Hahahaa, ... ini nenek dalam tempurung masih saja dengungkan lagu lama, jadi 
seperti gramofon rusak berputar ditempat, dengan mengunyah-ngunyah dalil lama 
seperti pemakan sirih! TANPA bisa melihat perkembangan nyata yang terjadi.

Bagaimana sesungguhnya “PENGHISAPAN MANUSIA ATAS MANUSIA” itu juga terjadi di 
jaman Mao yang dikatakan masyarakat sosialis itu! Bahkan dalam batas-batas 
tertentu bisa dikatakan jauh lebih KEJAM ketimbang penghisapan yang terjadi 
dimasyarakat Kapitalis. Tentu semua dilakukan atas nama RAKYAT, demi RAKYAT 
atas KESADARAN tinggi mengabdi rakyat, ... Coba saja perhatikan bagaimana 
kehidupan buruh yang dituntut berkesadaran tinggi MENGABDI RAKYAT, bukan saja 
harus mengebawahkan kepentingan pribadi, tapi juga mengHILANGKAN kepentingan 
pribadi! Begitu ekstrimnya, sampai-sampai seringkali diharuskan kerja LEMBUR 
dan itupun tanpa imbalan gaji-lembur berlipat sebagaimana biasa diberlakukan 
dalam masyarakat kapitalis! Tentu kerja lembur tanpa bayaran kalau hanya 
sekali-dua kali sih tidak apa, tapi kalau berkepanjangan sampai puluhan tahun 
begitu, apa TIDAK KASIHAN pada jutaan buruh yang diperas sampai nyaris kering, 
... hidup dalam kemiskinan dan serba kekurangan begitu!

Anda boleh bilang itu TERPAKSA, terpaksa karena pemerintah ketika itu 
menghadapi blokade sejagad AS dan kemudian juga dari USSR, dan,... harus 
mendahulukan PERTAHANAN, tapi itu tetap merupakan pemerasan berlebih yang 
mestinya juga bisa dihindari. Tidak perlu begitu sampai berkepanjangan, ...! 
Ada kesalahan yang terjadi disitu yang harus dibetulkan dan harus dikoreksi!

Kalau saja pernyataan anda diucapkan 20 tahun yl, orang akan sulit membantah, 
tapi sekarang masih saja juga dengungkan suara sumbang begitu, ... itu hanya 
buktikan anda betul-betul hidup dalam tempurung saja!! Sampai sekarang anda 
hanya terpaku pada bentuk penghisapan yang masih terjadi, TANPA bisa melihat 
atau TIDAK BERANI mengakui kenyataan perkembangan EKONOMI, TEKNOLOGI, 
PERTAHANAN yang dicapai RRT dan, ... KENYATAAN kesejahteraan RAKYAT Tiongkok 
yang juga melesat maju dengan dahsyat! Ingat, bukan hanya sudah lebih 300 juta 
RAKYAT Tiongkok masuk dalam klas menengah-atas, tapi PKT targetkan seluruh 
rakyat Tiongkok yg berjumlah lebih 1,3 milyar itu, nanti tahun 2020 TIDAK 
SEORANG pun boleh tertinggal masih dikategorikan MISKIN! Tiongkok memasuki 
masyarakat sedikit makmur!

Bahwa kesenjangan sosial masih terjadi adalah juga kenyataan yang tidak perlu 
disangkal, tapi saya yakin pada satu saat setelah kemakmuran dicapai lebih 
baik, tentu akan memasuki tahap meratakan kemakmuran yg sudah terjadi. 
Bagaimanapun juga berlimpahnya produksi hanya bisa dicapai dengan makin 
tingginya teknologi, dan dalam proses kemajuan pengenalan dan pengertian yang 
lebih baik, manusia akan menemukan cara untuk meratakan kemakmuran yang sudah 
terjadi itu. TIDAK AKAN membiarkan kesenjangan terus terjadi, ... Akan 
memberlakukan keadilan yang dirasa lebih ADIL bagi semua pihak, ...! Tentu 
tidak mesti dijalankan dengan kekerasan, dengan REVOLUSI membasmi kapitalis, 
tapi menjadikan semua warga juga pemilik kapital, semua RAKYAT menjadi 
kapitalis juga! Sebaliknya yang dulu dikatakan klas kapitalis adalah juga 
PEKERJA, dengan tugasnya masing-masing! 

