merosotnya golkar bukan karena koalisi dengan partai demokrat! golkar ambrool, karena figur jk yang nampaknya tidak populer dibandingkan dengan sby. menarik pendapat kaum ibu di sekitar wilayah solo, dalam obrolan, mereka tertarik kepada sby, yang katanya lemah lemebut. dan rasanya suara perempuan lebih pasti ketimbang suara laki-laki. sisi lainnya, kasus lapindo sepanjang 2 taon terakhir ini identik bukan hanya dengan aburizal, tapi juga dengan golkar. dan sekarang sby kian percaya diri, karena partainya tertringgi, dan dengan berusaha berkoalisi dengan PKS, maka sangat mungkin sby bisa mengatur, ketimbangd engan golkara yang terlalu banyak permintaan. ditambah dengan koalisi pkb-muhaimin, lebih gampang lagi, partai hiasaan ini, kemana arah sby disitulah dia akan menguikutinya. muhaimin tergantung kepada sby, dan bakalan cuma dapat kursi, paling-paling menteri agama. ppp juga rasanya lebih cenderung kepada sby, kecuali mega kasih tawaran lebih banyak kursi. maka isu tentang nasionalis-agama, yang paling riil adalah sby dengan partai demokrat ketimbang mega dengan pdip dan partai islam lainnya. dan partai kristen juga, lebih dekat dengan sby; sebab s elama ini eleite kristen merasa kurang ditampung oleh mega dan pdip. hhd.
--- On Sat, 4/11/09, Adyanto Aditomo <[email protected]> wrote: From: Adyanto Aditomo <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Demokrat Mulai Membuka Koalisi To: [email protected] Date: Saturday, April 11, 2009, 9:39 AM Kalau PD berkoalisi dengan Golkar, untuk jangka pendek mungkin akan menguntungkan Golkar karena Golkar bisa mendapatkan jatah Wakil Presiden serta sekitar 50 % kursi di Kabinet (dengan asumsi SBY menang dalam Pilpres 2009). Tetapi berdasarkan pengalaman selama ini, ternyata koalisi tersebut dalam jangka panjang merugikan Golkar. Jika Pemerintah berhasil, maka yang dapat nama adalah PD dan bukan Golkar. Jika pemerintahan gagal, pasti Golkar ikut kena dampaknya. Dari hasil Pemilu 2009 ini, perolehan Golkar turun sekitar 7 %. Jika Golkar berkoalisi dengan PD pada pemerintahan 2009 - 2014 (ini diasumsikan SBY menang dalam Pilpres), dikhawatirkan perolehan suara Golkar akan hancur lebur, terlepas apakah pemerintahan berhasi atau gagal. Jadi kalau Golkar tetap ingin menjadi partai besar pada Pemilu 2014, Golkar harus menjadi oposisi atau menjadi Partai Pemerintah dimana presidennya dari Golkar. Soal kekalahan PDIP yang beroposisi dalam Pileg 2009 ini, itu lebih karena faktor nasib baik. Dari hasil berbagai jajak pendapat, jika Pemilu diselenggarakan pada pertengahan 2008 dimana harga BBM naik cukup drastis, kemungkinan besar PDIP yang akan memenangkan Pemilu. Tetapi karena Pemilu diadakan setelah harga BBM turun drastis dan SBY mampu memperbaiki kelemahannya dimasa lalu, maka menjadi sangat logis kalau kemudian PD berhasil memenangkan Pileg 2009. Jadi keputusan akhir ada di JK: Bila Golkar merapat ke PD dan mendapatkan bagian dari "kue kekuasaan", di pemilu 2014 (dengan asumsi SBY menang dalam Pilpres 2009), Golkar berpotensi akan hancur dan hanya akan menjadi partai menengah saja. Bila merapat ke PDIP sebagai Partai Oposisi (dengan asumsi Megawati kalah dalam Pilpres 2009), Golkar akan tetap menjadi Partai Besar setelah pemilu 2014. Tetapi jika ternyata Megawati menang dalam Pilpres 2009 dan JK menjadi Wapres, nasib Golkar tetap akan tetap sama dibandingkan jika merapat ke PD pada Pemilu 2014: berpotensi hancur dan hanya menjadi Partai menengah saja. Jadi akhirnya pilihan terserah ke Golkar. Salam, Adyanto Aditomo
