Kemana lagi harus berharap dan mencari jawab... Adalah sebuah pandangan yg sangat baik, saat digulirkan sistem grade dalam pembayaran TKPKN. Filosofi yg dikemukakan pun sangat layak untuk didukung. Hadiah diberikan sebagai bonus kinerja yang baik dari seorang pegawai, sementara hukuman diberikan sebagai pemacu untuk meningkatkan kinerja yang kurang baik dari seorang pegawai. Diperlukan prinsip measureable, reasonable, dan reachable yang terstandar dan berlaku umum dlm menentukan kriteria kinerja yg harus dicapai seorang pegawai untuk dapat mengukur dirinya sendiri dan menginstrospeksi diri.
Adalah saat ini sedang atau mungkin sudah dilakukan penilain kembali atas kinerja pegawai untuk menentukan tingkat grade di semester yang akan datang. Dengan tetap menghormati prinsip kerahasiaan dan hak-hak yang dimiliki oleh semua pimpinan yang menentukan tingkat grade pegawai (mulai dari atasan langsung sampai atasanya atasan langsung). Saya juga ingin mengetuk hati para pimpinan atas kejadian yang saya alami di semester lalu. Mengapa hal ini saya lakukan, karena mumpung SK grade, yang akan menentukan punish atau reward saya di 6 bulan ke depan, saya ingin mencari kejelasan mengapa saya berada pada grade terendah ? Adalah saya, seorang korpel di salah satu KPPN di Kalimantan sebelum munculnya KPPN Percontohan/Prima, kemudian lulus dalam tahap II seleksi pegawai KPPN Percontohan. Sebelum keberangkatan di tempat baru, di tempat lama sedang dirumuskan penilain grade kepada pegawai2 di wilayah itu. Atas jasa dan kinerjanya dan melihat sistem pembayaran TKPKN/TC lama yg memberikan reward berupa tunjangan kepada seorang korpel, maka seorang korpel layak mendapatkan grade tertinggi di dalam pangkatnya, kecuali mungkin bila reputasi si korpel benar2 jelek. Dan hasilnya, rumusan SK grade korpel saya pun diberikan pada level 2 digit. Namun semua harapan itu pupus saat SK grade di tempat baru (KPPN Percontohan/Prima) menyatakan bahwa saya hanya layak berada pada grade terendah dalam kepangkatan saya. Kaget, pasrah, bingung, dan berusaha menghibur diri atas nasib di 6 bulan ke depan karena secara nominal selisih penghasilan dari perbedaan grade itu bisa untuk membeli tiket pesawat pulang pergi. Adalah beban psikologis yang lebih terasa dibanding dengan hitung-hitungan nominal rupiah antara grade 9 dan grade 11. Bisakah anda bayangkan ketika diantara sekian puluh korpel/ex korpel di sekeliling kita ternyata hanya andalah yg grade-nya terendah ? Dalam hati pun bertanya, adakah korpel/ex korpel di seluruh Indonesia yang mendapatkan grade terendah dalam pangkatnya ? Andai tidak ada, mungkin sayalah yang pertama dan satu-satunya di seluruh Indonesia. Dan andai ada yg mengalaminya, mungkinkah kinerja saya termasuk dalam jajaran korpel dengan kinerja terjelek di seluruh Indonesia ? Adalah saya yang pernah mencoba membuat aplikasi gaji yg tdk terikat pd urutan DUK yang kaku dan berhasil menerapkannya di KPKN . saat kebanyakan aplikasi gaji menggunakan indeks berkonsep DUK, dan Pak Hari Santoso pun mengakuinya. Adalah saya yang mencoba berani mengambil tantangan Pak Pardiharto untuk membuat database yang diperlukan Bidang PPKN di Kanwil .. Adalah saya yang mencoba mengusulkan membangun database pagu-realisasi di Bidang PA sebagai pembanding 'baris kedua' dan keperluan analisa data di Kanwil ... Adalah saya yang mencoba memberi pendapat "belum setuju" kepada Pak Tri Buwono saat berdiskusi tentang akan diterapkannya aplikasi GPP di wilayah kerja Kanwil Surabaya bahkan di seluruh Indonesia pada awal-awal tahun 2007 karena melihat belum sempurnanya aplikasi. Adalah saya yang mencoba berusaha membuat terobosan membuat beberapa laporan Seksi Bank Tunggal di KPPN sehingga kecepatan, ketepatan pun dapat meningkat. Adalah saya yang mencoba membuat dan menjelaskan konsep pengawasan data pagu-realisasi di Seksi