Saya sering berkata kepada anak-anak saya: "Kalau ada sebuah jabatan publik yang memiliki kwalifikasi 7 (tujuh), dan ada sejumlah calon untuk itu yang sama-sama memiliki nilai 7 (tujuh), maka adalah wajar kalau jabatan tersebut diberikan kepada calon dari golongan mayoritas. Seandainya pun calon-calon lain memiliki nilai 8 (delapan), maka adalah masih wajar kalau jabatan itu diberikan kepada calon dari golongan mayoritas yang memiliki nilai 7 (tujuh). Karena itu agar jabatan tersebut pasti akan diberikan kepadamu, atau masyarakat pasti akan memilihmu, maka kau harus memiliki nilai 9 (sembilan). Dan nilai extraordinary itu tentu tidak saja mencakup keahlian, tapi juga kerendahan hati, kesederhanaan, kerja keras, kejujuran dan luasnya pergaulan ...."
---------------- Horas lae Mula, Selama nilainya mayoritas dan minoritas sama sama 7, aku mungkin masih setuju pilihan dijatuhkan ke yang mayoritas, tapi begitu nilai yang mayoritas ataupun minoritas sudah terpaut baik itu 0,000000000000001 sekalipun maka menurut aku atas dasar logika sederhana, pilihan akan jatuh kepada yang memiliki nilai diatas itu tanpa melihat apakah dia mayoritas atau minoritas. Aku tetap mengatakan begini, baik ketika aku berada di suatu daerah/tempat/negara jadi mayoritas ataupun ketika aku jadi minoritas. Idealnya menurutku begitu kalaupun kenyataan nya berbeda janganlah seakan akan mencoba memanipulasi arti keadilan dengan cara begini walaupun untuk alasan "survive" ditengah tengah (tekanan) mayoritas. Sebenarnya aku ingin mengajak lae Mula berfikir fikir ulang kembali, jangan menanamkan yang salah kepada anak anak mu nantinya. Coba bayangkan dulu apa yang terjadi sebaliknya (ketika situasinya dibalik), coba tanya sebaliknya, misalkan ketika kamu sekarang yang mayoritas menggunakan cara mu menasehati anak anak mu itu kepada mereka yang minoritas, apakah mereka (misalnya yang tadinya mayoritas jadi minoritas) mau diperlakukan seperti yang kamu nasehati kepada anak anakmu itu. Tentunya juga TIDAK. Lebih jauh lagi, janganlah menanamkan/menasehati anak anak mu memiliki nilai 9 karena kenyataan nya mereka minoritas, tetapi harusnya memang karena memiliki nilai tertinggi adalah tujuan seorang pelajar yang ingin maju, jadi bukan karena alasan/latar belakang minoritas. Seterusnya aku ingin mengatakan sampai sejauh mana sih batasan angka angka lae Mula itu, coba bayangkan lagi ketika mayoritas dan minoritas sama sama memiliki angka 9 atau angka 10, harus sampai angka berapa lagi supaya yang minoritas bisa dipilih memiliki jabatan publik yang lae Mula maksudkan itu. Salam hangat, -aku-