Jadi, bukan dengan cara kapitalis harus dibasmi dengan mensita kelebihan 
kapital perseorangan, dan membuat mereka jadi MISKIN, ... tapi membatasi saja 
hak-milik kapital perseorangan tidak lebih dari sekian % dan dengan berangsur 
terus mengurangi persentasi hak-milik perseorangan, dimana untuk selebihnya 
harus dijual kepublik.  Dan, dengan makin meningkatkan kesejahteraan 
BURUH-PEKERJA dan PETANI, ... memungkinkan juga menjadi pemilik SAHAM, menjadi 
kapitalis! Itu yang saya lihat yang terjadi di Tiongkok dalam gerak 
mengentaskan kemiskinan, ... dimana semua petani didesa berubah menjadi pemilik 
SAHAM koperasi-desa yang dibentuk! Bukan hanya kerja KOLEKTIF yang 
dikembangkan, tapi juga semua tunjangan sosial yang mendasar, dari kesehatan, 
pendidikan anak-anak dan perawatan panti-jompo sepenuhnya ditanggung 
koperasi-desa itu. 

Itulah masyarakat sosialis berkepribadian Tiongkok yang hendak diwujudkan dalam 
kehidupan nyata. BUKAN meratakan KEMISKINAN tapi meratakan KEMAKMURAN!

Salam,
ChanCT


From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
Sent: Thursday, January 4, 2018 6:41 PM
To: [email protected] ; Jonathan Goeij ; Hsin Hui Lin 
Cc: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Daeng ; Harry 
Singgih ; Gol ; Farida Ishaja ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; [email protected] 
; Ronggo A. ; Billy Gunadi ; Oman Romana ; Harsono Sutedjo ; Sie Tik Tan ; 
[email protected] ; Tjoa ; Andreas Sungkono 
Subject: Re: [GELORA45] Re: [nasional-list] Made in China

  

Argumentasi yang aneh dan tidak masuk akal! Apakah karena kita tinggal di 
negeri kapitalis, maka kita harus mendukung, memuja dan berterima kasih kepada 
sistim kapitalis? Marx, Engels dan Lenin, semua tinggal di negeri bersistim 
kapitalis, tapi ajaran dan prakteknya justru membelejeti dan mengutuk kekejaman 
dan kebusukan sistim penghisapan. Teorinya merupakan pembimbing untuk 
membebaskan rakyat dari penghisapan tersebut!!!


Chan mempostingkan berita tentang "Made in China", sudah tentu karena  ia 
memang bangga akan "kebesaran" dan "kemakmuran" Tkk kapitalis. Tkk memang sudah 
menjadi pabriknya dunia. Sayang sekali  penulis artikel ini tidak melihat lebih 
dalam lagi apa yang ada di belakang "Made in China" itu. Jadi hanya lihat 
kulitnya saja. Di samping masalah penghisapan yang menjadi sandaran pokok bagi 
pencapaian yang dibanggakan kaum pendukung Tkk kapitalis, mereka melupakan 
dampak dari status pabrik dunia itu, seperti misalnya, penyusutan tanah 
pertanian, polusi udara, tanah dan air luar biasa, penyusutan sumber air (hal 
ini yang terus dicanangkan oleh kaum tani dan pembela lingkungan yang menentang 
pabrik semen Rembang!) Tkk sekarang harus mengimport bahan makanan, seperti 
gandum, kacang kedelai. Tidak seperti dulu, sepenuhnya swasembada.

Kita memang tenggelam dalam barang-barang made in China. Tapi jangan lupa 
teknologi dan merek dari banyak barang-barang canggih itu! Bukan teknologi dan 
merek asli Tkk! Komputer saya mereknya Dell dan made in China! Ingat para buruh 
yang bunuh diri di pabrik  Foxconn yang memproduksi ipad, iphone Apple??? 
Itulah praktek outsourcing... Siapa yang mengeruk keuntungan luar biasa dari 
tenaga kerja murah?? Ya para boss Apple!!

