Buat cucu2 di forum-prima, Menurut eyang tentang mutasi, baik pejabat, setengah pejabat ato pelaksana, sptnya tidak ada kiat yang pas tuk jadi acuan. Yg paling tepat kasih saran tentunya mrk2 yg merasakan nikmatnya mutasi, misalnya : 1. Dia yg 1 thn 4x tcantum dlm SK mutasi dan stlh di Dit. PA (Dit. Paling Ayem?) seakan tenggelam, tdk tcantum lagi namanya di SK mutasi (sdh dihabitatnya?); 2. Dia yg stengah pejabat di pusat, promosi eselon-3 jg di pusat dan kena 1x mutasi tetap di pusat; 3. Dia yg plaksana di pusat, numpang promosi eselon-4/A ke remote area, mis ke Jyp, trus kena mutasi ke pusat, di sebelah kursi yg dulu ditempati wkt plaksana; 4. Dia yg mjabat lebih dari 4 thn di suatu daerah dan tdk jg kena mutasi. Jika yg spt ini, hrs diketahui, daerahnya mana dulu. Kalo bukan njabat di sekitar Monas, tak perlu kasih kiat. Spt Chandra yang mnetap di desa jauh mall sdh 6 thn lebih, gak usah ikut2, diam aja duduk yg manis, tunggu TSUNAMI (Tante Sun Ada Minat). Yang perlu diingat, pak Lutfi sdh pensiun, jgn lagi dibawa namanya. Eranya juga sdh brubah, skrng eranya BUCHERI (cari ndiri singkatanny). Soal sleksi untuk para manajer, itu mudah dan sudah mulai dilaksanakan. Bagian Pengembangan punya dana lebih, koq. Tapi ingat, sleksi ini tidak brarti akan mhasilkan manajer yg bersih dan bkualitas. Kenapa bgitu? Karena soal moral dan integritas blm tentu nyambung. Saat ini kita sdh biasa mengukur sukses seseorang dari sberapa mampu dia numpuk asset slama jadi pns dan duduk di satu kursi. Misal, kalo ada plaksana di Dit. XY mampu beli rmh seharga 1 milyar, itu hebat dan sukses. Tapi, kalo ada pjabat eselon-3 belum mampu beli rmh sendiri, masih jadi kontraktor, justru org itu dianggap aneh. Bisa jadi si pjabat tadi malah dianggap gak pandai membina relasi, kurang komunikatif dan tidak pantas duduk di kursi-kursi strategis. Itu aja buat cucu2ku hari ini. Masih panjang koq sambungannya tuk hari2 esok.
Salam, Eyang Kakung On Tue, 25 Sep 2007 04:54:10 -0000 "don_juan722" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > senada dengan mbak/mas lafolweis...(bukan edelweis >khan..???) bahwa > ketabahan yg sementara bisa menghibur kegundahan akan >impian mutasi > ke non-remote area, karena apa...?? karena saya desember >nanti sudah > 6 (enam) tahun di remote area (Papua)dan hanya dengan >ketabahan, > sabar, tawakkal dan doa yg masih bisa menghibur hati >saya sampai > Desember nanti, TAPI..... > Jikalau pemegang kendali keputusan mutasi pegawai masih >tidak > mencantumkan nama saya di SK Mutasi akhir tahun ini, ga >tau deh apa > yg akan saya lakukan... > 1. Ikut Tes KPPN Prima Tahap 4 ?? saya mau!! tapi apa >bisa?? karena > tes KPPN Prima tahap 1 s.d. 3 sj nama saya tidak pernah >ditunjuk > menjadi peserta test. > 2. Pindah ke DItjen lain ? saya mau!!! > 3. Pindah atas permintaan dan biaya sendiri ? saya juga >mau!!! yg > penting Ke Jawa atau daerah dekat jawa (Bali, Mataram, >Makassar) > 4. Teman-teman, tolong kasih pilihan lain donk... > > terima kasih ya.... > tolong pejabat kepegawaian DJPBN diperhatikan nih usul >sy ya... > > > > --- In [email protected], "lafolweis" ><[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> Desember hampir tiba (masih kurang 3 bulan lagi) artinya >>5 tahun > sudah >> kami di remote area. Padahal semasa Pak Luthfi Abbad >>dulu sempat ada >> ucapan kalau pegawai yang ditempatkan di daerah >>terpencil +/- 3 > tahun >> sudah harus keluar agar tidak terlalu lama ketinggalan >>informasi, >> ketinggalan pendidikannya dibanding rekan2 yang di kota >>besar. >> Ternyata oh, ternyata...! >> Ah, semoga saja Desember nanti bukanlah Desember >>Kelabu-nya Maharani >> Kahar. Berita baik, pindah ke tempat yang lebih mudah >>untuk > mengakses >> fasilitas umum, mengakses pendidikan yang bermutu untuk >>anak2 itulah >> yang kami tunggu. 