Assalamu alaikum Wr.Wb. Buat rekan-rekan milis, khususnya Ikyusan Hidayat : Ikyusan benar 100% soal kamuflase tersebut. Iman eyang sudah eyang akui di milis masih belum stabil dan salah satu buktinya gagal test untuk mengisi jabatan di KPPN Prima. Eyang memang bukan orang yang bersih.Sdh rahasia umum, 1 kebaikan eyang, 1000 keburukannya. Juga, yang layak dipuja dan dipuji itu hanya Sang Khaliq. Kita kan kholaqa, sebatas yang dicipta, siap jalani qadha dan qadar dengan istiqomah. Soal teman, kebetulan memang banyak, tapi umumnya mereka tidak sejahat eyang. Kalau soal tulisan eyang di forum sebetulnya tidak terlalu dalam. Itu hanya opini eyang setelah melihat, mengalami dan merasakan perjalanan mutasi era DJPBN. Misalnya : ada teman yang mutasi ke Monas akhir 2004, satu SK dgn mutasi eyang ke Jyp dan sampai hari ini dia bergeming saja tidak dari kursinya. Padahal eyang sempat 1x lagi mutasi. Setelah 2 tahun 3 bulan di Jayapura (terasa lama buangeet), Pebruari lalu kena mutasi ke Kendari. Ada lagi teman, dulu mitra waktu masih di PAIK dan eyang tahu banget tentang dirinya (juga keluarganya). Tidak ada angin tidak ada hujan, tahu-tahu promosi di Kantor Pusat. Eyang sempat terbengong-bengong seharian. Satu kasus mutasi lain, teman ini dulu mitra kerja eyang di BAKUN. Setelah 1 tahun lebih eyang mutasi ke Kwl Jayapura, teman eyang tadi promosi dari esl-IVA menjadi esl-IIIA ke luar Jawa (tanda kutip ini artinya seperti/dekat dengan Jawa, hanya 6 -7 jam bawa mobil sendiri, sudah pakai santai 2,5 jam di Ferry). Belum lama ini dia kena mutasi, kembali ke Kantor Pusat. Untuk ybs tentu eyang ucapkan selamat. Tetapi, pendapat eyang untuk pengambil kebijakan - pinjam nasehat Ronggowarsito : Ngono yo ono ning ojo ngono -. Mau gila (kuasa) silakan saja tapi pantas-pantas dikit, dong. Misal : Kalau memang diprogram ybs akan diorbitkan di pusat, waktu promosi ke esl-III pertama kali tempatnya agak pas jadi kawah candradimuka, seperti Ambon, Kupang atau jauh sedikit lagi. Seperti dulu di jaman Jahiliyah ada teman yang mau diorbitkan di Pusat. Tapi untuk itu dia promosi esl-IIIB dulu ke Wamena, walau hanya 11 bulan. Harus juga dicatat, teman yang ngorbit lewat Wamena ini dikenal teman-teman lain se DJA memang pandai, komunikatif, ngganteng dan pengalaman soal ke-DJAannya tidak diragukan. (Kalau ybs baca pasti eyang dapat amplop THR, nih. Kira-kira boleh nggak, ya?). Sekedar untuk Ikyusan ketahui, kalau tidak kepleset kulit pisang yang dibuang orang di jalan, insya Allah 4 tahun lagi eyang pensiun dengan pangkat pengabdian IV/C. Kebetulan 2 orang penerus juga sudah mandiri. Si Mbarep, perempuan, disunting teman Prodip anda angkatan 2001 dan sudah punya momongan. Si Ragil, laki-laki, lulus Prodip Pajak tahun 2004, sudah ditempatkan di KPP Cikarang. Oh ya Eyang putri, juga masih PNS aktif di Kantor Pusat DJBC. Jadi, apes-apesnya ngomong salah di forum dan kena cekal, masih bisa numpang makan ke istri dan anak sambil momong cucu. Kalau jenuh di rumah, mudah-mudahan Blue Bird mau terima eyang jadi supir. Soal penguasaan jalan di Jakarta tidak perlu diragukan. Asli lahir, besar dan sekolah di Jakarta. Sempat jadi adik kelas Pak Herry Purnomo dan Mbak Susi Henny waktu di SMP III dan SMA VIII Jakarta. Atau kalau kena mutasi lagi, paling apes kan ke Ambon, Ternate atau Kupang, walaupun tidak tertutup kemungkinan kembali lagi ke Papua (seperti Prasetya Palgunardi, kembali ke Kupang). Doa dan harapan eyang, kalau kembali ke Papua, mudah-mudahan gerbong kwl Jyp sudah ganti masinis. Bukan apa-apa, biar kalau nanti cerita ke cucu, Si Hanif (insya Allah lurus hatinya), bisa bilang : Waktu eyang bertugas di Papua sempat melayani 3 orang kepala kanwil, Nif.! Jadi, mohon Ikyusan gak usah ragu, tetap masukkan eyang dalam kategori mencari muka yang hilang entah dimana. Yuk kita sama-sama kosongkan pikiran dari segala dualitas, susah-senang, tawa-tangis, bersih-kotor dan pahit-manis. Enaknya, sambil memejamkan mata, kita wisata jauh aja ke dalam lubuk hati masing-masing. Kadang, dengan mata terpejam kita justru dapat melihat lebih dalam dan lebih jauh. Met bekerja dan buat HaBeWe, di Kendari saya merambah mancing sampai ke laut skalian menelusuri jejak-jejak senior, alm Mas Tunggul Hutomo (semoga Allah memberikan tempat terbaik untuknya). Wassalam.
