Pak Pahala yang budiman, Terima kasih atas e-mailnya.
Saya hanya berusaha menjelaskan sebisa saya saja. Apalagi keluarga saya juga mengalami hal yang mirip dengan label "cina" mesikpun tidak sama. Istri dari kakak saya adalah orang Batak. Pernikahan mereka berdua awalnya tidak direstui oleh keluarga, dengan alasan bahwa calon istri tsb bukan orang Jawa dan tidak mengarti budaya jawa. Dan yan lebih parah lagi, menurut Eyang (kakek) saya, calon istri kakak saya itu tidak mengerti "unggah-ungguh." Unggah-ungguh ini sopan-santun tata krama. Menruut hemat saya, setiap orang pastilah tahu sopan santun. tetapi mungkin tidak seperti yang diharapkan dalam budaya Jawa. singkatnya, akhirnya mereka menikah. Tetapi dalam tahun-tahun awal pernikahan mereka, selalu saja ada yang kurang dalam diri kakak ipar saya. Dia selalu dikatakan "ora njawani," "durung jowo," dll. Kata "ora njawani" dan "durung jowo" ini artinya tidak seperti orang Jawa. Ini satu sikap yg bagi saya skr ini etnosentris, karena menganggap etnis mereka sendiri itu yg terbaik, sedangakn etnis lainnya kurang baik, dll. Pengalaman kakak ipar saya inilah yang membuka mata saya akan sikap etnosentris. Awalnya saya tidak merasa apa-apa, karena saya menganggap hal itu wajar. Tetapi skr ini saya sadar bahwa label "ora njawani," ""durung Jowo," itu bisa menyinggung perasaan. Karena itulah saya bisa juga memahami orang yang menolak istilah "cina" di Indonesia. Andreas. --- In [email protected], "pahalahutabarat" <pahalahutaba...@...> wrote: > > Bung Andreas..., > > Habis betul energi Bung mengulas ini. Kalau kata kami orang Medan, 'kena > pancing t..k kau !' > > Entah Pak Sulaeman entah siapa yang mau bahas-bahas itu.., yang pokok, apakah > dia sudah jadi Indonesia dengan itu ?. Bayar pajak rutin, dan Pancasialais ?. > B.......t (pupuk kerbau) kan ? > > Lihat negeri ini..., UU Anti Korupsi tidak pernah dicabut, bahkan dipertegas. > Tetap aja ada yang korupsi dengan lahap. > > Di sebagian daerah Aceh, Batak selalu berkonotasi 'malapetaka najis'. > Di sebagian Betawi juga bgtu. Batak identik dengan muslihat, uang rombeng, > sopir angkot berantakan. > > Batak nya ya jalan aja tuh... > > Menurut saya yang sering bikin 'CINA' jadi sulit adalah kecenderungan besar > saudara kita itu hidup eksklusif. Ya sekolahnya, ya perusahaannya, ya > gajinya, ya dll nya. > > Saya pernah ke Sea world Jkt. Ketika saya mendekat ke kaca utk melihat ikan > lebih detail, sekelompok saudara saya (!) CINA, menyisih dan ekspresinya > menggambarkan seolah saya sesuatu yang najis. Waktu itu saya menggendong anak > saya - Christian (1.5 thn) my boy. Saya terluka sekali, tapi saya maafkan. > Mereka belum 'ber-Pancasila'. Tapi saya tidak membenci Cina. Saya cuma merasa > pilu. > > Di Tsunami Aceh, saya melihat saudara-saudara (!) Cina kita bergelimang > lumpur dan letih layu 'menolong saudara yang lain'. Saya bangga. Mereka Cina > kek, apa kek, ukurannya kan nurani. Kami berbagi biskuit dengan penuh > sukacita. > > Kalau Cina mau, ber-Pancasila ya memang - mungkin - ada harga yang harus > dibayar. > Cina di kampung kami, kami beri marga resmi (!). Mereka tetap aja Imlek dan > Go Xi Fat Cai. Bakar Hio juga utk sujud leluhur (atau sejenis nya, maaf saya > tidak faham). Tapi mereka tidak mau lagi susah payah menggali budaya Cina > (daratan), karena mereka katakan 'kami Indonesia'. Nenek moyang kami sudah > Indonesia !! > > Belanda kolonial yang selayaknya kita tuntut untuk memeperbaiki citra buruk > ini. Belanda lah yang 'memisahkan kita'. > > Warga Medan pada umumnya - meskipun tidak teriak-teriak, dalam hatinya > menghormati keluarga Cong A Fie. Kita tetap saja sebut Cong A Fie 'orang > Cina'. Sebagaimana kita menyebut Pak Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai > 'orang Jawa'. (Maaf Pak Presiden) > Harap di-ingat bahwa banyak sekali saudara kita 'orang Jawa' bekerja sebagai > 'B..U'(yang oleh orde Baru ditipu dengan sebutan 'pembantu rumah tangga'). > > Biarlah kenangan buruk dari Pak Harto bin Orde Baru pergi ke liang kubur. > Untuk itu tokh UU-ADRE sudah ada. (Secara informal, saya ikut kontribusi lho > Bung) > > Bung kerja aja yang baik, bayar pajak rutin, usahakan kesejahteraan untuk > banyak orang. Syukur-syukur Bung mau kasih saya kerja, karena saya masih > peng-angguran saat ini. > Banyak hal besar yang bisa kita kerjakan Bung. > > Biarin Pak Sulaeman bikin tulisan lagi. CINA kek CHAINA kek. Darah kita tetap > merah, jiwa kita tetap PANCASILA (setuju kan ?). > Negeri kita tidak se kerdil Edaran 1967 itu, kecuali Anda merasa Anda adalah > Singaporean.(Maaf...,kebetulan kita lagi prihatin kan nasib saudara kita > David dan keluarga-nya kan ?). > > Ah.., Oom Kwik tidak peduli tuh.. Padahal dia sangat Nasionalis (Indonesia). > > Bangun bung.., jangan tidur di mimpi lama. Salam kenal ya...... > > Salam > PH