Mobo Gao, dalam "The Battle for China"s Past" bicara tentang sebuah kronik yang 
menderetkan sukses dalam ilmu dan teknologi dari tahun 1966 sampai 1976, 
artinya periode yang menurut kaum revisionis dan borjuis Barat "10 tahun yang 
hilang". Misalnya, mobil "Bendera Merah", peletusan bom atom, pembuatan insulin 
kristal sintetis untuk sapi, komputer transistor, komputer sirkuit terpadu, 
kamera tiga dimensi otomatis, ambiotik Qingda, peluncuran satelit, rel kereta 
api elektron, tanker 100.000 ton, perkembangan sumur minyak Dagang dan Shenli 
dan kilang minyak Yanshan Peking. Dalam kronik tersebut bahkan tercatat 
konferensi pertama tentang lingkungan dan politik pemerintah untuk mengatasi 
polusi air.

Makanya saya bilang, seandainya kaum remo tidak berkuasa dan mengubah haluan, 
Tkk sudah siap tinggal landas untuk meneruskan industrialisasi modernnya dan 
pasti kemakmuran dan keberhasilan luar biasa akan dicapai. Dan itu akan dicapai 
TANPA PENGHISAPAN terhadap rakyatnya sendiri maupun rakyat negeri lain atau 
menjarah SDA negeri lain dan Tkk tidak akan memandang perlu memiliki basis 
militer di negeri lain!!!

Justru untuk mempertahankan status "pabrik dunia" dan ekonomi terus berputar 
itulah, Tkk membutuhkan bahan baku/SDA/minyak dari negeri lain. Dan berapa 
keuntungan Tkk dan perusahaan yang menjalankan subkontrak multinasional raksasa 
dunia?  Mobo Gao menjelaskan, sepasang sepatu merek Puma dijual di AS antara 
US$65,00-%100,00 (tentu pada tahun bukunya ditulis). Untuk tiap pasang sepatu 
itu buruh Tkk dibayar rata-rata US$1,09. Upah yang diterima buruh Tkk hanya 31 
sen tiap jam, sedangkan profit yang didapat perusahaan multinasional asing dari 
setiap buruh Tkk adalah $12,24

Untuk memproduksi barang-barang yang diekspor ke pasar dunia, buruh Tkk pada 
umumnya harus bekerja dari jam 7:30 AM sampai jam 9:00 PM. Kadang-kadang harus 
kerja lembur sampai jam 12:00 PM tanpa tambahan bayaran tiap jam, atau bahkan 
tanpa bayaran sama sekali. Tidak boleh bicara ketika bekerja dan tidak boleh 
meninggalkan halaman pabrik tanpa ijin.  Kalau datang telat 5 menit, maka upah 
dipotong sebanyak 3 jam kerja. Buruh mendapat istirahat satu jam untuk makan 
siang, dan satu setengah jam untuk makan malam. Mereka tidur di barak-barak 
yang terletak di sekitar pabrik: 12 orang dalam setiap kamar dan satu kamar 
mandi untuk 100 orang. (China Labour Watch 2004).





On Thursday, January 4, 2018 2:32 AM, "Hsin Hui Lin [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:




  
Correction:Salah ketik, "segelintir manusia MENGHISAP majority"   

On 4 Jan 2018 6:57 a.m.., "Hsin Hui Lin" <[email protected]> wrote:

  Bg. Lusi. Nah anda tinggal di German yn maju dan nyaman apalagi kalau di 
banding jika Anda tinggal di Tanah Air, Indonesia...... Loo dari mana 
kesejahteraan yg di capai German...... datang dari sorga  atau dari hasil 
penghisapan manusia oleh segelintir manusia yg menghadiri majority.... Tak 
langsung anda menikmati hasil penghisapan itu.... Nyaman kan??. Sebagai ahli 
teori Marxist, dari dasar "kebenaran berdasarkan fakta,  kenyataan", bagimana 
menilai kemajuan Tiongkok.Ngelamun tak akan membawa kita ke masyarakat yg anda 
impikan Lin

  On 4 Jan 2018 1:21 a.m., "Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:

      
    Menarik juga ya bahkan Alquran-pun made in China, dan itu di Mekkah. Mereka 
yang umrah, naik haji, dan pakai tasbih, sajadah, kafiah, peralatan salat, 
bahkan Alquran buatan orang-orang kafir itu bagaimana ya hukumnya, termasuk 
halal atau haram? Apakah ada sertifikasi halal dari MUI?

