentukan. obama, sebagaimana 
pendahulu kita, membuktikan itu. dari posisi yang sangat diremehkan 
ia merebut perhatian dan meraih kekuasaan. karena kapasitas dan 
kapabilitas. selebihnya taktik dan strategi. 

dan di hal terakhir itu, orang muda indonesia memiliki banyak. 
sebagaimana obama pun memilikinya. karena itu, tinggal satu hal: 
orang muda harus bersatu, mengintegrasikan kekuatan. tanpa ambisi 
dan nafsu murahan yang subyektif dan personal dalam menjangkau 
kekuasaan. 


Kirim email ke