Horas lagi lae Mula,

Aku menilai (aku rasa kau juga tahu ini)jabatan publik, yang kau tulis 
di emailmu sebelumnya bisa ditentukan oleh keputusan politik dan juga 
keputusan yang bukan politik, tergantung jabatan publik nya apa atau 
yang mana dulu. Jadi seperti contoh jabatan presiden atau menteri 
(jabatan publik) yang ditentukan oleh keputusan politik tapi jabatan 
publik lain yang dibawahnya TIDAK ditentukan oleh keputusan politik. 

Kalaupun jabatan publik yang penilaian nya atas dasar keputusan 
politik seperti maksud dari tulisan/emaimu itu, aku rasa kita semua 
tahu bahwa penilaian politik itu memang begitulah umumnya/hukumnya, 
siapa yang "mayoritas" (baca=pemenang suara terbanyak) dia yang akan 
menang, tak perduli dia berasal dari kaum minoritas sekalipun. Dan 
apabila si minoritas itu bisa menjadi "mayoritas", untuk memenangkan 
suara terbanyak, aku setuju dengan mu kalau dia harus memiliki nilai 
LEBIH dari yang lain nya, tapi INGAT ini berlaku bagi siapa saja, gak 
hanya bagi si-minoritas saja tapi juga kepada si-mayoritas, sekali 
lagi kepada siapa saja. 

Jadi sekali lagi cobalah berfikir ulang kembali untuk menasehati anak-
anak mu karena kekhawatiran aku adalah ketika mereka beranjak dewasa 
dan punya kesempatan jadi pemimpin untuk memberikan jabatan publik 
ataupun bukan kepada orang lain yang penentuan nya bukan karena 
didasari oleh keputusan politik, dan pada saat yang sama mereka  
berada ditempat/negara berbeda dimana mereka adalah si-mayoritas itu, 
nantinya mereka akan memberlakukan hal yang sama seperti yang kau 
tanamkan kepada mereka dari mereka masih kecil. 

Aku merasa kalau bukan seperti ini yang kau inginkan nantinya.


Salam hangat,

-aku- 


--- In [email protected], "Mula Harahap" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Diskusi kita adalah di seputar fenomena terpilihnya Obama sebagai 
> Presiden. Karena itu saya berbicara tentang jabatan publik (baca 
> postingan saya baik-baik) yang penempatannya didasarkan oleh faktor 
> politik. Saya bukan bicara tentang karir di birokrasi atau militer. 
> 
> Kalau untuk itu tentu saja semua warganegara harus memiliki hak dan 
> kesempatan yang sama.
> 
> Mula Harahap
> 
>  
> 
> roy_marto:
> 
> Selama nilainya mayoritas dan minoritas sama sama 7, aku mungkin 
masih
> setuju pilihan dijatuhkan ke yang mayoritas, tapi begitu nilai yang
> mayoritas ataupun minoritas sudah terpaut baik itu 0,000000000000001
> sekalipun maka menurut aku atas dasar logika sederhana, pilihan 
> akanjatuh kepada yang memiliki nilai diatas itu tanpa melihat apakah 
> dia mayoritas atau minoritas.
>



Kirim email ke