----------
Salah satunya justru karena Einstein sangat relijius dan dia menolak hukum 
ketidak pastian yang dibawa oleh fisika kuantum. Salah satu ucapan Einstein 
"Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta" sering dikutip dalam kerangka 
relijius. Padahal maksud Einstein ialah secara relijius fisika kuantum berarti 
alam semesta terbentuk secara acak dan tidak pasti. Hal mana tidak disetujuinya.
----------

Sedikit menambahkan.
Einstein adalah "penganut" pantheist. Jadi, "Tuhan" yang dia sebut bukanlah 
entitas / tidak sama dengan "Tuhan" dalam terminologi Agama-agama (paling tidak 
agama wahyu). "Tuhan" Pantheist adalah Tuhan harmoni dan kesederhanaan, atau 
Keseluruhan. Jadi bukan Tuhan yang "sadar" dan berinteraksi dengan manusia 
seperti dalam agama-agama pada umumnya.
Tapi, memang ada sekian derajat sifat Pantheistic dalam agama-agama wahyu.

http://en.wikipedia.org/wiki/Pantheism





________________________________
From: Jovin Rudi Atmanto <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, July 24, 2009 15:22:38
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Manusia Belum  Pernah Mendarat di Bulan

Pak Rudyanto
Saya paham dengan jalan pikiran anda bahwa karena foto2 misi bulan berasal dari 
amerika maka diperlukan misi dari negara lain untuk bisa mengkonfirmasi mereka 
benar, bukan gitu?
Sekarang tunjukkan pada saya kaidah sains mana yang menyatakan bahwa hasil 
penelitian suatu negara harus dikonfirmasi oleh negara lain? Tidak ada bung. 
Negara itu entitas politik. Sains itu ya entitas sains.
Seorang ilmuwan bisa memperkuat hasil penelitian ilmuwan sebelumnya atau 
membantah. Dan tidak ada keharusan bahwa yang mendukung atau membantah harus 
dari negara yang sama atau berbeda.
Hasil foto dari Bulan bukan cuma hasil jepretan Neil Amstrong. Foto bulan juga 
diambil dari misi-misi apollo sesudahnya. Foto2 yang extensiv justru dibawa 
oleh astronot yang mengendarai Lunar Rover yang dibawa mulai misi Apollo 15. 
Kalau sekarang anda mengatakan bahwa fot tersebut tidak valid hanya karena 
sama2 pihak amerika berarti anda sudah keracunan conspiracy theory.
Suatu hasil penelitian sains bukan merupakan kebenaran mutlak. Selama 500 tahun 
mekanika Newton dianggap kebenaran satu2nya tentang bagaimana menjelaskan cara 
kerja alam semesta. Menurut Newton satu detik di bumi sama saja dengan satu 
detik di alam semesta yang jauh. Selama 500 tahun itu dianggap kebenaran karena 
pada waktu tidak ada teori lain yang bisa disprove hukum Newton. Datanglah 
Einstein dengan relativitasnya yang ternyata waktu tidaklah absolut melainkan 
relatif. Satu detik di bumi tidak sama dengan satu detik di bintang yang saling 
menjauhi dengan kecepatan setengah dari kecepatan cahaya.
Hukum Newton gugur dalam menjelaskan makrokosmos karena ada hukum baru yang 
lebih concise dan comprehensive.
Perhatikan di sini bahwa Relativitas menggugurkan. Newton bukan karena sekedar 
si Einstein tidak suka bukan Newton. Harus ada suatu dasar mengapa anda 
menyatakan suatu kajian ilmiah tidak valid. Bukan cuma masalah like and dislike 
bung.
Sekali lagi sains bukan kebenaran mutlak. Pada gilirannya teori Einstein juga 
gagal menjelaskan banyak hal yang pada gilirannya dijatuhkan oleh Fisika 
Kuantum. Niehls Bohr salah satu pelopor Fisika Kuantum membantah model alam 
semesta menurut Einstein. Salah satunya justru karena Einstein sangat relijius 
dan dia menolak hukum ketidak pastian yang dibawa oleh fisika kuantum. Salah 
satu ucapan Einstein "Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta" sering 
dikutip dalam kerangka relijius. Padahal maksud Einstein ialah secara relijius 
fisika kuantum berarti alam semesta terbentuk secara acak dan tidak pasti. Hal 
mana tidak disetujuinya.
Doesn't matter. Walaupun buat kaum relijius pendapat Einstein lebih disukai 
tapi Fisika Kuantum menohok dengan telak dengan bukti2 yang kongkrit. Sekarang 
the very computer you are using memanipulas elektron dengan teknologi quantum 
dan karena itu diterima sebagai kebenaran.
Saya katakan sekali lagi. Kebenaran sains bukan kebenaran mutlak. Bisa jadi 
suatu saat kita semua bisa bertamasya di bulan dan akhirnya baru ketahuan kalau 
misalnya, yang mendarat di bulan itu apollo 14. Sedangkan apollo 11 tidak 
mendarat. Bisa saja itu terjadi. In the meantime axioma sains ialah jika kita 
menyingkirkan semua yang tidak mungkin maka apapun yang tersisa, apapun itu 
adalah "the truth"
Astronom Plaitt yang punya kredibilitas tinggi menjelaskan bukti2 ttg bantahan 
moon landing dalam websitenya http://www.badastronomy.com. Di situ menjelaskan 
sekali lagi yang anda tampaknya suka sekali mengulang2 misalnya kenapa langit 
bulan tidak ada bintang atau kenapa bendera Neil Amstrong berkibar.
Sekali lagi tidak bosan2 saya katakan sains bukan kebenaran mutlak tapi untuk 
membantahnya anda paling kurang harus disprove dengan fakta2 baru. Kalau anda 
cuma menggunakan dalil bahwa karena hanya astronot amerika yang ke sana dan 
anda tidak percaya karena anda tidak melihat maka saya kira saya harusnya yang 
mengajari anda ilmu logika bung karena kebetulan saya programmer by education. 
Anda sendiri juga blatantly menggunakan logika ngawur seperti "saya percaya 
Columbus mendarat di amerika karena kita semua bisa ke sana untuk 
membuktikannya". Bahwa kita semua bisa ke Amerika hanya membuktikan bahwa benua 
Amerika betul ada dan tidak ada hubungannya dengan Columbus. Bagaimana kalau 
saya percaya bahwa Laksamana Cheng Ho yang menemukan Amerika? Tetap saja kita 
semua bisa ke amerika skrg regardless siapa yang menemukan.
Tidak usah pake contoh yang di luar konteks seperti Angelina Jolie atau Liga 
Primera. Nanti malah kelihatan kalau anda knows many things about nothing.
Satu hal anda benar, saya percaya moon landing karena saya tidak menemukan 
bukti yang menyatakan itu hoax. Semua bukti yang ada sudah sangat overwhelming. 
Saya tantang anda untuk disprove dengan bukti baru, dan bukan sekedar karena 
anda menolak untuk percaya.

Salam

Jovin



Jovin R. Atmanto
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kirim email ke