saya pernah ngobrol dengan para assessor... memang ada kemungkinan seseorang melakukan 'kecurangan' dalam proses assessment... tapi itu hanya berpengaruh sangat sedikit terhadap hasil keseluruhan... karena tetap bisa ketahuan.. parameter2 apa yang dipakai ? ini bukan menggunakan "walahualam bisawab" ini bisa diukur.. dan ilmiah... tapi saya kurang pas njawab, lah saya ndak punya gelar psikolog
karena itu, assessment yang sekarang digelar juga melibatkan psikolog-psikolog untuk mewawancarai anda-anda sekalian biar mak-jreng.. minimal ketahuan karakter sampeyan seperti apa... PS : sekadar mengingatkan, Soal yang lagi marak, KPU-BC.. bukannya ini sama saja dengan yang terjadi di salah satu kantor kita di Bandung kemarin ? amplop di depan mata petugas KPK... -- jamur_kuping h4nafi [at] depkeu.go.id --- In [email protected], endah marty <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Menurut saya ini sangat besar kemungkinannya. > Bisa saja peserta assessment/seleksi kurang paham dengan instruksi yang diberikan pada waktu test dilakukan. Untuk test ini biasanya intruksinya adalah: pilih yang sesuai dengan diri anda. Ini berarti bahwa seharusnya pilihan peserta test adalah yang memang benar sesuai dengan pribadi dia, bukan pilihan yang terbaik secara normatif (benar dan baik menurut hukum dan norma yang berlaku). ... > > Apakah benar demikian? walahualam bisawab. > > Lantas bagaimana dong seharusnya? Menurut saya sih kembali lagi ke "nurani" masing-masing. > Kalo memang segala bentuk test tetap harus dilakukan, kiranya ada semacam cara/metode untuk memastikan bahwa jawaban/pilihan peserta test yang diberikan secara tertulis HARUS dikonfirmasi ulang, untuk menjamin bahwa pilihannya adalah sesuai dengan pribadi yang memilih, bukan pilihan mana yang benar/baik secara normatif. Mampukah konsultan melakukannya?
