Saya kira dalam hal ini kita tidak dalam posisi membetulkan dan
menyalahkan keberatan atau kesetujuan orang. Kita hanya mau tukar
fikiran dan pengalaman serta menuangkan kesulitan masing-masing dengan
perubahan jadwal ini supaya bisa saling paham. Ada baiknya berbagai
pendapat dituangkan supaya bisa dirangkum secara lengkap untuk masukan
sebelum yang berkuasa mengambil keputusan. Kalau memang terbukti
sangat banyak yang keberatan atas berbagai alasan yang memang bisa
dipahami kenapa juga harus dipaksakan diubah walau niatnya ide itu
murni untuk mencari solusi terbaik.

Saya sekarang baru paham mengapa di Malaysia dan singapura orang lebih
memilih time zone negaranya diubah  dipercepat satu jam. Jadi kalau di
Jakarta jam 7 pagi maka di singapura dan Malaysia waktunya sudah
menunjukkan pukul 8 pagi. Alhasil walau di Singapura dan Malaysia
banyak anak sekolah yang masuk pukul 7.20 pagi tapi sebetulnya di
Jakarta masih pukul 6.20 pagi dan anak-anak di negara itu sudah mulai
beredar menuju ke sekolah dikala matahari belum muncul! Nah dengan
trik macam ini maka seolah-olah mereka masuk sekolah jam 7.20 padahal
suasananya persis masih pagi buta macam di Indonesia. Memang secara
psikologis sangat manusiawi kalau angka jam itu mempengaruhi kebiasaan
hidup.

Tapi seperti saya bilang tadi, kebiasaan orang berlainan dan
tantanganpun berbeda-beda sehingga kita perlu melihat apa yang terbaik
untuk keadaan kita. Yang untuk orang lain bagus belum tentu untuk kita
bagus mungkin.
SH


On 11/25/08, EKO KERTAJAYA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> pak sulaeman betul, namun bukan itu esensinya.
> topik ini terkait dng masalah transportasi di jakarta.
> penanganan yg dilakukan pemda selalu partial.
> tdk menyelesaikan  akar permasalahan yg sesungguhnya.
> beberapa pihak tersinggung dijadikan kelinci percobaan.
> dan kentara sekali melindungi pihak lain.
> shg jika protes dilakukan sangat masuk akal.

Kirim email ke