Adalah sebuah FITNAHAN KEJI DAN REAKSIONER dari Chan yang mengatakan pada
jaman Mao terjadi penghisapan, bahkan lebih kejam dari pada yang ada dalam
kapitalisme. Di samping FITNAHAN, dengan tuduhannya itu Chan menunjukkan
KEBUTAAN DAN KEGOBLOKANNYA SENDIRI. Dan yang lebih tragis adalah sudah lama ia
MENGKHIANATI apa yang diperjuangkan oleh ayahnya sendiri.
Demi membela kapitalisme dan penghisapan, Chan dengan sengaja menghapus
perbedaan hakiki dalam nilai-nilai moral dan etik antara kapitalisme dan
sosialisme. Chan tidak pernah bisa menjawab ketika orang bicara tentang
nilai-nilai moral dan etik yang busuk, bobrok, menjijikan dan memuakkan yang
sekarang berdominasi di Tkk kapitalis. Tidak pernah menjawab atau berkomentar
tentang basis militer Tkk, tentang perlakuan Tkk terhadap negeri-negeri yang
berhutang, tentang penghisapan SDM dan penjarahan SDA yang dilakukan oleh
pemodal Tkk.
Chan tidak pernah mengerti, apalagi menerima ajaran Mao tentang "Mengabdi
Rakyat", tidak pernah mengerti apalagi menerima kampanye "memerangi egoisme,
melawan Revisionisme". Chan tidak pernah mengerti arti KESADARAN KELAS.
Karena lumpur revisionis telah menenggelamkan dan menempatkan orang-orang
seperti Chan di pihak imperialisme, maka mereka tidak akan mengerti MENGAPA
ORANG KOMUNIS DI SELURUH DUNIA RELA MENGORBANKAN BAHKAN JIWANYA SENDIRI BAGI
USAHA MEMPERJUANGAN MASYARAKAT SOSIALIS!!!! Mereka tidak minta bayaran!! Tidak
minta penghargaan! Tidak minta pujian! Sama sekali tidak minta apa-apa sebagai
ganti dari pengorbanan dan hilangnya jiwa mereka!!
Chan mengejek kaum buruh, kaum tani dan kelas pekerja Tkk yang bekerja
mati-matian, kerja lembur tanpa minta bayaran, untuk membangun NEGERINYA YANG
SEDANG MEMBANGUN SOSIALISME!! Bayangkan kepicikan dan juga reaksionernya si
remo Chan ini!! Menyamakan pengabdian rakyat pekerja yang membangun tanah air
sosialis dengan penderitaan rakyat pekerja di kapitalisme yang menghasilkan
profit bagi para majikan!!!
Bagaimana dengan rakyat Soviet di bawah Stalin yang bekerja mati-matian
membangun sosialisme? Bagaimana dengan jutaan rakyat Soviet yang bersedia
bekerja siang dan malam, dengan menahan lapar, memproduksi senjata, peluru,
meriam, untuk front melawan agresi Hitler???
Adalah Che Guevara yang mengajukan dan mempraktekkan "trabajo voluntario"
(kerja sukarela) dalam membangun sosialisme di Kuba. Seperti komunis-komunis
sejati didunia, Che , tidak saja omong, tapi juga menerapkan "trabajo
voluntario". Semua rakyat Kuba yang revolusioner melakukan "trabajo
voluntario".. Bahkan ada yang namanya brigada internasional dari AS dan
negeri-negeri Eropa yang sengaja datang ke Kuba, pertama-tama untuk turut serta
dalam "trabajo voluntario", membangun sekolah, klinik atau apartemen. Buat otak
bobroknya Chan, semua ini sudah tentu "penghisapan", bukan? Karena tak
sepeserpun mereka menerima untuk kerjanya itu!!!! Sudah harus bayar ongkos
perjalanan, eh masih harus kerja lagi!! Gobloknya orang-orang ini ya???
Begitulah jalan otak remo, anti sosialis Chan!
Bagaimana dengan orang-orang komunis Indonesia sejak 1926 yang rela masuk
penjara, rela digantung dan mati untuk memperjuangan Indonesia merdeka dan
sosialisme TANPA MENGKHIANATI CITA-CITANYA???? Belum menang revolusinya, tapi
sudah bersedia mereka berkorban dan mati!!! Tentu bagi otak busuknya si Chan,
orang-orang komunis ini goblok sekali ya, kok mau-maunya mati, wong menangpun
belum!!!