2008, semoga menjadi Januari Biru >>seperti yang >> dilantunkan Dewi Yull. Amin. >> Intro yang ngelantur.... >> By the Way, soal mutasi saya ingin memberikan sedikit >>masukan buat >> yang berkepentingan terutama masalah data kepegawaian. >>Selama ini > pada >> beberapa kali mutasi hampir selalu terlihat adanya >>kesalahan dalam >> data pegawai. Sebagai contoh anak, terjadi kekurangan >>jumlah anak >> yang dimasukkan dalam SPPD juga status perkawinan, sudah >>menikah >> tetapi masih dihitung bujang. Memang pada akhirnya >>kekurangan > tersebut >> bisa diselesaikan dengan mengajukan kekurangan SPPD-nya >>tetapi >> alangkah baiknya jika hal-hal tersebut bisa diantisipasi >>sejak awal >> dengan adanya data pegawai yang selalu uptodate. Tidak >>terlalu sulit >> saya kira untuk mengupdatenya karena selain adanya KP-4 >>yang harus >> dibuat tiap tahun dan tiap ada perubahan jumlah/susunan >>keluarga > juga >> urusan kepegawaian KPPN tiap bulan selalu mengirim >>laporan bulanan >> yang antara lain berisi tentang perubahan keluarga, >>status > perkawinan, >> bahkan perubahan alamat rumah. >> Itu tadi yang hanya menyangkut kekurangan SPPD, lalu >>bagaimana > dengan >> kekurangvalidan data kepegawaian sehingga menyebabkan >>inefisiensi >> SPPD. Sebagai contoh, kalau tidak salah pada SK mutasi >>pelaksana > bulan >> Agustus 2006 kemarin banyak pegawai perempuan yang >>dipindah dari >> kantor daerah ke kantor pusat. Sekilas dari yang saya >>baca, tersirat >> bahwa mereka adalah teman2 yang kebetulan sudah lama di >>kantor > daerah >> tetapi masih belum berkeluarga. Tetapi setelah beberapa >>lama > kemudian >> saya yang kebetulan mengenal sekitar 7 nama dari mereka >>(pegawai >> perempuan yang terkena mutasi) mendapat info bahwa >>beberapa dari >> mereka (3 orang)sudah kembali ke daerah asal dengan >>alasan mengikuti >> suami (karena ternyata mereka sudah bersuami bahkan >>salah satunya >> dalam kondisi hamil 7 bulan saat menerima SK)sementara >>yang lainnya >> tetap di pusat karena memang masih lajang. Yang menjadi >>pertanyaan >> kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Bukankah satu >>tindakan yang > tidak >> efisien memindahkan pegawai bersuami yang pada akhirnya >>harus > kembali >> lagi ke daerah asal? >> Yang terakhir, bagaimana mungkin ada pegawai yang baru >>ke luar jawa >> sekitar 1-2 tahun sudah kembali lagi ke kantor yang >>hanya berjarak >> sekitar 1-2 jam dari kantor awal sebelum dipindahkan ke >>luar jawa >> sedangkan ada banyak rekan2 yang lain sudah 4-5 tahun di >>daerah2 >> terpencil atau bukan terpencil namun biaya hidup tinggi >>seperti di >> Papua belum juga tersentuh mutasi. >> Perbaikan data base pegawai sehingga bisa akurat dan >>tidak > menimbulkan >> kecemburuan sangat diperlukan saya kira. >> > > ======================================================================================== "Sambil berpuasa, ikuti Netkuis Ramadhan 1428 H. Menangkan Laptop, Ipod dan HP Nokia di akhir periode netkuis dan dapatkan Flash disk di tiap minggunya dengan mengikuti Netkuis di http://netkuis.telkom.net/" ========================================================================================
