Seharusnya otoritas kepegawaian or pihak-pihak yang berwenang sudah
tahu resiko seperti yang Mr. Hanafi tulis. Apalagi gaya birokrasi paternalistik
dan feodalistik masih kental ama mereka yang rada "tertinggal"
Jadi bola liarnya ada ditangan wewenang kepegawaian or pengembangan pegawai.
Karena mereka yang takut/malu bertanya akhirnya menyesatkan dan memberikan
penderitaan bagi orang lain. Sekarang tinggal dikomunikasikan lewat surat dinas
or nota dinas or telpon dinas or email dinas or dalam kesempatan rapat
berkunjung maka saya rasa komunikasi yang gak nyambung tentang
"konvensi-konvensi" tadi bisa diluruskan. Saya yakin dengan sedikit sentuhan
dari PUSAT pada mereka2 yang takut disangka goblok, maka semuanya akan relatif
happy ending:)
Kalo bisa sih jangan nunggu sampe kelamaan, 6 bulan lebih, satu tahun atau
lebih lama lagi atau nunggu sampe mereka yang takut disangka goblok pensiun???
Soalnya kalo kelamaan makin banyak korban dan penderitaan yang dirasakan oleh
pegawai2 rendahan kaya kita2. Makin banyak doa2 yang dipanjatkan, makin banyak
dosa-dosa yang dipanen oleh kita baik yang menzalimi ataupun yang mengumpat
tidak puas.
GIMANA ORANG (UP OR PENGEMBANGAN) PUSAT????
jamur_kuping <[EMAIL PROTECTED]> wrote: awalnya memang terasa ndak
adil..
parameter penentuan kan kadang tidak jelas, abu-abu...
banyak pimpinan yang kagok...
kaget...
apalagi di level eselon, tunjangannya kan naik jauuuuh banget
jadi cenderung shock..