DPR Oh DPR
Lengkaplah keprihatinan kita terhadap nasib negara ini. Bukan hanya
penegak hukumnya yang tidak bisa diandalkan, eksekutifnya yang tidak memiliki
ketegasan, tetapi juga parlemennya yang tidak memiliki kematangan.
Untuk menunjukkan bahwa DPR mendengarkan aspirasi masyarakat, Komisi III
mengundang berbagai kelompok masyarakat sipil untuk mendapatkan masukan
terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa ini. Terutama soal
tugas kita bersama dalam memerangi korupsi.
Genderang perang kita dalam memerangi korupsi sedang terganggu karena
lembaga yang kita andalkan untuk menghadapi itu malah dilemahkan. Para pemimpin
KPK direkayasa untuk dihadapkan kepada perkara hukum, sehingga tiga di
antaranya tergusur dari posisinya.
Kelompok masyarakat antikorupsi sangat berharap anggota DPR bisa menangkap
kekhawatiran masyarakat bahwa salah satu agenda utama reformasi sedang
terancam. Sebagai salah satu kekuatan politik, anggota DPR diharapkan bisa
menjalankan fungsi kontrol agar cita-cita reformasi itu tidak sampai gagal.
Ternyata parlemen yang seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat tidak
menempatkan dirinya sebagai wakil rakyat. Mereka lebih menempatkan dirinya
sebagai elite politik yang harus dihormati. Mereka menempatkan dirinya sebagai
kekuatan politik yang bekerja untuk kepentingan mereka sendiri.
Begitu arogannya anggota Komisi III DPR menganggap Gedung Rakyat itu
sebagai rumah mereka. Tidak ada rasa hormat kepada pemilik sah Gedung Rakyat
yang sebenarnya. Mereka justru menunjukkan kekuasaan secara telanjang kepada
rakyat yang sudah menyerahkan hak suaranya kepada para anggota DPR.
Sepantasnya para anggota DPR bertanya pada diri mereka masing-masing untuk
kepentingan apa mereka duduk di Gedung Rakyat. Kepada siapa seharusnya mereka
itu mengabdikan dirinya.
Gaji puluhan juta rupiah yang diterima, berbagai fasilitas yang dinikmati,
semua itu didapat dari keringat rakyat. Rakyat bekerja setengah mati untuk
membiayai semua kenikmatan yang dirasakan seluruh anggota parlemen. Sungguh
tidak tahu diri kalau anggota DPR tidak menghormati mereka yang telah memberi
kehormatan.
Sikap yang diperlihatkan anggota DPR, khususnya Komisi III, sungguh sangat
melukai hati rakyat. Apalagi dua hari sebelumnya, mereka menunjukkan sikap yang
tidak sejalan dengan semangat besar bangsa ini untuk memerangi korupsi. Mereka
tidak menunjukkan kekritisan sama sekali ketika melakukan rapat kerja dengan
Kapolri, padahal kuat sekali dugaan polisi sedang mencoba mengkerdilkan KPK.
Jangan heran apabila rakyat lalu kehilangan kepercayaan kepada jalur
politik formal. Kekesalan dan kekecewaan masyarakat jangan dianggap remeh
karena mereka bisa menjadi kekuatan yang sesungguhnya.
Kita bukan bermaksud untuk menakut-nakuti. Pada zaman Orde Baru dulu,
kekuatan politik Presiden Soeharto jauh lebih kuat dari sekarang ini. Soeharto
bukan hanya menguasai parlemen, tetapi juga militer. Namun ketika rakyat sudah
marah dan melampiaskan kemuakannya, semua kekuatan itu tidak ada artinya sama
sekali.
Enam pekan pertama yang diperlihatkan para anggota parlemen sekarang
ini, sangat jauh dari harapan rakyat. Yang mereka lebih perlihatkan adalah
unjuk kekuasaan, bukan sikap yang kritis untuk membela kepentingan rakyat
banyak.
Baru pertama kali pimpinan DPR melarang komisi untuk melakukan kerja
dengan para menteri. Baru pertama kalinya anggota DPR mengusir rakyat yang
mereka wakili.
Kalau anggota DPR tidak segera mengubah sikapnya, mereka bukan hanya
tidak ada mendapat dukungan rakyat pada lima tahun mendatang, tetapi sekarang
pun mereka kehilangan legitimasinya. Gedung DPR hanya akan menjadi menara
gading yang diisi anggota DPR yang enak ongkang-ongkang kaki di ruangan yang
dingin karena hanya memikirkan dirinya sendiri.
Demokrasi yang dengan susah payah kita bangun selama lebih dari satu
dekade sungguh sedang berada di ujung tanduk. Penyebabnya adalah karena elite
politik yang dilahirkan semakin memburuk kualitasnya. Mereka hanya kumpulan
orang-orang politik yang sekadar tahu arti berkuasa, tetapi tidak memahami
makna untuk apa sebenarnya mereka ada di Gedung DPR. Sungguh ironis!
Powered by Telkomsel BlackBerry®
------------------------------------
=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :
1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ ,
http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/
3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke
anggota
4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]
5.Untuk bergabung: [email protected]
KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/