Saya sih melihat Obama terpilih menjadi Presiden, dia yang berasal dari golongan minoritas hendaknya lebih memperhatikan:
1. Banyak orang-orang Indian yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, dan tinggal di daerah pedesaan dan di rumah gubuk, serta tertinggal dari segi pendidikan. 2. Persamaan hak memang sudah menjadi UU, tetapi masih banyak keturunan Afrikan-American yang miskin, tidak mampu menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Salah satu barometer banyaknya kelompok ini hidup miskin dan kurang mendapat kesempatan berpendidikan adalah sebagian besar yang masuk penjaran adalah kelompok ini, karena miskin dan kurang berpendidikan, maka mereka lari ke dunia hitam. 3. Jadi, anggota Kongres AS, jangan menyoroti saja masalah Papua, masalah dalam negeri saja belum beres. 4. Dalam beberapa kali saya keliling di lebih 10 negara bagian AS, terutama di daerah pedesaannya, selain fakta ilmiah, juga saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, fakta-fakta di atas. 5. Semoga, terpilihnya Obama, masalah di atas bisa dibenahi, selain membantu penduduk miskin di negara lain, dengan menghapus, atau memberi keringanan atas pengembalian pinjaman, atau potongan pinjaman. Salam saya, Muhammad Jusuf Senior Editor BusinessWeek Villa Pertiwi Blok OI No.17 Jl.Raya Bogor Km 37 Depok, West Java 16415 Indonesia Phone: (62-21) 8750745 Mobile: 6281586626439 Email: [EMAIL PROTECTED] http://economicsyariah-freejournalismcourses.blogspot.com/ http://sexeducationinsyariah.blogspot.com/ yusuf riyanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dear Temans FPK   Mohon maaf, wah ini paragraph dan Alignment nya hilang ya..:-)  Semoga tidak membuat teman-teman pusing dalam membacanya ya....  Salam, Yusuf Senopati Riyanto --- On Sun, 11/9/08, yusuf riyanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: yusuf riyanto <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kejutan Obama: Kita Lebih Bisa To: [email protected] Date: Sunday, November 9, 2008, 11:09 PM Apa Iya Jalan Masih Panjang ? Obama Menang, Barrack jadi Presiden ke 44 United State Of America. �Komentar serta euphoria semacam inilah yang beberapa hari belakangan ramai di dengung-dengungkan. Mulai dari anak-anak sekolah dasar hingga mereka yang disebut sebagai tokoh Nasional. Fenomena ini sungguh ironis, hanya karena seorang Obama pernah mengenyam pendidikan di Indonesia, dapat menciptakan publik terbius, larut dan seolah-olah bagian dari masyarakat yang menjadi Pemilih tetap negeri Paman Sam tersebut. Ironis dikarenakan sepuluh tahun perjalanan proses yang kita sebut Reformasi ternyata berjalan tidak mempunyai struktur, bentuk yang jelas. Demikian juga 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang kita rasakan adalah adanya kemunduran bangsa ini di beberapa sektor. Gizi buruk misalnya. Tetapi kita tidak boleh melihat sebelah mata, tidak semua persoalan di negeri ini berantakan dan luluh lantah. Kita lihat sepak terjang beberapa lembaga Pemerintahan yang dapat diacungkan jempol, Restrukturisasi di tubuh, badan Yudikatif kita , serta masih banyak hal positif lainnya yang telah di perbuat oleh Pemerintah , serta berbagai komponen masyarakat. Pemerintah tidak mungkin dapat melaksanakan seluruh tugasnya sendirian tanpa adanya peran serta masyarakat. Diantara teman ngobrol, diskusi, apa iya ?, sampai terjadi obrolan bahwa 70 % orang Indonesia mendukung Obama dan hanya 30% yang mendukung SBY. Ini bagian ironis diatas yang telah kita sebutkan. Dimana saat perkembangan