Sebetulnya ada 3 masalah yang dipersoalkan oleh Ibu Prita yaitu: 1. Masalah Trombosit. A. Saat pertama kali masuk ke UGD, hasil tes lab menyatakan jumlah trombositnya 27.000. Dengan demikian Dokter menyarankan Ibu Prita harus segera dirawat di RS karena itu tanda - tanda Demam Berdarah. B. Keesokan harinya hasil tes darah menyatakan jumlah Trombosit 181.000. Disinilah Ibu Prita Protes: # Bila Trombosit 181.000 seharusnya bisa berobat jalan, tapi mengapa masih tetap disuruh rawat inap? # Mengapa tes lab yang gagal (Trombosit 27.000 ) kemarin sepenuhnya jadi tanggung jawab Ibu Prita termasuk biaya rawat inapnya??? Alasan Ibu Prita: Dia dirawat menggunakan Asuransi Kesehatan yang limit plafonnya tidak terlalu besar. Jika seluruh kesalahan pihak Rumah Sakit menjadi beban Ibu Prita, plafon biaya kesehatan Ibu Prita akan cepat habis. Klaim Ibu Prita ini tidak ditanggapi oleh manajemen RS. OMNI. 2. Masalah obat yang disuntikkan. Dokter menolak memberikan penjelasan apa fungsi obat yang disuntikkan tersebut mengingat dadanya menjadi sakit dan badannya bengkak setelah menerima suntikan. Dokter hanya menyatakan bahwa Ibu Prita terkena virus udara. Klaim Ibu Prita dalam mempertanyakan apa sebetulnya penyakit yang sedang dia derita, tidak ditanggapi secara semestinya oleh Dokter maupun manajemen RS. Omni 3. Dinyatakan sakit Gondongan. Saat badannya bengkak, dokter bilang bahwa Ibu Prita Sakit Gondongan. Lha kok berubah lagi??? Dalam kasus ini penjelasan dari Dokter dan Manajemen Rumah Sakit tidak memuaskan pasien. Pengalaman Ibu Prita ini mirip pengalaman rekan saya yang didiagnosa oleh Dokter di Rumah Sakit Internasional yang ada di Jakarta Barat pada th. 1997, menderita batu ginjal yang akut dan harus segera operasi malam itu juga supaya ginjalnya gak rusak, tetapi ternyata setelah dioperasi batu ginjalnya hilang dan pasien tetap harus bayar penuh. Hanya saja karena rekan saya enggan memperkarakan Dokter dan Rumah Sakit tersebut walaupun sakitnya tetap tidak sembuh (mengeluh sakit perut) serta Perusahaan dimana rekan saya bekerja tidak keberatan untuk membayar seluruh biaya rumah sakitnya, ya akhirnya selesai begitu saja gak pake ribut. Rupanya RS Omni Internasional ini meniru "jejak" Rumah Sakit Internasional yang mengoperasi rekan saya, tapi kena batunya karena pasiennya komplain. Salam, Adyanto Aditomo
--- Pada Kam, 4/6/09, sawung <[email protected]> menulis: Dari: sawung <[email protected]> Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: RS Omni Klarifikasi Tuduhan Prita Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 4 Juni, 2009, 11:14 PM Tambahan, kenapa pemeriksaan kedua karena hasil test pertama tidak terbaca bisa selang satu hari? Apalagi dipemeriksaan pertama jumlah trombositnya kecil mestinya hari itu juga pemeriksaan ulang keluar. Kalau terjadi salah diagnosa menjadi beralasan sekali karena dokter memakai data lab yg tidak valid.
