Ya memang akhirnya tergantung cara Golkar melihat penyebab kegagalannya, apakah 
karena "merapat" ke partai pemenang atau Kasus Lapindo yang tidak kunjung usai.
 
Koalisi antara PD dan Golkar selama th. 2004 - 2009, sebetulnya sangat 
menguntungkan PD dan SBY karena yang bekerja keras adalah mentri - mentri dari 
Golkar dan JK banyak menyelamatkan SBY dalam mengatasi berbagai masalah kritis 
dan mendesak, sehingga banyak yang bertanya: Presidennya itu SBY atau JK sih?.
Jadi sebetulnya Golkar lah yang telah berjasa membesarkan PD.
 
Kelemahan Poros Tengah (maksudnya partai - partai Islam), mereka itu agendanya 
berbeda satu sama lain sehingga cenderung tidak bisa kompak.
Jika SBY berkoalisi dengan Poros Tengah, bila SBY tidak pandai dalam 
mendamaikan perbedaan kepentingan diantara mereka, ada resiko pemerintahan SBY 
tidak akan efektif, apalagi bila jumlah dukungan di DPR kurang dari 50 %, bisa 
tambah runyam.
 
Jadi sebetulnya kalau PD berkoalisi dengan Golkar + 1 Partai Islam (bisa PKS), 
justru sangat menguntungkan PD dan SBY karena:
1. Dukungan di DPR bisa > dari 50 %, sehingga DPR mudah dijinakkan.
2. Golkar memiliki banyak tenaga yang piawai untuk mengurus pemerintah dan 
debat di DPR dibandingkan PD yang terlihat lemah dalam hal tersebut.
3. Mengurus orang Golkar jauh lebih mudah dibandingkan mengurus Poros Tengah, 
karena orientasi Golkar cederung condong ke Kuasaan.
Selama imbalannya cocok, Golkar bersedia melakukan apapun yang diminta.
 
Salam,
 
Adyanto Aditomo

--- Pada Ming, 12/4/09, halim hd <[email protected]> menulis:


Dari: halim hd <[email protected]>
Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Demokrat Mulai Membuka Koalisi
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 12 April, 2009, 10:37 AM








merosotnya golkar bukan karena koalisi dengan partai demokrat! golkar ambrool, 
karena figur jk yang nampaknya tidak populer dibandingkan dengan sby. menarik 
pendapat kaum ibu di sekitar wilayah solo, dalam obrolan, mereka tertarik 
kepada sby, yang katanya lemah lemebut. dan rasanya suara perempuan lebih pasti 
ketimbang suara laki-laki.
sisi lainnya, kasus lapindo sepanjang 2 taon terakhir ini identik bukan hanya 
dengan aburizal, tapi juga dengan golkar.
dan sekarang sby kian percaya diri, karena partainya tertringgi, dan dengan 
berusaha berkoalisi dengan PKS, maka sangat mungkin sby bisa mengatur, 
ketimbangd engan golkara yang terlalu banyak permintaan. ditambah dengan 
koalisi pkb-muhaimin, lebih gampang lagi, partai hiasaan ini, kemana arah sby 
disitulah dia akan menguikutinya. muhaimin tergantung kepada sby, dan bakalan 
cuma dapat kursi, paling-paling menteri agama. ppp juga  rasanya lebih 
cenderung kepada sby, kecuali mega kasih tawaran lebih banyak kursi.
maka isu tentang nasionalis-agama, yang paling riil adalah sby dengan partai 
demokrat ketimbang mega dengan pdip dan partai islam lainnya. dan partai 
kristen juga, lebih dekat dengan sby; sebab s elama ini eleite kristen merasa 
kurang ditampung oleh mega dan pdip.
hhd.

--- On Sat, 4/11/09, Adyanto Aditomo <adyantoaditomo@ yahoo.co. id> wrote:

From: Adyanto Aditomo <adyantoaditomo@ yahoo.co. id>
Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Re: Demokrat Mulai Membuka Koalisi
To: Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, April 11, 2009, 9:39 AM

Kalau PD berkoalisi dengan Golkar, untuk jangka pendek mungkin akan 
menguntungkan Golkar karena Golkar bisa mendapatkan jatah Wakil Presiden serta 
sekitar 50 % kursi di Kabinet (dengan asumsi SBY menang dalam Pilpres 2009).

Tetapi berdasarkan pengalaman selama ini, ternyata koalisi tersebut dalam 
jangka panjang merugikan Golkar.

Jika Pemerintah berhasil, maka yang dapat nama adalah PD dan bukan Golkar.

Jika pemerintahan gagal, pasti Golkar ikut kena dampaknya.

Dari hasil Pemilu 2009 ini, perolehan Golkar turun sekitar 7 %.

Jika Golkar berkoalisi dengan PD pada pemerintahan 2009 - 2014 (ini diasumsikan 
SBY menang dalam Pilpres), dikhawatirkan perolehan suara Golkar akan hancur 
lebur, terlepas apakah pemerintahan berhasi atau gagal.

Jadi kalau Golkar tetap ingin menjadi partai besar pada Pemilu 2014, Golkar 
harus menjadi oposisi atau menjadi Partai Pemerintah dimana presidennya dari 
Golkar.

Soal kekalahan PDIP yang beroposisi dalam Pileg 2009 ini, itu lebih karena 
faktor nasib baik.

Dari hasil berbagai jajak pendapat, jika Pemilu diselenggarakan pada 
pertengahan 2008 dimana harga BBM naik cukup drastis, kemungkinan besar PDIP 
yang akan memenangkan Pemilu.

Tetapi karena Pemilu diadakan setelah harga BBM turun drastis dan SBY mampu 
memperbaiki kelemahannya dimasa lalu, maka menjadi sangat logis kalau kemudian 
PD berhasil memenangkan Pileg 2009.

Jadi keputusan akhir ada di JK:

Bila Golkar merapat ke PD dan mendapatkan bagian dari "kue kekuasaan", di 
pemilu 2014 (dengan asumsi SBY menang dalam Pilpres 2009), Golkar berpotensi 
akan hancur dan hanya akan menjadi partai menengah saja.

Bila merapat ke PDIP sebagai Partai Oposisi (dengan asumsi Megawati kalah dalam 
Pilpres 2009), Golkar akan tetap menjadi Partai Besar setelah pemilu 2014.

Tetapi jika ternyata Megawati menang dalam Pilpres 2009 dan JK menjadi Wapres, 
nasib Golkar tetap akan tetap sama dibandingkan jika merapat ke PD pada Pemilu 
2014: berpotensi hancur dan hanya menjadi Partai menengah saja.

Jadi akhirnya pilihan terserah ke Golkar.

Salam,

Adyanto Aditomo



Kirim email ke