Pak Sulaeman,

Masalahnya sih sebenarnya sederhana saja, sebutan "cina" di Indonesia itu penuh 
dengan muatan politis. Kenapa? Karena, kata "cina" tsb dipakai untuk "menghukum 
dan melecehkan" etnis Tionghoa di Indonesia. Mana ada nama-nama negara, suku, 
dan bangsa yang disebutkan secara khusus dalam surat edaran presiden, selain 
kata "Cina?"

Kalau soal ganti nama spt yg Bapak tulis di sini, mungkin pertanyaan ini 
ditanyakan kepada Mantan Presdien Soehrato yg membuat surat edaran thn 1967 
itu, kenapa nama Tionghoa yang sudh lazim dipakai dalam bahasa indonesia pada 
saat itu diganti dengan "Cina?"

Kata "China" (bhs Inggris) akhirnya dipakai sebagai kompromi pada waktu 
pemulihan hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Indonesia, karena pemerintah 
Indonesia saat itu (Presiden Soeharto) tidak mau mencabut surat edaran tahun 
1967 ttg pergantian nama "tionghoa" menjadi "cina." Dan pemerintah Tiongkok 
berkebratan dengan kata "cina" dalam konteks Indonesia.

Seperti yang sudah saya tulis, di Malaysia, kata "Cina" sama sekali tidak 
mempunyai konotasi negatif seperti di Indonesia. Jadi di sana sama sekali tidak 
masalah. Lain halnya dengan di Indonesia.

Sama halnya dengan kata "Indon," di Malaysia dan juga di Singapira, orang 
sering menggunakan kata "Indon." spt yang dikatakan oleh PM Malaysia, Najib, 
kata itu tidak bermakna apa-apa di Malaysia, tapi kita yang merasa kata tsb 
menyinggung.

Kalau kemudian orang Malaysia yang kebetulan keturunan Indonesia mengikuti 
opini yang ada di Indonesia, yaitu dengan menghindari pemakaian kata "Indon" 
dan memakai kata "Indo," kita tentu senang.

Soal pertanyaan ttg loyalitas orang Tionghoa di Indonesia, yang bapak tulis di 
bawah ini, rasanya sama sekali tidak tepat dan menyinggung perasaan.

Saya bisa merasakan hal ini, meskipun saya adalah etnis Jawa. akhir tahun 
90-an, ketika ada orang keturunan Jawa di Suriname yang ke Jogja, kami sebagai 
sesama etnis Jawa merasa senang sekali, apalagi ketika saya tahu bahwa orang 
tsb masih bisa berbahasa Jawa dengan cukup baik, tetapi tidak bisa berbahasa 
Indonesia. Saya merasa bangga sekali bahwa saudara satu suku saya masih 
"nguri-uri" budaya nenek moyang.

Tetapi ketika hal saya sampaikan kepada salah seorang teman baik saya yang 
kebetulan keturuan Tionghoa, dia merasa ada sesuatu yang tidak betul, Dia 
bilang "ora bener." Apa yang "ora bener?" Jawabannya begitu menyentuh saya, dia 
bilang, Orang Etnis Jawa di Suriname yang bisa berbahasa Jawa disambut dengan 
baik, dan dipuji-puji sebagai orang yang "nguri-uri" budaya leluhur, memelihara 
budaya leluhur, dan dianggap sebagai orang yang baik. Tetapi sebaliknya, kalau 
ada orang Tionghoa di Indonesia yang juga "nguri-uri" budaya leluhur merekea, 
yaitu budaya Tionghoa, mereka malah diragukan loyalitasnya.

Saya jadi terdiam, dan saya bisa merasakan ketidakadilan dalm hal itu. Sejak 
saat itulah saya berusaha mempelajari bahasa dan budaya Tionghoa. Ternyata ada 
banyak hal dalam budaya Tionghoa yang tidak kita ketahui. Dan ketika saya 
mempelajari sejarah orang Tionghoa di Indonesia, dna membandingkannya dengan 
pengalaman-pengalaman mereka di sini, semakin saya merasakan pengalaman getir 
mereka. Oleh karenanya saya berusaha sedapat mungkin untuk socially correct, 
meskipun kadang-kadang saya "keprucut" menggunakan kata "Cina" ketika berbicara.

Kembali ke soal kata "cina" dan "tionghoa," masalahnya bukan sekedar mengiktui 
instruksi pimpinan RRT, Pak. Tapi kata "cina" dalam konteks Indonesia itu punay 
konotasi negatif. Itulah yang menjadi keberatan.

Bapak Hasan menginformasikan bahwa Koran Jawa Pos menggunakan kata Tiongkok, 
dan itu tidak menjadi masalah. jadi kenapa sih, kita bersikeras meyebut orang 
dengan sebutan yang tidak mereka sukai. Bukankah lebih baik jika kita 
menyebutnay dengan sebutan yang mereka inginkan, sama seperti kita yang tidak 
mau disebut "indon." Jika ingin meyingkat "indonesia" kita ingin disebut 
"indo." Dan kita pun berharap bahwa penduduk di negeri jiran kita mengganti 
sebutan "indon" dengan "indo."

Andreas.





--- In [email protected], "Sulaeman_H." <sulaem...@...> 
wrote:
>
> Kalau mau ganti nama jadi China (baca Chaina) ya supaya efektif mesti
> ditulis Chaina atau Caina dalam bahasa Indonesia. Sebab lidah sebagian
> besar rakyat Indonesia tidak akan bisa membedakan antara pembacaan
> kata China dengan Cina. Yang lebih konyol lagi toh perbedaan dua kata
> itu hanya sedikit saja sehingga nyaris tidak nampak bedanya.
> Kedua alasan penyebutan istilah China sebaiknya jangan
> disangkut-pautkan dengan nama negara RRC. Sebab orang Cina warga
> Indonesia itu bukan warga negara RRC dan tidak punya kewajiban
> mengikut telunjuk atau instruksi pemimpin RRC. Jadi istilah "ganti
> nama /ganti ejaan" karena negara RRC ganti nama/ejaan  itu tidak
> relevan dan malah bisa memperkuat persepsi salah orang Indonesia bahwa
> bangsa Indonesia keturunan Cina memang separo hatinya masih berpijak
> dinegeri leluhurnya sepertinya menganut dua kewarganegaraan secara
> informal. Kalau RRC ganti nama jadi ABC tidak mungkin orang Cina
> Indonesia ikut ganti nama jadi orang ABC juga.
> SH

Kirim email ke