Tidak begitu jauh dari perbudakan.
kutipan:Untuk tiap pasang sepatu itu buruh Tkk dibayar rata-rata US$1,09. Upah
yang diterima buruh Tkk hanya 31 sen tiap jam, sedangkan profit yang didapat
perusahaan multinasional asing dari setiap buruh Tkk adalah $12,24
On Thursday, January 4, 2018, 2:42:19 AM PST, Tatiana Lukman
<[email protected]> wrote:
Argumentasi yang aneh dan tidak masuk akal! Apakah karena kita tinggal di
negeri kapitalis, maka kita harus mendukung, memuja dan berterima kasih kepada
sistim kapitalis? Marx, Engels dan Lenin, semua tinggal di negeri bersistim
kapitalis, tapi ajaran dan prakteknya justru membelejeti dan mengutuk kekejaman
dan kebusukan sistim penghisapan. Teorinya merupakan pembimbing untuk
membebaskan rakyat dari penghisapan tersebut!!!
Chan mempostingkan berita tentang "Made in China", sudah tentu karena ia
memang bangga akan "kebesaran" dan "kemakmuran" Tkk kapitalis. Tkk memang sudah
menjadi pabriknya dunia. Sayang sekali penulis artikel ini tidak melihat lebih
dalam lagi apa yang ada di belakang "Made in China" itu. Jadi hanya lihat
kulitnya saja. Di samping masalah penghisapan yang menjadi sandaran pokok bagi
pencapaian yang dibanggakan kaum pendukung Tkk kapitalis, mereka melupakan
dampak dari status pabrik dunia itu, seperti misalnya, penyusutan tanah
pertanian, polusi udara, tanah dan air luar biasa, penyusutan sumber air (hal
ini yang terus dicanangkan oleh kaum tani dan pembela lingkungan yang menentang
pabrik semen Rembang!) Tkk sekarang harus mengimport bahan makanan, seperti
gandum, kacang kedelai. Tidak seperti dulu, sepenuhnya swasembada.
Kita memang tenggelam dalam barang-barang made in China. Tapi jangan lupa
teknologi dan merek dari banyak barang-barang canggih itu! Bukan teknologi dan
merek asli Tkk! Komputer saya mereknya Dell dan made in China! Ingat para buruh
yang bunuh diri di pabrik Foxconn yang memproduksi ipad, iphone Apple???
Itulah praktek outsourcing... Siapa yang mengeruk keuntungan luar biasa dari
tenaga kerja murah?? Ya para boss Apple!!
Mobo Gao, dalam "The Battle for China"s Past" bicara tentang sebuah kronik yang
menderetkan sukses dalam ilmu dan teknologi dari tahun 1966 sampai 1976,
artinya periode yang menurut kaum revisionis dan borjuis Barat "10 tahun yang
hilang". Misalnya, mobil "Bendera Merah", peletusan bom atom, pembuatan insulin
kristal sintetis untuk sapi, komputer transistor, komputer sirkuit terpadu,
kamera tiga dimensi otomatis, ambiotik Qingda, peluncuran satelit, rel kereta
api elektron, tanker 100.000 ton, perkembangan sumur minyak Dagang dan Shenli
dan kilang minyak Yanshan Peking. Dalam kronik tersebut bahkan tercatat
konferensi pertama tentang lingkungan dan politik pemerintah untuk mengatasi
polusi air.
Makanya saya bilang, seandainya kaum remo tidak berkuasa dan mengubah haluan,
Tkk sudah siap tinggal landas untuk meneruskan industrialisasi modernnya dan
pasti kemakmuran dan keberhasilan luar biasa akan dicapai. Dan itu akan dicapai
TANPA PENGHISAPAN terhadap rakyatnya sendiri maupun rakyat negeri lain atau
menjarah SDA negeri lain dan Tkk tidak akan memandang perlu memiliki basis
militer di negeri lain!!!
