maaf ya pak, mohon jangan jadi esmosis... saya rasa, siapapun yang pro reformasi (termasuk saya) tidak akan ada yang membenarkan kejadian di bandung maupun di KPU BC. saya menulis demikian hanya sebagai pembanding, jangan sampai kita membandingkan jeruk dengan apel (walaupun sama2 buah). saya melihat, awalnya diskusi ini adalah mengenai adanya "penyimpangan" terhadap orang-orang yang telah berhasil lulus test (orang KPU BC) yang artinya, sesuai tulisan bapak, moral itu fluktuatif. jadi yang sudah lulus test belum tentu konsisten terus sepanjang masa, yang tadinya belum lulus test pun bukan berarti "tidak mampu" bukan? Begitu aja pak, saya kira kita setuju bahwa kita akan selalu berperang melawan gratifikasi. Masalah "keyakinan" hasil assessment, mungkin benar banyak yang meragukan. Namun saya juga yakin, mereka mempunyai pertimbangan tersendiri (entah itu subyektif atau menurut informasi yang dapat dipertanggungjawabkan) kenapa menilai demikian. saya rasa, seiring waktu berjalan, kita dapat melihat. dan hanya waktu yang dapat membuktikan. Barangkali, akan lebih bagus bila dalam periode tertentu dilakukan evaluasi, agar menghasilkan sesuatu yang lebih memuaskan. Mohon maaf bila tulisan saya masih amburadul dan kurang berkenan pak. Hanya sekedar urun rembug aja, tidak bermaksud negatif.
Mudah-mudahan kita semua dapat mendukung segala perjuangan dalam rangka mewujudkan reformasi birokrasi yang berhasil. Amin. Salam, --- In [email protected], "h4nafi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > assessment moral ? > moral itu fluktuatif dan ..., > jangan dikira Habib Rizieq kemarin itu yang salah dan Gunawan Muhammad > yang bener... > atau jangan pula dikira Banser lebih bermoral dibanding FPI > Kalau kita bicara moral, nantinya arahnya jadi makin subjektif > > Banyak dari kita yang tidak 'meyakini' hasil assessment, dan ini sama > saja kita meragukan rekan-rekan kita yang sekarang di KPPN-P > berapa > > >
