senada dengan mbak/mas lafolweis...(bukan edelweis khan..???) bahwa ketabahan yg sementara bisa menghibur kegundahan akan impian mutasi ke non-remote area, karena apa...?? karena saya desember nanti sudah 6 (enam) tahun di remote area (Papua)dan hanya dengan ketabahan, sabar, tawakkal dan doa yg masih bisa menghibur hati saya sampai Desember nanti, TAPI..... Jikalau pemegang kendali keputusan mutasi pegawai masih tidak mencantumkan nama saya di SK Mutasi akhir tahun ini, ga tau deh apa yg akan saya lakukan... 1. Ikut Tes KPPN Prima Tahap 4 ?? saya mau!! tapi apa bisa?? karena tes KPPN Prima tahap 1 s.d. 3 sj nama saya tidak pernah ditunjuk menjadi peserta test. 2. Pindah ke DItjen lain ? saya mau!!! 3. Pindah atas permintaan dan biaya sendiri ? saya juga mau!!! yg penting Ke Jawa atau daerah dekat jawa (Bali, Mataram, Makassar) 4. Teman-teman, tolong kasih pilihan lain donk...
terima kasih ya.... tolong pejabat kepegawaian DJPBN diperhatikan nih usul sy ya... --- In [email protected], "lafolweis" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Desember hampir tiba (masih kurang 3 bulan lagi) artinya 5 tahun sudah > kami di remote area. Padahal semasa Pak Luthfi Abbad dulu sempat ada > ucapan kalau pegawai yang ditempatkan di daerah terpencil +/- 3 tahun > sudah harus keluar agar tidak terlalu lama ketinggalan informasi, > ketinggalan pendidikannya dibanding rekan2 yang di kota besar. > Ternyata oh, ternyata...! > Ah, semoga saja Desember nanti bukanlah Desember Kelabu-nya Maharani > Kahar. Berita baik, pindah ke tempat yang lebih mudah untuk mengakses > fasilitas umum, mengakses pendidikan yang bermutu untuk anak2 itulah > yang kami tunggu. 2008, semoga menjadi Januari Biru seperti yang > dilantunkan Dewi Yull. Amin. > Intro yang ngelantur.... > By the Way, soal mutasi saya ingin memberikan sedikit masukan buat > yang berkepentingan terutama masalah data kepegawaian. Selama ini pada > beberapa kali mutasi hampir selalu terlihat adanya kesalahan dalam > data pegawai. Sebagai contoh anak, terjadi kekurangan jumlah anak > yang dimasukkan dalam SPPD juga status perkawinan, sudah menikah > tetapi masih dihitung bujang. Memang pada akhirnya kekurangan tersebut > bisa diselesaikan dengan mengajukan kekurangan SPPD-nya tetapi > alangkah baiknya jika hal-hal tersebut bisa diantisipasi sejak awal > dengan adanya data pegawai yang selalu uptodate. Tidak terlalu sulit > saya kira untuk mengupdatenya karena selain adanya KP-4 yang harus > dibuat tiap tahun dan tiap ada perubahan jumlah/susunan keluarga juga > urusan kepegawaian KPPN tiap bulan selalu mengirim laporan bulanan > yang antara lain berisi tentang perubahan keluarga, status perkawinan, > bahkan perubahan alamat rumah. > Itu tadi yang hanya menyangkut kekurangan SPPD, lalu bagaimana dengan > kekurangvalidan data kepegawaian sehingga menyebabkan inefisiensi > SPPD. Sebagai contoh, kalau tidak salah pada SK mutasi pelaksana bulan > Agustus 2006 kemarin banyak pegawai perempuan yang dipindah dari > kantor daerah ke kantor pusat. Sekilas dari yang saya baca, tersirat > bahwa mereka adalah teman2 yang kebetulan sudah lama di kantor daerah > tetapi masih belum berkeluarga. Tetapi setelah beberapa lama kemudian > saya yang kebetulan mengenal sekitar 7 nama dari mereka (pegawai > perempuan yang terkena mutasi) mendapat info bahwa beberapa dari > mereka (3 orang)sudah kembali ke daerah asal dengan alasan mengikuti > suami (karena ternyata mereka sudah bersuami bahkan salah satunya > dalam kondisi hamil 7 bulan saat menerima SK)sementara yang lainnya > tetap di pusat karena memang masih lajang. Yang menjadi pertanyaan > kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Bukankah satu tindakan yang tidak > efisien memindahkan pegawai bersuami yang pada akhirnya harus kembali > lagi ke daerah asal? > Yang terakhir, bagaimana mungkin ada pegawai yang baru ke luar jawa > sekitar 1-2 tahun sudah kembali lagi ke kantor yang hanya berjarak > sekitar 1-2 jam dari kantor awal sebelum dipindahkan ke luar jawa > sedangkan ada banyak rekan2 yang lain sudah 4-5 tahun di daerah2 > terpencil atau bukan terpencil namun biaya hidup tinggi seperti di > Papua belum juga tersentuh mutasi. > Perbaikan data base pegawai sehingga bisa akurat dan tidak menimbulkan > kecemburuan sangat diperlukan saya kira. >