Perbendaharaan secara bertingkat dan pengecekan kode2 isian SPM secara aplikasi kepada Pak Hans Henry Hastowo. Adalah tidak etis bila saya harus membanding-bandingkan dan merengek minta pemberian grade yang `layak' bagi ex korpel karena melihat ada pegawai lain dengan pangkat sama, yang korpel dan yang bukan korpel, dan dg kinerja yg 'berani diadu', justru mendapatkan grade yang lebih tinggi dari saya. Dalam kondisi yg demikian, semangatpun terus tetap dipertahankan meski dg lewat syair. Syair tentang masa depan setelah memikirkan dan merenungkan segala hal, isu, rumor, harapan, kekecewaan, optimisme, dsb. yang muncul di berbagai forum obrolan di warung, di kantor, di internet, yang mengiringi lahirnya filosofi NEW REWARD & PUNISHMENT. Maka terciptalah sebuah syair berjudul, KETAKUTAN DITENGAH PENGHARAPAN DAN KEKECEWAAN. Awalnya si prima berpikir sangat optimis mencerna uraian tentang kehebatan dan keunggulan proyek percontohan. Pekerjaan seabrek dapat dilakukan dengan cepat, tepat, tanpa berjubel aparat. Terbayang betapa supernya si prima karena satu orang prima sebanding dengan tiga orang pra prima. Terbayang pula betapa enerjiknya si prima karena berada dalam rentang usia 35 tahun kebawah demi memperjuangkan harapan banyak orang dan bertahan di grade batas terbawah. Di tengah opini kecewa dan saling kutuk karena adanya tiga grade bagi pelaksana, si prima tetap melangkah. Hampir menyembur tarikan kecewa akibat opini negatif telah merambah ke segala arah, termasuk ke dalam hati dan otak si prima. Namun semburan itu mereda lebih diakibatkan daya imun hati dan akal serta sebuah pengharapan besar dari banyak orang. Akankah gaya minimalis personil si prima mengharuskan semua personil bekerja lebih keras...??? TIDAK...!!!! Itu tindakan bodoh, tolol dan harakiri. LALU....??? Yang dibutuhkan adalah personil yg mau bekerja lebih pintar..!!! Ingat, si prima bukanlah robot. Si prima tetaplah manusia yg mempunyai naluri kemanusiaan tentang kehidupan organisasi, individu, keluarga, dan masyarakat. Dari sudut pandang maslow, si prima dianggap sudah mencapai tangga aktualisasi diri walau masih dalam bayang2 tingkat mempertahankan diri. Bila mengacu hukum pareto dan paradigma siapa sibuk dia dipeluk, maka pastilah si prima akan berkeluh lelah. Namun demikian, layar itu telah berkibar dan sang nahkoda pun telah bersiar di berbagai alat siar. Dan suara mesin itupun kini telah menderu. Berdebar si prima karena menunggu suara terompet sebagai tanda acara tergelar. Mungkinkah si prima berhasil...??? Mungkinkah si prima tetap prima ...??? Mungkinkah si prima patut dicontoh...??? Mungkinkah si prima mampu menjelajah...??? ataukah malah berlayar dengan payah ....??? Masih adakah bercokol rasa takut ...??? Masih adakah bergantung rasa harap ....??? Masih adakah bergulat rasa kecewa ....??? Semua pun bersuara... MASIH.....??? Dan si bijak pun berlinang kata dengan mengalirkan arus kalimat, "ITU MANUSIAWI...." Semua pun merenung arti linangan kata itu, apakah sedih ataukah senang atukah berarti.... .... cukup sekian.... --- Setelah hampir 6 bulan berlalu dan harapan akan datangnya SK grade yang lebih baik dari sebelumnya telah saya dengar maka kebanggaan itu tumbuh kembali. Tapi semuanya akan lebih membanggakan bila grade itu sudah tercantum dan tertulis secara resmi di dalam SK. Tingkat grade yang terdengar dan tertulis adalah dua hal yang berbeda. Dan untuk tujuan itulah tulisan ini saya buat. Adalah sebuah hak saya untuk bertanya pada suatu hal ( dlm hal ini tingkat grade TC), dan untuk mendapatkan informasi atas suatu kejadian yang bertujuan pada kebaikan bagi semua pihak. Bisakah bertanya dg analogi DP3, dimana seorang pegawai diberi hak jawab dan bertanya bila nilai raport DP3 nya ternyata turun. Bisakah bertanya dg analogi hukuman disiplin, dimana ada pernyataan tertulis/lisan yg ditujukan kepada pegawai