Kalau PD berkoalisi dengan Golkar, untuk jangka pendek mungkin akan menguntungkan Golkar karena Golkar bisa mendapatkan jatah Wakil Presiden serta sekitar 50 % kursi di Kabinet (dengan asumsi SBY menang dalam Pilpres 2009).
Tetapi berdasarkan pengalaman selama ini, ternyata koalisi tersebut dalam jangka panjang merugikan Golkar. Jika Pemerintah berhasil, maka yang dapat nama adalah PD dan bukan Golkar. Jika pemerintahan gagal, pasti Golkar ikut kena dampaknya. Dari hasil Pemilu 2009 ini, perolehan Golkar turun sekitar 7 %. Jika Golkar berkoalisi dengan PD pada pemerintahan 2009 - 2014 (ini diasumsikan SBY menang dalam Pilpres), dikhawatirkan perolehan suara Golkar akan hancur lebur, terlepas apakah pemerintahan berhasi atau gagal. Jadi kalau Golkar tetap ingin menjadi partai besar pada Pemilu 2014, Golkar harus menjadi oposisi atau menjadi Partai Pemerintah dimana presidennya dari Golkar. Soal kekalahan PDIP yang beroposisi dalam Pileg 2009 ini, itu lebih karena faktor nasib baik. Dari hasil berbagai jajak pendapat, jika Pemilu diselenggarakan pada pertengahan 2008 dimana harga BBM naik cukup drastis, kemungkinan besar PDIP yang akan memenangkan Pemilu. Tetapi karena Pemilu diadakan setelah harga BBM turun drastis dan SBY mampu memperbaiki kelemahannya dimasa lalu, maka menjadi sangat logis kalau kemudian PD berhasil memenangkan Pileg 2009. Jadi keputusan akhir ada di JK: Bila Golkar merapat ke PD dan mendapatkan bagian dari "kue kekuasaan", di pemilu 2014 (dengan asumsi SBY menang dalam Pilpres 2009), Golkar berpotensi akan hancur dan hanya akan menjadi partai menengah saja. Bila merapat ke PDIP sebagai Partai Oposisi (dengan asumsi Megawati kalah dalam Pilpres 2009), Golkar akan tetap menjadi Partai Besar setelah pemilu 2014. Tetapi jika ternyata Megawati menang dalam Pilpres 2009 dan JK menjadi Wapres, nasib Golkar tetap akan tetap sama dibandingkan jika merapat ke PD pada Pemilu 2014: berpotensi hancur dan hanya menjadi Partai menengah saja. Jadi akhirnya pilihan terserah ke Golkar. Salam, Adyanto Aditomo --- Pada Jum, 10/4/09, adi sasongko <[email protected]> menulis: Dari: adi sasongko <[email protected]> Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Demokrat Mulai Membuka Koalisi Kepada: [email protected] Tanggal: Jumat, 10 April, 2009, 2:14 PM Dengan suara paling tinggi Demokrat semakin dilirik oleh partai2 lain. Terlihat jelas sekali manuver politik PKS yang getol mengompori supaya Demokrat tidak berkoalisi dengan Golkar. Dalam berbagai kesempatan Sekjen PKS senang sekali mengulang-ulang bahwa JK tidak mau berduet kembali dengan SBY karena ini merupakan sebuah tindakan siri. Memang jika SBY tidak lagi berduet dengan JK maka artinya PKS menjadi potential partner bagi Demokrat. Sementara jika SBY tetap berduet dengan JK maka kedua partai ini sudah bisa menguasai lebih dari 50% kursi DPR. Dan ini artinya tidak perlu berkoalisi dengan PKS. Kalau PKS tidak masuk ruling parties, maka dia akan kehilangan sejumlah kursi menteri yang pernah menjadi jatahnya. Kita lihat saja apakah PKS memang konsisten sebagai partai dakwah atau memang menjadi semakin pragmatis berebut kekuasaan dan memanfaatkan dakwah hanya sebagai alasan mengejar kekuasaan... ... Adi Sasongko
