Saya pernah di DLN dan kenal dengan bapak tapi lebih banyak mendengar
tentang kesahajaan bapak. Selamat bergabung di forum ini semoga
bermanfaat.

Memang kita harus prihatin dan lebih prihatin lagi berkaitan sistem
hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku layaknya rimba
hukum yang didalamnya ada semak belukar penuh duri, binatang buas,
ular berbisa tapi sekaligus buah-buahan segar mengundang selera,
negeri yang ironis yang masihkah layak buat ditempati buat orang-orang
optimis yang mendahulukan kata hati nurani?

Kalau sinyalemen yang mengatakan begitu banyak peraturan dan
perundangan-undangan yang ada lebih merupakan berbasis komunitas
(kaplingan) untuk kepentingan kelompok atau golongan sendiri dan
penafsirannya bukan berdasarkan kemaslahatan umum saya khawatir kalau
solusi untuk mengantisipasinya juga dengan membuat penafsiran baru
berbasis komunitas lagi, hemat saya itu hanya akan membuat penafsiran
dari pihak yang kuat untuk menekan yang lemah. Karena pada umumnya
orang yang berbekal hati nurani cendrung individulaismenya tinggi
yaitu tingkat kemandirian dalam menelusuri peraturan berdasarkan
kemaslahatan umum yang lebih luas karena inilah biasanya yang lebih
mendekati hati nurani (baca: harus dibedakan dengan individualistis)

Kalau keyakinan umat beragama dalam pengertian munculnya "the holly
man" yaitu manusia suci dalam konteks sekarang apalagi dalam konteks
Indonesia kini maka dipenjara bukan suatu yang tidak mungkin.  Karena
Keadilan hukum itu sendiri selalu tertinggal dengan rasa keadilan,
pada tarikan nafas pertama hukum itu bisa adil pada saat penafsiran
waktu itu tetapi tidak pada tarikan nafas berikutnya. Indonesia yang
mengalami krisis multidimensional sangat mungkin baru mengungkapkan
konsep The Holly Man saja sudah ditolak apa lagi teriak-teriak
mendapat wahyu.

Dengan demikian buat yang Muslim cukuplah Rasulullah sebagai suri
tauladan tidak yang lain. Untuk itu saya ingin mengutip sejarah
Rasulullah dari Jalal Center.

Muhammad, Sang Reformis Agung
Menegakkan Ummat

Reformasi Rasulullah saw antara lain adalah mengubah masyarakat dari
sistem sosial yang berdasarkan kesukuan, kekeluargaan, dan kelompok
kepada komunitas yang berdasarkan ideologi Islam, dari Tribalisme ke
Komunitas, dari perasaan kekabilahan ke sebuah sistem yang didasarkan
kepada ikatan keislaman atau Ukhuwwah Islamiyah. Nabi mengubah sebuah
masyarakat yang diikat oleh kesetiaan kepada kelompok menjadi
kesetiaan kepada Islam. Dari kehidupan yang berdasarkan semangat suku
dan fanatisme kelompok kepada kehidupan yang didasarkan kepada
persaudaraan Islam.

Nabi sangat menentang orang-orang yang mendahulukan kepentingan
kesukuan dan keluarga di atas kepentingan Islam.

Dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah, orang-orang bergabung tidak
dalam suku bangsa, tapi dalam kabilah atau keluarganya masing-masing.
Misalnya dalam kabilah Bani Kinanah, Bani Quraisy, dan Bani Kilab.

Kesetiaan seseorang bergantung kepada kabilahnya. Kalau ada tamu
datang pada satu kabilah, maka tamu itu bukan tamu kepada seseorang
saja tetapi ia adalah tamu bagi seluruh kabilah itu. Kalau ada orang
yang memusuhi kabilah itu, maka dia bukan saja musuh bagi seseorang,
tapi musuh bagi seluruh anggota kabilah itu. Kalau ada orang yang
terbunuh di antara mereka, maka seluruh kabilah akan membelanya. Tidak
jadi persoalan apakah orang itu benar atau salah. 

Dalam kehidupan padang pasir yang gersang, perlindungan kelompok itu
sangat penting. Karena itu, mereka setia kepada kelompok-nya. Itulah
yang kita sebut Tribalisme. Dari situlah bermuara nepotisme.

Nepotisme adalah pemilihan orang bukan berdasarkan kemampuannya tapi
berdasarkan hubungan kekeluargaan. Bila seseorang bersalah, namun
orang itu ialah keluarganya, maka dia akan dibebaskan dari segala
hukuman. Right or wrong is my relative.

Tidak setiap pengangkatan keluarga jadi pegawai adalah Nepotisme.
Orang keliru beranggapan tentang Nepotisme. Sampai ada yang mengatakan
bahwa mazhab Ahlul Bait adalah mazhab nepotisme. Padahal tidak seluruh
keluarga Ahlul Bait itu dijadikan Imam. Pernah Ibrahim as bermohon
kepada Allah, meminta supaya keturunannya dijadi-kan Imam. Tuhan
langsung memotong salah satu unsur nepotisme dengan berkata, "Keluarga
kamu, Insya Allah, akan jadi Imam. Tapi tidak semua keluarga kamu jadi
Imam. Hanya keluarga kamu yang tidak zhalimlah yang jadi Imam." (Lihat
QS. Al-Baqarah 124).