Eyang Kakung, Bagus K. On Tue, 25 Sep 2007 08:40:06 -0000 "ikyusan hidayat" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > wah daleem banget.......... > mudah2an bapak ini bukan sedang ber"kamuflase"..... > maaf ya pak...soalnya banyak banget orang so bersih >sekarang, dan > parahnya dipuja2 sama adik2 eks.prodip... > tapi kita mesti maklum... di film2 aja kalo "PeNjAHat" >banyak banget > t'mennya...... :D > > "bagus konstituante" wrote: > > Buat cucu2 di forum-prima, > > Menurut eyang tentang mutasi, baik pejabat, setengah > pejabat ato pelaksana, sptnya tidak ada kiat yang pas >tuk > jadi acuan. Yg paling tepat kasih saran tentunya mrk2 yg > merasakan `nikmatnya' mutasi, misalnya : > 1. Dia yg 1 thn 4x tcantum dlm SK mutasi dan stlh di >Dit. > PA (Dit. Paling Ayem?) seakan tenggelam, tdk tcantum >lagi > namanya di SK mutasi (sdh dihabitatnya?); > 2. Dia yg stengah pejabat di pusat, promosi eselon-3 jg >di > pusat dan kena 1x mutasi tetap di pusat; > 3. Dia yg plaksana di pusat, numpang promosi eselon-4/A >ke > remote area, mis ke Jyp, trus kena mutasi ke pusat, di > sebelah kursi yg dulu ditempati wkt plaksana; > 4. Dia yg mjabat lebih dari 4 thn di suatu daerah dan >tdk > jg kena mutasi. Jika yg spt ini, hrs diketahui, >daerahnya > mana dulu. Kalo bukan njabat di sekitar Monas, tak perlu > kasih kiat. Spt Chandra yang mnetap di desa jauh mall >sdh > 6 thn lebih, gak usah ikut2, diam aja duduk yg manis, > tunggu TSUNAMI (Tante Sun Ada Minat). > Yang perlu diingat, pak Lutfi sdh pensiun, jgn lagi >dibawa > namanya. Eranya juga sdh brubah, skrng eranya BUCHERI > (cari ndiri singkatanny). Soal sleksi untuk para >manajer, > itu mudah dan sudah mulai dilaksanakan. Bagian > Pengembangan punya dana lebih, koq. Tapi ingat, sleksi >ini > tidak brarti akan mhasilkan manajer yg bersih dan > bkualitas. Kenapa bgitu? Karena soal moral dan >integritas > blm tentu nyambung. Saat ini kita sdh biasa mengukur > sukses seseorang dari sberapa mampu dia numpuk asset >slama > jadi pns dan duduk di satu kursi. Misal, kalo ada >plaksana > di Dit. XY mampu beli rmh seharga 1 milyar, itu hebat >dan > sukses. Tapi, kalo ada pjabat eselon-3 belum mampu beli > rmh sendiri, masih jadi kontraktor, justru org itu > dianggap aneh. Bisa jadi si pjabat tadi malah dianggap >gak > pandai membina relasi, kurang komunikatif dan tidak >pantas > duduk di kursi-kursi strategis. > Itu aja buat cucu2ku hari ini. Masih panjang koq > sambungannya tuk hari2 esok. > > Salam, > > Eyang Kakung > > > > ======================================================================================== "Sambil berpuasa, ikuti Netkuis Ramadhan 1428 H. Menangkan Laptop, Ipod dan HP Nokia di akhir periode netkuis dan dapatkan Flash disk di tiap minggunya dengan mengikuti Netkuis di http://netkuis.telkom.net/" ========================================================================================