bangsa ini masih �abu-abu� arahnya, kita,hampir seluruh masyarakat Indonesia merasa terlibat langsung dalam Pemilu Presiden Amerika Serikat. Suatu fenomena serius yang mungkin dapat menjadi renungan bagi kita bersama untuk bagaimana menyikapi fenomena tersebut. Kenapa.? Karena banyak hal yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi perkembangan bangsa ini kedepan. Antara lain adalah ketika Presiden terpilih diumumkan berdasarkan electoral college� maka secara spontan kandidat yang kalah memberikan selamat kepada Pemenang. Demikian juga Presiden Incumben memberikan selamat termasuk para mantan Pemimpin negeri Paman Sam tersebut. Bagaimana dengan di kita.? Saat perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus misalnya. Coba kita lihat di jajaran depan tamu undangan. Apa ada para mantan Presiden kita..?� Kemudian, mau menjadi Pendengar yang baik dengan bersedia mengakui bahwa di setiap kegiatan sosial kemasyarakatan akan selalu �Ada Langit diatas langit�. Pemahaman ini dalam konteks mau mendengarkan adalah : menyatukan Ego dari berbagai Komponen Bangsa ini Bersepakat untuk Sepakat demi Perbaikan Bangsa kedepannya bukan kepentingan pribadi. Kenapa susah? Ada Apa?. Ini berlaku bagi semua komponen Tua Muda, tokoh non tokoh mari kita satukan ego untuk kepentingan bangsa. Berpikir Positif� Berkarya Positif. Keberhasilan itu akan tercapai apabila konsisten dan komitmen dari berbagai komponen bangsa, masyarakat untuk berbagai bidang termasuk pendidikan politik, pendidikan character building. Melalui pendidikan politik yang sehat kita berharap akan terbentuk loyalitas serta militansi nasionalisme pemimpin eksekutif,legislatif dan diimbangi oleh loyalitas kepada visi, misi , program sosial kemasyarakatan sesuai dengan konstitusi mekanisme yang demokratis. Bukan menciptakan �Masyarakat Instan serta konsumtif materialistis�, �Aji Mumpung�. Bukankah lebih baik sedikit berbeda daripada tidak sama sekali ?. Mungkin Partai Politik kita harus mampu menunjukan perbedaannya, walaupun cuma sedikit, dari dan untuk Masyarakat. Kembali dari euforia Barrack Obama Kepada proses Pemilu yang hanya tinggal hitungan bulan.� Partisipasi kita dalam Pemilu sangat mempengaruhi perjalanan waktu kita, bangsa ini kedepannya. Untuk menentukan pilihan kita. Akan bijak apabila kita dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden , kita sama fokus dan gegap gempitanya seperti saat kita larut hanyut dalam Pemilu Presiden Amerika Serikat. Apa kita tidak bisa..?.. Kita memiliki Penduduk lebih dari 200 juta jiwa dan luar biasa 40 Partai Politik, semuanya Anak Bangsa dan Warga Negara Indonesia Calon Legislatifnya, Calon Presidennya. Banyak Barrack Obama di Indonesia. Kita buat efek bola salju untuk menyatukan Ego, Tua, Muda, tokoh non tokoh semua komponen bangsa untuk perbaikan Bangsa, kebersamaan . Cara yang sesuai dengan konstitusi adalah Pemilu, ini saatnya. Untuk Kaderisasi Pemimpin Bangsa. Kita melebur menyatu bersama agar Pemilu jangan sampai tak lebih hanya ritual demokrasi prosedural yang boros dan tak berarti. Kita butuh waktu cepat. Hasil yang kita harapkan melalui proses mekanisme Transisi, Reformasi bukan secara instant, untuk menghasilkan politisi yang lebih berbobot dan bermoral mengabdi kepentingan masyarakat, bangsa. Hasil kaderisasi mencakup pendidikan mental. Agar hubungan dengan masyarakat lebih bermoral, �Jangan ada dusta diantara kita�. �Berpikir Positif Berkarya Positif Yusuf Senopati Riyanto [Non-text portions of this message have been removed]
