Seperti saya bilang kalau mau ganti nama jadi China, sebaiknya supaya
efektif ditulis Chaina atau Caina karena kalau ditulis China maka
dibacanya Cina juga oleh orang Indonesia. Kedua, kalau mau ganti nama
sebaiknya difikir dan dimatangkan dulu secara internal. Sebab dulu
banyak yang mau menggantinya dengan kata Tionghoa dan sekarang
berganti dengan kata China. Lantas yang mana yang mau dipakai? Bagi
saya mungkin kata Tionghoa lebih baik sebab tidak terlalu mirip dengan
kata Cina. kalau kata China masih terlalu dekat dengan kata Cina,
ibarat kata Indon diganti Indhon. Tapi belakangan kata Tionghoa ada
yang keberatan memakainya karena arti..

Mengenai hubungan budaya dengan leluhur dan hubungan politik itu
sama-sekali lain dan harus dipisahkan. Orang yang satu leluhur bisa
saja punya hubungan batin walau berbeda benua dan warga-negara. Tapi
kalau menyentuh urususan politik negara masing-masing tidak bisa
pemerintah bangsa lain (walau ada hubungan darah/ ras) memposisikan
diri menjadi dubes atau jubir dari masyarakat yang bukan
warga-negaranya, kecuali diminta atas persepahaman bilateral. Sebab
itu saya mengatakan dalam urusan ganti nama jangan sekali-kali
menyangkut-pautkan hal itu dengan RRC supaya tidak menambah
permasalahan  politis yang tidak semestinya ada dalam kasus ganti
nama.

Pandangan orang Indonesia sekarang tentang orang Cina dan negara RRC
sudah banyak berubah dan terus berubah sejalan dengan iklim demokrasi,
kemajemukan dan keterbukaan. Kian hari kian banyak orang Indonesia
yang memuji kemajuan bangsa Cina baik yang di RRC dan di dunia. Orang
semakin banyak membaca sejarah Cina dari jaman peradaban kuno sampai
kini maka biasanya orang itu semakin terkagum-kagum dengan peradaban
Cina.
SH

On 5/27/09, [email protected] <[email protected]> wrote:
> Pak Sulaeman,
>
> Masalahnya sih sebenarnya sederhana saja, sebutan "cina" di Indonesia itu
> penuh dengan muatan politis. Kenapa? Karena, kata "cina" tsb dipakai untuk
> "menghukum dan melecehkan" etnis Tionghoa di Indonesia. Mana ada nama-nama
> negara, suku, dan bangsa yang disebutkan secara khusus dalam surat edaran
> presiden, selain kata "Cina?"
>
> Kalau soal ganti nama spt yg Bapak tulis di sini, mungkin pertanyaan ini
> ditanyakan kepada Mantan Presdien Soehrato yg membuat surat edaran thn 1967
> itu, kenapa nama Tionghoa yang sudh lazim dipakai dalam bahasa indonesia
> pada saat itu diganti dengan "Cina?"
>
> Kata "China" (bhs Inggris) akhirnya dipakai sebagai kompromi pada waktu
> pemulihan hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Indonesia, karena
> pemerintah Indonesia saat itu (Presiden Soeharto) tidak mau mencabut surat
> edaran tahun 1967 ttg pergantian nama "tionghoa" menjadi "cina." Dan
> pemerintah Tiongkok berkebratan dengan kata "cina" dalam konteks Indonesia.
>
> Seperti yang sudah saya tulis, di Malaysia, kata "Cina" sama sekali tidak
> mempunyai konotasi negatif seperti di Indonesia. Jadi di sana sama sekali
> tidak masalah. Lain halnya dengan di Indonesia.
>
> Sama halnya dengan kata "Indon," di Malaysia dan juga di Singapira, orang
> sering menggunakan kata "Indon." spt yang dikatakan oleh PM Malaysia, Najib,
> kata itu tidak bermakna apa-apa di Malaysia, tapi kita yang merasa kata tsb
> menyinggung.
>
> Kalau kemudian orang Malaysia yang kebetulan keturunan Indonesia mengikuti
> opini yang ada di Indonesia, yaitu dengan menghindari pemakaian kata "Indon"
> dan memakai kata "Indo," kita tentu senang.
>
> Soal pertanyaan ttg loyalitas orang Tionghoa di Indonesia, yang bapak tulis
> di bawah ini, rasanya sama sekali tidak tepat dan menyinggung perasaan.
>
> Saya bisa merasakan hal ini, meskipun saya adalah etnis Jawa. akhir tahun
> 90-an, ketika ada orang keturunan Jawa di Suriname yang ke Jogja, kami
> sebagai sesama etnis Jawa merasa senang sekali, apalagi ketika saya tahu
> bahwa orang tsb masih bisa berbahasa Jawa dengan cukup baik, tetapi tidak
> bisa berbahasa Indonesia. Saya merasa bangga sekali bahwa saudara satu suku
> saya masih "nguri-uri" budaya nenek moyang.
>
> Tetapi ketika hal saya sampaikan kepada salah seorang teman baik saya yang
> kebetulan keturuan Tionghoa, dia merasa ada sesuatu yang tidak betul, Dia
> bilang "ora bener." Apa yang "ora bener?" Jawabannya begitu menyentuh saya,
> dia bilang, Orang Etnis Jawa di Suriname yang bisa berbahasa Jawa disambut
> dengan baik, dan dipuji-puji sebagai orang yang "nguri-uri" budaya leluhur,
> memelihara budaya leluhur, dan dianggap sebagai orang yang baik. Tetapi
> sebaliknya, kalau ada orang Tionghoa di Indonesia yang juga "nguri-uri"
> budaya leluhur merekea, yaitu budaya Tionghoa, mereka malah diragukan
> loyalitasnya.
>
> Saya jadi terdiam, dan saya bisa merasakan ketidakadilan dalm hal itu. Sejak
> saat itulah saya berusaha mempelajari bahasa dan budaya Tionghoa. Ternyata
> ada banyak hal dalam budaya Tionghoa yang tidak kita ketahui. Dan ketika
> saya mempelajari sejarah orang Tionghoa di Indonesia, dna membandingkannya
> dengan pengalaman-pengalaman mereka di sini, semakin saya merasakan
> pengalaman getir mereka. Oleh karenanya saya berusaha sedapat mungkin untuk
> socially correct, meskipun kadang-kadang saya "keprucut" menggunakan kata
> "Cina" ketika berbicara.
>
> Kembali ke soal kata "cina" dan "tionghoa," masalahnya bukan sekedar
> mengiktui instruksi pimpinan RRT, Pak. Tapi kata "cina" dalam konteks
> Indonesia itu punay konotasi negatif. Itulah yang menjadi keberatan.
>
> Bapak Hasan menginformasikan bahwa Koran Jawa Pos menggunakan kata Tiongkok,
> dan itu tidak menjadi masalah. jadi kenapa sih, kita bersikeras meyebut
> orang dengan sebutan yang tidak mereka sukai. Bukankah lebih baik jika kita
> menyebutnay dengan sebutan yang mereka inginkan, sama seperti kita yang
> tidak mau disebut "indon." Jika ingin meyingkat "indonesia" kita ingin
> disebut "indo." Dan kita pun berharap bahwa penduduk di negeri jiran kita
> mengganti sebutan "indon" dengan "indo."
>
> Andreas.

Kirim email ke