Walaupun ada anggota keluarga yang ditunjuk, mereka ditunjuk
berdasarkan kemampuan. Kita berbuat zhalim bila kita tidak mau
menerima seseorang yang mampu hanya karena dia adalah keluarga. Hal
itu merupakan nepotisme pada titik ekstrem yang lain. Sumber Nepotisme
adalah Tribalisme. Nabi Muhammad SAW datang untuk mereformasi sistem
seperti itu.

Pada mulanya, orang mengikuti banyak Kabilah. Pemimpin kabilah itu
disebut Maulâ. Di dalam Bahasa Arab, orang yang memerintah satu
tempat, satu propinsi, atau satu kabilah disebut Maulâ. Maulâ pun
berarti orang yang dipertuan atau orang yang dianggap sesepuh.
Kalau ada seseorang yang lari karena dikejar-kejar oleh satu kelompok,
kemudian ia berlindung pada kelompok yang lain, maka dia harus memilih
salah seorang dari satu kelompok itu untuk melindungi dia. Orang yang
dipilih disebut Maulâ dan anehnya, orang yang berlindung kepadanya
juga disebut Maulâ.

Maulâ adalah orang yang melindungi seseorang dan Maulâ juga berarti
orang yang dilindungi oleh Maulâ itu. Budak-budak belian yang
dilindungi oleh seseorang disebut Maulâ. Misalnya, Salim Maulâ Abi
Huzaifah. Salim itu lari dari kabilahnya. Ketika ia mencari
perlindungan, ia bertemu Abu Huzaifah yang melindunginya. Sehingga
Salim disebut Salim Maulâ Abi Huzaifah dan bisa juga disebut Abu
Huzaifah Maulâ Salim.

Nabi mengajarkan masyarakat Arab untuk meninggalkan seluruh Kabilah
itu. Mereka harus mencari pelindung yang satu saja yaitu Allah swt.
Dengan kedatangan Nabi, semua kabilah yang banyak itu, seakan-akan
disuruh memilih di antara dua kabilah saja;  "Kabilah" Allah dan
kabilah selain Allah.

Oleh Al-Qur'an, kabilah selain Allah itu disebut Thaghut. Allah
sekarang menjadi Maulâ buat orang-orang mukmin. Dalam suratsurat
Muhammad ayat 11, Allah berkata: "Itu karena Allah adalah Maulânya
orang-orang yang beriman". Sementara dalam Al-Hajj ayat 78, Tuhan
berfirman, "Berlindunglah kamu semua dalam perlindungan Allah. Dia
akan jadi Maulâ kamu. Dialah sebaik-baik Maulâ dan sebaik-baiknya
penolong". Orang-orang Islam yang sudah tergabung dalam kabilah Allah
diperintahkan untuk meninggal-kan segala macam kabilah itu dan
dianjurkan untuk berdoa "Anta maulânâ fanshurnâ `alal qaumil kâfirîn.
Engkaulah pelindung kami. Dan tolonglah kami menghadapi orang-orang
kafir." (QS. Al-Baqarah 286).

Allah adalah maula. Allah juga adalah wali. Orang-orang yang
mengangkat Allah sebagai wali, adalah juga menjadi wali, waliyullâh.
Allah menjadi walinya dan ia menjadi wali Allah.

Allah menegaskan bahwa orang-orang yang masuk Islam harus meninggalkan
kesetiaan kepada kabilah-kabilah dan kepada maula-maula yang banyak
itu. Sekarang kesetiaannya itu harus dipersembahkan kepada seorang
maula saja yaitu Allah swt. "Allâhu waliyul ladzîna âmanû. Yukhrijuhum
minnazh zhulumâti illan nûr. Allah adalah wali orang-orang yang
beriman. Allah mengeluar-kan mereka dari berbagai kegelapan kepada
cahaya". (QS. Al-Baqarah 257).

Orang-orang kafir itu mempunyai banyak wali. Di hadapan Allah, semua
wali itu sejenis saja, yaitu Thaghut. Thaghut  artinya tiran. Berasal
dari kata thaghâ yang artinya berbuat zhalim. Dalam Al-Qur'an, tidak
ada bentuk jamak dari kata Thaghut. Dalam surat Ali-Imran ayat 68,
Tuhan berfirman, "Allah adalah wali orang-orang beriman". Adapun dalam
surat Al-Maidah ayat 55 dijelaskan, "Wali kamu adalah Allah,
Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman".

Maaf kalau agak panjang sambil juga mengingatkan diri saya sendiri
yang banyak alfa dan hanya Allah lah sebaik-baik pelindung.
yondi

--- In [email protected], tardjani Umar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Teman-teman di Ditjen Perbendaharaan yang tercinta.
> 


Kirim email ke