Saya bukan Bugis kayak P AM, P JK atau P Zain. Saya memperhatikan soal orasi dan kampanye pilpres P AM sampai pada protes2 tokoh Bugis [ pro P JK ] di Makasar, memang bisa menerima kalau disebut suasana pilpres sekarang ini sungguh dinamis, bergairah. Tergantung dari masa kapan, ditinjau dari mana, pernyataan P AM bahkan secara meyakinkan bisa diartikan sampai melanggar UUD 1945.... Kalau saya melihat, pendapat P Zain, P AM sungguh hebat apabila sampai 'berprinsip' memang yang terbaik buat jadi presidennya walau bukan dari suku nya. Kalau sampai pendapat ini murni berdasar logika penilaian bagi negara dan bangsa yang diyakininya [ bukan sbg yang munafik atau mumpung ] justru bangsa ini membutuhkan negarawan yang bisa berpikir seperti ini, kayak di AS banyak tokoh politik putih justru mengtakan keyakinannya mensupport P BHO yang hitam jadi presidennya. Justru esensi dari UUD kita, rasanya memberikan kesempatan bagi siapa saja anak bangsa yang hebat untuk bisa terpilih jadi pemimpinnya lingkungan kecil maupun besar sampai presiden. Saya ngga menutup mata bagaimana perasaan atau emosi atau memang sikap ekstrim dari beberapa lapisan masyarakat yang terang2an menyatakan tabu memilih kapolres yg dari suku ini, agama ini sampai perbaikan UUD untuk definisi yang bisa jadi presiden RI. Saya juga pernah terkesan dengan ucapan P AM duluuu sebelum gabung dengan P SBY, saya ngga mau jadi presiden Makasar atau Sulsel , saya mau jadi presiden Indonesia. Ucapan ini disampaikannya ketika marak beberapa tokoh Bugis siap2 ngancam mendirikan negara Sulsel/Sulawesi kalau Sulsel/Sulawesi ngga bisa kayak Aceh menjalankan SI didaerahnya...
Salam , martin - jakarta ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Friday, July 3, 2009 12:19:12 PM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Pernyataan Andi Mallarangeng Bertentangan dengan UUD 1945 Pernyataan Andi Mallarangeng yang memperjuangkan SBY dgn segala cara membuktikan kepada saya bahwa dia adalah oportunis sejati. Inilah selebritis politik yang dikarbit oleh TV dan media, termasuk pengamat politik yang muda2 itu. Sungguh disesalkan pernyataan bahwa orang di luar Jawa belum layak jadi presiden, dalam konteks apapun pembahasannya tetap tidak layak dinyatakan, sekalipun itu fakta di lapangan. Kita berjuang untuk keIndonesiaan, bukan memecahkannya, hanya gara2 pilpres. Daniel Ronda Makassar Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "Agus Hamonangan" <[email protected]> Date: Thu, 02 Jul 2009 22:53:30 To: <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Pernyataan Andi Mallarangeng Bertentangan dengan UUD 1945 http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/07/02/22570491/Pernyataan.Andi.Mallarangeng.Bertentangan.dengan.UUD.1945 MAKASSAR, KOMPAS.com — Forum Rektor Indonesia Simpul Sulawesi Selatan (FRIS-Sulsel) menilai pernyataan anggota tim kampanye nasional capres SBY-Boediono, Andi Mallarangeng, sangat bertentangan dengan amanah UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika karena Indonesia masyarakat majemuk. Pernyataan kontroversial Andi Mallarangeng itu diucapkan saat kampanye SBY-Boediono di GOR Andi Mattalatta, Rabu, mengandung unsur SARA, yang menyatakan: "Belum saatnya orang Sulsel memimpin bangsa Indonesia." Ketua FRIS-Sulsel, Prof Dr dr Idrus A Paturusi, di Makassar, Kamis (2/7), mengatakan, UUD 1945 dan BTI memberi kesempatan kepada setiap warganya untuk menggunakan haknya, termasuk siapa saja yang mencalonkan diri untuk memimpin bangsa ini. "UUD 45 dan Bhinneka Tunggal Ika saja mensyaratkan seperti itu, kok ada orang yang ngomong ngelantur di depan massa kampanye bahwa belum saatnya orang Sulsel menjadi presiden," ungkapnya. "Alifian yang juga juru bicara Presiden SBY seharusnya tidak mengeluarkan pernyataan seperti itu sebab akan memicu keresahan warga Indonesia, khususnya yang ada di provinsi ini," tambahnya. FRIS-Sulsel juga menilai bahwa pernyataan Andi saat berorasi kampanye SBY-Boediono di GOR Andi Mattalatta mengandung unsur SARA, bahkan telah melecehkan etnis serta SDM masyarakat Sulsel sehingga dapat mengganggu persatuan dan kebersamaan warga di daerah ini. "Dia harus minta maaf kepada warga Sulsel serta yang bersangkutan diminta untuk tidak mengulangi pernyataan seperti itu lagi sebab akan memicu konflik," katanya dan menambahkan, janganlah suasana yang cukup kondusif menjelang Pilpres 8 Juli 2009 berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan. Idrus juga mengajak masyarakat Sulsel untuk berpartisipasi menggunakan hak pilihnya dengan mendatangi TPS-TPS serta mampu menjaga ketertiban, kedamaian, dan kebersamaan dalam menghadapi pesta demokrasi tersebut. Budayawan Sulsel, Ishak Ngeljaratan, secara terpisah menilai, pernyataan Andi bahwa orang Sulsel belum waktunya menjadi presiden, sangat "mengerikan" dan itu merampas hak orang lain untuk menggunakan haknya sesuai UU tersebut. "Biarlah setiap warga Indonesia yang majemuk ini menggunakan haknya, bukan dihambat hanya karena ingin mempertahankan pemimpin bangsa yang sekarang ini," ungkapnya. Terkait dengan majunya Jusuf Kalla (JK) yang mencalonkan diri sebagai calon presiden bersama pendampingnya Wiranto, menurut Ishak, wajar-wajar saja karena beliau ini juga sudah banyak memoles bangsa ini, baik sebagai mantan menteri maupun wakil presiden yang masa jabatannya bersama Presiden SBY berakhir Oktober 2009. "Orang Sulsel memiliki dua rasa malu, yakni malu karena berbuat kejahatan dan malu jika tidak berbuat kebaikan bagi daerah dan bangsa ini," ujarnya seraya menyatakan, janganlah menghalangi orang dalam berbuat baik pada bangsa ini.
