nggak juga seh mang. perspektifnya aja yg harus diperbaiki. pengampunan, empati atau apalah masalah gampang itu. artinya suatu aksi haruslah ada penjelasan logisnya. klo segala sesuatu yg muncul musti kalimat ; ya..sudahlah..... nggak apa2lah....., biarkanlah.....etc. taruh di mana akal sehat ini. mungkin dari situlah endemi amnesia kita sebenarnya berawal. krn selalu menafikan logika akal sehat. lihat kalimat terakhir mang iyus " biarlah yg maha adil........." seperti kalimat pengikut nihilisme. yg diatas itu pengadilan yg seadil-adilnya, percaya itu. tapi yg di bawah ini, manusia2 ini hrs berusaha menegakkan keadilan bagi sesama manusia. semampu kita. tdk maen sodor ama yg dilangit sono.
----- Original Message ----- From: "Juswan" <[EMAIL PROTECTED]> To: "FPK Kompas" <[email protected]> Sent: Friday, November 21, 2008 19:54 Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Ke Mana Energi Bangsa [khususnya,generasi muda] Mau Diarahkan.. >> >>> Koreksi dikit:... mungkin bukan "balas dendam"... tetapi belum bisa >>> >>> mengampuni [karena menilai gak pantes diampuni, barangkali...] >>> >>> "Mengampuni" artinya melepaakan total... memang sukar >>> sekali... apalagi bagi para korbannya... Jadi kalau putrinya >>> Jenderal Ahmad Yani bisa mengampuni, maka artinya ya tidak >>> mendendam lagi... "closing the past window"... Kalau beliau >>> bisa masakan yang "bukan korban langsung" gak bisa [mau]... >>> >>> Tidak adil? Biarlah Yang Mahaadil yang mengadili tuntas...! >>> Pasti tuntas, kalau gak di sini/sekarang, pasti di akhirat...! >>> >>> Mang Iyus