Justru untuk mempertahankan status "pabrik dunia" dan ekonomi terus berputar
itulah, Tkk membutuhkan bahan baku/SDA/minyak dari negeri lain. Dan berapa
keuntungan Tkk dan perusahaan yang menjalankan subkontrak multinasional raksasa
dunia? Mobo Gao menjelaskan, sepasang sepatu merek Puma dijual di AS antara
US$65,00-%100,00 (tentu pada tahun bukunya ditulis). Untuk tiap pasang sepatu
itu buruh Tkk dibayar rata-rata US$1,09. Upah yang diterima buruh Tkk hanya 31
sen tiap jam, sedangkan profit yang didapat perusahaan multinasional asing dari
setiap buruh Tkk adalah $12,24
Untuk memproduksibarang-barang yang diekspor ke pasar dunia, buruh Tkk pada
umumnya harusbekerja dari jam 7:30 AM sampai jam 9:00 PM. Kadang-kadang harus
kerja lembursampai jam 12:00 PM tanpa tambahan bayaran tiap jam, atau bahkan
tanpa bayaransama sekali. Tidak boleh bicara ketika bekerja dan tidak boleh
meninggalkanhalaman pabrik tanpa ijin. Kalau datangtelat 5 menit, maka upah
dipotong sebanyak 3 jam kerja. Buruh mendapat istirahatsatu jam untuk makan
siang, dan satu setengah jam untuk makan malam. Merekatidur di barak-barak yang
terletak di sekitar pabrik: 12 orang dalam setiapkamar dan satu kamar mandi
untuk 100 orang. (China Labour Watch 2004).
On Thursday, January 4, 2018 2:32 AM, "Hsin Hui Lin [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Correction:Salah ketik, "segelintir manusia MENGHISAP majority"
On 4 Jan 2018 6:57 a.m., "Hsin Hui Lin" <[email protected]> wrote:
Bg. Lusi. Nah anda tinggal di German yn maju dan nyaman apalagi kalau di
banding jika Anda tinggal di Tanah Air, Indonesia...... Loo dari mana
kesejahteraan yg di capai German...... datang dari sorga atau dari hasil
penghisapan manusia oleh segelintir manusia yg menghadiri majority.... Tak
langsung anda menikmati hasil penghisapan itu.... Nyaman kan??. Sebagai ahli
teori Marxist, dari dasar "kebenaran berdasarkan fakta, kenyataan", bagimana
menilai kemajuan Tiongkok.Ngelamun tak akan membawa kita ke masyarakat yg anda
impikan Lin
On 4 Jan 2018 1:21 a.m., "Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Menarik juga ya bahkan Alquran-pun made in China, dan itu di Mekkah.
Mereka yang umrah, naik haji, dan pakai tasbih, sajadah, kafiah, peralatan
salat, bahkan Alquran buatan orang-orang kafir itu bagaimana ya hukumnya,
termasuk halal atau haram? Apakah ada sertifikasi halal dari MUI?
Terus bagaimana dgn Habib Rizieq Shihab, Ustad Abdul Somad, ataupun Anies
Baswedan waktu umroh di Mekkah itu, apakah juga pakai barang buatan orang2
kafir itu?
Kutipan berita:Tak terkecuali kota suci Mekkah sekalipun. Lihat saja semua
pernak-pernik peralatan ibadah umat Islam yang ada, hampir semua berasal dari
Negeri Naga ini! Ada tasbih, sajadah, kafiah, peralatan salat, malah
Alquran sekalipun, semua tertulis ”made in China”.
---In [email protected], <lusi_d@...> wrote :
Made in China itu hanya menjelaskan: dibuat di Tiongkok. Yang semacam
itu baru menjelaskan produk apa yang dihasilkan dan belum menjawab
bagaimana produk itu dihasilkan. Sedangkan untuk menjawab masalah
kesejahteraan masyarakatnya harus jelas bagaimana sistim produksi yang
berlaku di dalam masyarakatnya, apakah berwatak exploitation de l'home
par l'home atau tidak kata Bung Karno.
Am Wed, 3 Jan 2018 21:22:05 +0800
schrieb "'Chan CT' SADAR@... [nasional-list]"
<[email protected] >:
> Made in China
> Koran Sindo
> Senin, 18 Desember 2017 - 07:08 WIB
> https://nasional.sindonews.c om/newsread/1266546/18/made-in -china-1513533508
>
> Joni Hermana
> Staf Pengajar ITS Surabaya
>
> SAYA tidak terlalu yakin apakah Anda sependapat dengan saya,
> namun percayakah Anda dengan pendapat ”tiada hari tanpa
> produk negeri China dalam kehidupan kita?” Coba simak
> bagaimana sulitnya seorang ibu bernama Sara Bongiorni
> beserta keluarganya di Amerika Serikat berjuang selama
> setahun untuk tidak menggunakan barang yang berbau China.
> Pengalaman luar biasa ini dia tulis dalam bukunya yang
> berjudul A Year Without ”Made in China”. Atas eksperimennya itu,
> dia ternyata harus berjibaku, berkendaraan dari mal ke mal
> sekedar mencari sebuah kolam renang plastik untuk anaknya.
> Bayangkan! Ini sekadar untuk menggambarkan bahwa tidak mudahnya
> kita melepaskan diri dari barang buatan China dalam kehidupan
> keseharian kita, bahkan untuk negara maju sekelas AS sekalipun.
