Boleh komentar dikit nih... Menurut pendapat saya uang makan ngak usah di repotin naik apa tidak... kan jelas uang makan diberikan kepada pegawai yang lagi kerja di Kantor. kalau lagi DL ngak kasih kan. jadi kalau liat lagi trend-nya kita suka dengan biaya riil (biaya yang dikeluarkan sesuai dengan bukti pengeluaran yang sah) maka bikin aja berapa kita makan siang hari itu sesuai apa yang kita makan (kalau makan bakso plus es teh harganya Rp.7.000,- ya itu lah uang makan pada hari kerja itu dibayar Rp.7.000,-) tapi buat juga dengan sistem ambang batas atas dan bawah kaya harga tiket gitu lho.. Negara bisa hemat tapi juga bisa buntung gara2 semua pake ambang batas atas he..he..
Tapi btw, kalau ngomongin model kaya begitu (batas atas atau bawah) seperti SPPD memang bangsa kita jago-jago ngemplang. Alias jadi pencuri amatiran...(bahkan profesional) Memang benar apa yang disampaikan Den Boedhi, saya menyaksikan pengakuan beberapa teman bagaimana mereka mengakali aturan Perjalanan dinas (KMK 45/PMK.05/2007 atau PER-34/PB/2007) bagaimana membuat kuitansi hotel yang disulap jadi Harga tertinggi... ongkos/tiket pesawat yang bisa di sulap juga... ternyata sudah ada tiket bodong/palsu lengkap dengan boordingnya... gilee... kata anak ane itu mah DOORAKA.... masuk NERAKA....makanya bangsa kita Banyak CILAKA nya. Dedi ti Mamuju Calbupkarawang2010.blogspot.com --- In [email protected], "Den_Boedhi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Nambah dikit nih bung puang_darman: > 1. Naikkan tarif uang makan, caranya? Hapus komponen lembur dari > dipa, split dananya menjadi uang makan. > 4. Ternyata perjalanan dinas masih bisa diakali, karena banyak hotel > mau memberi kuitansi dengan harga tidak sesuai dengan harga kamar > yang dipakai (contoh nginap di kamar standar/ ekonomi tapi minta > kuitansi kamar dulux), agar dibikin aturan/ edaran ke Asosiasi Hotel > Indonesia berikut sanksi thd pelanggaran. > > Sekian terima kasih > > From Raha, > HaBeWe > denboedhi.blogspot.com > boedhi4171.multiply.com >