    Terus bagaimana dgn Habib Rizieq Shihab, Ustad Abdul Somad, ataupun Anies 
Baswedan waktu umroh di Mekkah itu, apakah juga pakai barang buatan orang2 
kafir itu?

    Kutipan berita:
    Tak terkecuali kota suci Mekkah sekalipun. Lihat sa­ja semua pernak-pernik 
per­alat­an ibadah umat Islam yang ada, hampir semua berasal dari N­e­geri Naga 
ini! Ada tasbih, sa­ja­dah, kafiah, peralatan salat, ma­l­ah Alquran sekalipun, 
se­mua tertulis ”made in China”.







    ---In [email protected], <lusi_d@...> wrote :


    Made in China itu hanya menjelaskan: dibuat di Tiongkok. Yang semacam
    itu baru menjelaskan produk apa yang dihasilkan dan belum menjawab
    bagaimana produk itu dihasilkan. Sedangkan untuk menjawab masalah
    kesejahteraan masyarakatnya harus jelas bagaimana sistim produksi yang
    berlaku di dalam masyarakatnya, apakah berwatak exploitation de l'home
    par l'home atau tidak kata Bung Karno.




    Am Wed, 3 Jan 2018 21:22:05 +0800
    schrieb "'Chan CT' SADAR@... [nasional-list]"
    <[email protected] >:


      > Made in China
      > Koran Sindo
      > Senin, 18 Desember 2017 - 07:08 WIB
      > https://nasional.sindonews.c om/newsread/1266546/18/made-in 
-china-1513533508
      > 
      > Joni Hermana
      > Staf Pengajar ITS Surabaya
      > 
      > SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan sa­ya,
      > namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada hari tanpa
      > produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an ki­ta?” Co­ba simak
      > ba­gai­mana su­litnya s­e­orang ibu bernama Sa­ra Bo­­ngi­or­ni
      > beserta ke­lua­r­ga­­nya di Ame­rika Serikat ber­­juang se­la­ma
      > setahun un­tuk ti­dak meng­gu­na­kan barang yang berbau Chi­­na.
      > Pe­nga­la­man luar bia­sa ini dia tulis da­lam bu­ku­nya yang
      > be­r­judul A Year Wi­thout ”Made in Chi­na”. Atas eksperimennya itu,
      > dia ter­nyata harus ber­­ji­ba­ku, ber­ken­daraan da­ri mal ke mal
      > se­ke­dar me­n­cari se­buah ko­lam re­nang plastik un­tuk anaknya.
      > Bayangkan! Ini sekadar un­­tuk menggambarkan bah­wa ti­dak mudahnya
      > ki­ta melepaskan di­ri dari b­a­rang buatan China da­lam keh­idupan
      > keseharian ki­ta, bahkan untuk negara ma­ju se­kelas AS sekalipun.
      > Produk buatan negeri China su­dah merasuk ke da­lam semua sen­di
      > ke­h­i­dup­an kita; di rumah, di se­ko­lah, tempat kerja, dan di
      > mana-mana. Kalau bulan pun ada penduduknya, sudah dipas­ti­kan ada
      > buatan negeri China di sa­na, he.. he.. Tak terkecuali kota suci
      > Mekkah sekalipun. Lihat sa­ja semua pernak-pernik per­alat­an ibadah
      > umat Islam yang ada, hampir semua berasal dari N­e­geri Naga ini! Ada
      > tasbih, sa­ja­dah, kafiah, peralatan salat, ma­l­ah Alquran
      > sekalipun, se­mua tertulis ”made in China ”. Anehnya, walaupun produk
      > me­reka ini sudah menjadi kes­e­ha­ri­an dalam hidup kita,
      > ma­yo­ri­tas bangsa kita pasti akan me­ra­sa gamang kalau diminta
      > u­n­tuk memakai, apalagi membeli, pro­duk berteknologi cang­gih da­ri
      > negeri China. Se­tidaknya ki­ta akan ber­ta­nya masygul apa be­neran
      > ya ? Sebab, branding pro­duk buatan China yang ter­­ta­nam dalam
      > benak ki­ta selama ini adalah untuk ba­rang remeh-t­e­meh dan -
      > per­lu juga dicatat - yang mu­dah rusak. Wajarlah ketika kem­u­di­a­n
      > Chi­na menampilkan produk-pro­duk mereka yang ber­tek­no­lo­gi tinggi
      > dan modern di negara kita, ba­nyak orang yang me­ra­gu­­kan
      > keandalannya. De­mi­­ki­an, orang-orang ber­ta­nya ke­ti­ka mulai
      > banyak in­frastruktur di­ba­ngun oleh kontraktor Chi­n­a. La­lu,
      > orang-orang juga ­ber­ta­nya ketika kereta cepat di­b­­a­ngun mereka.
      > Tidak ke­ting­­gal­an orang-orang ju­ga bertanya ke­tika pem­bang­kit
      > listrik di­ba­ngun me­reka... beneran nih ? Untuk menjawab
      > ke­ra­gu­an se­p­erti ini, tidak sa­lah kalau di­rek­si PLN meng­ajak
      > akademisi dan pa­ra insan media mengun­jungi pabrikan di China yang
      > me­laksanakan pro­yek pem­bang­­kit di In­do­ne­sia saat awal
      > De­sember b­e­be­rapa saat lalu. Apa yang di­li­hat memang sa­ngat
      > berbeda de­ngan apa yang di­bayangkan se­be­lumnya. Ne­ge­ri China
      > telah men­jelma me­n­ja­di negara de­ngan kemampuan tek­n­ologi
      > cang­gih dan terkini. Se­muanya te­lah mereka kuasai.. Sung­guh luar
      > biasa! Ini sesuai de­ngan misi mereka yang ingin men­ja­di­kan
      > semuanya ”made in Chi­na ” pada 2025. China ingin meng­ubah wajah
      > brandingnya ti­dak se­kadar negara penghasil ba­rang kelontongan,
      > tetapi juga ba­­rang berkualitas dengan di­men­­si teknologi tinggi,
      > cang­gih, dan terkini. Penguasaan yang bahkan menembus ke
      > tek­no­­logi luar angkasa. Tam­pak­nya cita-cita itu akan mudah
      > ter­wu­­jud dengan kesiapan in­fra­struk­­tur dan sumber daya
      > ma­nu­­sia yang mereka miliki. Yang mengagumkan juga ada­lah peran
      > pemerintah yang de­mikian besar (baca: negara ha­dir!) untuk menjamin
      > ke­ber­lan­jutan produk-produk ind­us­tri­nya, China telah menggelar
      > ga­ris imajiner ”New Silk Road ” un­tuk memastikan aktivitas eko­nomi
      > mereka jalan dan ber­lan­jut. Ini semua dengan me­man­faatkan potensi
      > pasar yang ada di negara-negara Jalur Sutra me­reka, dari barat
      > sampai timur dan dari utara sampai selatan du­nia...(jadi ngiri
      > melihat triple he­lix A-B-G mereka!) Melihat beragam teknologi
      > mo­dern yang telah dikuasai bang­sa China, dapat disim­pul­kan bahwa
      > dari aspek teknis, se­be­tulnya produk mereka tidak ada masalah.
      > China hari ini bu­kan lagi China yang kemarin! Ar­ti­nya keraguan
      > dalam ke­an­dal­an teknologi mereka akan hi­lang dengan sendirinya
      > sejalan d­e­ngan waktu dan pengalaman. Toh, kita belajar, bagaimana
      > k­e­tika tahun 1960-70an dunia nyi­nyir terhadap mobil ”ka­leng”
      > buatan Jepang yang mulai ma­suk pasar ”menyaingi” mobil-mobil perkasa
      > buatan Ame­rika dan Eropa yang saat itu me­rajai di jalan-jalan raya..
      > Na­mun, seiring perjalanan waktu, ke­g­igihan dan inovasi yang te­rus
      > dilakukan produsen Je­pang, mereka kemudian di­te­ri­ma bahkan
      > digemari banyak orang. Sekarang Indonesia ter­ma­suk negara dengan
      > pe­r­sen­ta­se pemakai mobil Jepang ter­be­sar di dunia di samping
      > Jepang itu sendiri! Belajar dari pengalaman itu, tek­nologi tinggi
      > buatan negeri Chi­na pun akan mengalami fase dan pola yang serupa
      > dalam me­ma­suki pasar di negara kita.
      > 
      > SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan sa­ya,
      > namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada hari tanpa
      > produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an ki­ta?”
      > 
      > (kri)




Kirim email ke