> Produk buatan negeri China sudah merasuk ke dalam semua sendi
> kehidupan kita; di rumah, di sekolah, tempat kerja, dan di
> mana-mana. Kalau bulan pun ada penduduknya, sudah dipastikan ada
> buatan negeri China di sana, he.. he.. Tak terkecuali kota suci
> Mekkah sekalipun. Lihat saja semua pernak-pernik peralatan ibadah
> umat Islam yang ada, hampir semua berasal dari Negeri Naga ini! Ada
> tasbih, sajadah, kafiah, peralatan salat, malah Alquran
> sekalipun, semua tertulis ”made in China ”. Anehnya, walaupun produk
> mereka ini sudah menjadi keseharian dalam hidup kita,
> mayoritas bangsa kita pasti akan merasa gamang kalau diminta
> untuk memakai, apalagi membeli, produk berteknologi canggih dari
> negeri China. Setidaknya kita akan bertanya masygul apa beneran
> ya ? Sebab, branding produk buatan China yang tertanam dalam
> benak kita selama ini adalah untuk barang remeh-temeh dan -
> perlu juga dicatat - yang mudah rusak. Wajarlah ketika kemudian
> China menampilkan produk-produk mereka yang berteknologi tinggi
> dan modern di negara kita, banyak orang yang meragukan
> keandalannya. Demikian, orang-orang bertanya ketika mulai
> banyak infrastruktur dibangun oleh kontraktor China. Lalu,
> orang-orang juga bertanya ketika kereta cepat dibangun mereka.
> Tidak ketinggalan orang-orang juga bertanya ketika pembangkit
> listrik dibangun mereka... beneran nih ? Untuk menjawab
> keraguan seperti ini, tidak salah kalau direksi PLN mengajak
> akademisi dan para insan media mengunjungi pabrikan di China yang
> melaksanakan proyek pembangkit di Indonesia saat awal
> Desember beberapa saat lalu. Apa yang dilihat memang sangat
> berbeda dengan apa yang dibayangkan sebelumnya. Negeri China
> telah menjelma menjadi negara dengan kemampuan teknologi
> canggih dan terkini. Semuanya telah mereka kuasai. Sungguh luar
> biasa! Ini sesuai dengan misi mereka yang ingin menjadikan
> semuanya ”made in China ” pada 2025. China ingin mengubah wajah
> brandingnya tidak sekadar negara penghasil barang kelontongan,
> tetapi juga barang berkualitas dengan dimensi teknologi tinggi,
> canggih, dan terkini. Penguasaan yang bahkan menembus ke
> teknologi luar angkasa. Tampaknya cita-cita itu akan mudah
> terwujud dengan kesiapan infrastruktur dan sumber daya
> manusia yang mereka miliki. Yang mengagumkan juga adalah peran
> pemerintah yang demikian besar (baca: negara hadir!) untuk menjamin
> keberlanjutan produk-produk industrinya, China telah menggelar
> garis imajiner ”New Silk Road ” untuk memastikan aktivitas ekonomi
> mereka jalan dan berlanjut. Ini semua dengan memanfaatkan potensi
> pasar yang ada di negara-negara Jalur Sutra mereka, dari barat
> sampai timur dan dari utara sampai selatan dunia...(jadi ngiri
> melihat triple helix A-B-G mereka!) Melihat beragam teknologi
> modern yang telah dikuasai bangsa China, dapat disimpulkan bahwa
> dari aspek teknis, sebetulnya produk mereka tidak ada masalah..
> China hari ini bukan lagi China yang kemarin! Artinya keraguan
> dalam keandalan teknologi mereka akan hilang dengan sendirinya
> sejalan dengan waktu dan pengalaman. Toh, kita belajar, bagaimana
> ketika tahun 1960-70an dunia nyinyir terhadap mobil ”kaleng”
> buatan Jepang yang mulai masuk pasar ”menyaingi” mobil-mobil perkasa
> buatan Amerika dan Eropa yang saat itu merajai di jalan-jalan raya..
> Namun, seiring perjalanan waktu, kegigihan dan inovasi yang terus
> dilakukan produsen Jepang, mereka kemudian diterima bahkan
> digemari banyak orang. Sekarang Indonesia termasuk negara dengan
> persentase pemakai mobil Jepang terbesar di dunia di samping
> Jepang itu sendiri! Belajar dari pengalaman itu, teknologi tinggi
> buatan negeri China pun akan mengalami fase dan pola yang serupa
> dalam memasuki pasar di negara kita.
>
> SAYA tidak terlalu yakin apakah Anda sependapat dengan saya,
> namun percayakah Anda dengan pendapat ”tiada hari tanpa
> produk negeri China dalam kehidupan kita?”
>
> (kri)