tentang kesalahannya sehingga ia dihukum. Bisakah bertanya dg analogi SOP, dimana segala langkah kerja sudah terstandar di seluruh Indonesia sehingga seharusnya demikian juga dengan penilaian grade. Bisakah bertanya dg analogi rapel gaji/TC, dimana bila terjadi kesalahan penilaian maka hak pegawai untuk mendapatkan rehabilitasi penghasilannya dimintakan. Bisakah bertanya dg analagi LAKIP, dimana performance dan kinerja seseorang dpt diukur (measurable), dpt dicapai (reachable), dan dpt masuk akal (reasonable) shg ia relatif dpt menghitung tingkat performance-nya. Bisakah bertanya dg analogi Laporan, dimana sejarah suatu nilai terus dihitung sehingga sejarah jabatan seorang pegawaipun menjadi fakta untuk tetap dilihat, dimana sejarah kinerja & inovasinya tetap diperhitungkan. Pertanyaanpun menggelinding ke segala arah untuk instrospeksi diri apakah memang know-how (input), kemampuan problem solving (througput), dan akuntabilitas (output) yang saya miliki memang hanya sebesar batas minimal grade dlm kepangkatan saya. Perbandinganpun dipampangkan di depan cermin kinerja diri ini, apakah memang kinerja dan sejarah kerja saya kalah dengan pegawai lain yang mendapatkan grade lebih tinggi pada tingkat kepangkatan yang sama. Dan hasilnya ? Semua belum saya temukan jawabannya. Adalah sebuah penantian dari diri ini untuk menanyakan tentang sebuah kondisi yg sulit untuk dijawab oleh diri sendiri. Adalah sebuah keberanian yang muncul setelah perenungan panjang selama hampir 6 bulan untuk mengungkap pertanyaan tak terjawab. Adalah sajak, syair, dan lagu yang mampu menghibur hati dan pikiran ini tuk tetap bertahan pada kinerja yang prima. Adalah sebuah syair yang menjadi bara semangat kinerja di awal kumandang mplementasi KPPN Prima : ... MENGGANTUNG ASA PRIMA .... Pernahkah kita bertanya dimana letak harapan itu ...? Pernahkah kita bertanya kemana larinya harapan itu..? Si muda menjawab, harapan itu ada dalam masa depan kami. Sementara si tak muda menjawab, harapan itu telah lewat meninggalkan kami. Orang berharap pada si muda, Orang menghadap pada si tak muda. Kepada si muda, orang menitip pesan, Kepada si tak muda, orang mengirim pesanan. Tidak mudah mengubah paradigma, Tidak kenal waktu untuk meniti cita-cita. Bilakah orok itu mampu menghapus belukar jebak..? Mampukah sang orok membuktikan asa orang-orang penghuni negeri..? Orok itu tak mampu menjawab, karena si orok baru mampu menghilangkan satu kata dalam kamus kerjanya, 'MENYERAH'. --- Adalah sebuah syair yang mendorong diri ini untuk tetap tahu posisi dalam hierarki organisasi: orang lebih senang berandai orang lebih senang menguji dan orang orang lebih senang menilai saat berada di bawah kita sering tergoda untuk berpikir di atas saat diberi perintah kita memaksa untuk memberi perintah namun saat disuruh berpikir kita malah berkhayal berpikir tepat untuk bertindak tepat pada waktu yg tepat pula itulah sejatinya kehidupan dalam sebuah organisasi saat segala sesuatu dibedakan berdasar hierarki namun ada satu hal yang mesti direnung di saat semua komponen mampu memberi pendapat berpikirlah dari segala tempat bertindaklah sesuai dengan tempat dan tentukan waktu yang tepat untuk memulainya agar memberi manfaat dan menampung sebanyak mungkin manfaat dan kata sepakat Adalah sebuah harapan, bahwa kejadian 6 bulan lalu hanyalah mimpi buruk sebagaimana lagu KISAH SEDIH DI HARI MINGGU yang dinyanyikan oleh Koes Plus : sabtu malam ku sendiri tiada teman kunanti di sekitar kulihat dia tiada seindah dulu mungkinkah ini berarti aku tlah patah hati walaupun kuberkata bukan bukan itu penyesalanku makin dalam dan sedih tlah kuserahkan semua milik dan hidupku aku tak mau menderita begini mudah-mudahan ini hanya mimpi hanya mimpi kisah sedih di hari minggu yg slalu menyiksaku ku takut ini kan kubawa sampai mati (.... eh sampe 6 bulan ke depan ...)