Berarti Chan juga tidak mengerti dan menerima jalan yang diambil oleh ayahnya
sendiri!! Ayahnya juga masuk keluar penjara, seperti banyak orang komunis
Indonesia lainnya! Lho, kok mau-maunya SGT berkorban??? Buat apa?? Apa ada
orang yang membayarnya? Apa ada yang menjanjikan medali emas??
Memang renegad dan pengkhianat macam Chan ini hanya patut masuk keranjang
sampah! Patut diangkat jadi kesayangan si Trump buat bersihkan toiletnya!!!
On Friday, January 5, 2018 5:26 AM, "'Chan CT' [email protected]
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:
Hahahaa, ... ini nenek dalam tempurung masih saja dengungkan lagu lama,
jadi seperti gramofon rusak berputar ditempat, dengan mengunyah-ngunyah dalil
lama seperti pemakan sirih! TANPA bisa melihat perkembangan nyata yang terjadi.
Bagaimana sesungguhnya “PENGHISAPAN MANUSIA ATAS MANUSIA” itu juga terjadi di
jaman Mao yang dikatakan masyarakat sosialis itu! Bahkan dalam batas-batas
tertentu bisa dikatakan jauh lebih KEJAM ketimbang penghisapan yang terjadi
dimasyarakat Kapitalis. Tentu semua dilakukan atas nama RAKYAT, demi RAKYAT
atas KESADARAN tinggi mengabdi rakyat, ... Coba saja perhatikan bagaimana
kehidupan buruh yang dituntut berkesadaran tinggi MENGABDI RAKYAT, bukan saja
harus mengebawahkan kepentingan pribadi, tapi juga mengHILANGKAN kepentingan
pribadi! Begitu ekstrimnya, sampai-sampai seringkali diharuskan kerja LEMBUR
dan itupun tanpa imbalan gaji-lembur berlipat sebagaimana biasa diberlakukan
dalam masyarakat kapitalis! Tentu kerja lembur tanpa bayaran kalau hanya
sekali-dua kali sih tidak apa, tapi kalau berkepanjangan sampai puluhan tahun
begitu, apa TIDAK KASIHAN pada jutaan buruh yang diperas sampai nyaris kering,
... hidup dalam kemiskinan dan serba kekurangan begitu! Anda boleh bilang itu
TERPAKSA, terpaksa karena pemerintah ketika itu menghadapi blokade sejagad AS
dan kemudian juga dari USSR, dan,.... harus mendahulukan PERTAHANAN, tapi itu
tetap merupakan pemerasan berlebih yang mestinya juga bisa dihindari. Tidak
perlu begitu sampai berkepanjangan, ...! Ada kesalahan yang terjadi disitu yang
harus dibetulkan dan harus dikoreksi! Kalau saja pernyataan anda diucapkan 20
tahun yl, orang akan sulit membantah, tapi sekarang masih saja juga dengungkan
suara sumbang begitu, .... itu hanya buktikan anda betul-betul hidup dalam
tempurung saja!! Sampai sekarang anda hanya terpaku pada bentuk penghisapan
yang masih terjadi, TANPA bisa melihat atau TIDAK BERANI mengakui kenyataan
perkembangan EKONOMI, TEKNOLOGI, PERTAHANAN yang dicapai RRT dan, ... KENYATAAN
kesejahteraan RAKYAT Tiongkok yang juga melesat maju dengan dahsyat! Ingat,
bukan hanya sudah lebih 300 juta RAKYAT Tiongkok masuk dalam klas
menengah-atas, tapi PKT targetkan seluruh rakyat Tiongkok yg berjumlah lebih
1,3 milyar itu, nanti tahun 2020 TIDAK SEORANG pun boleh tertinggal masih
dikategorikan MISKIN! Tiongkok memasuki masyarakat sedikit makmur! Bahwa
kesenjangan sosial masih terjadi adalah juga kenyataan yang tidak perlu
disangkal, tapi saya yakin pada satu saat setelah kemakmuran dicapai lebih
baik, tentu akan memasuki tahap meratakan kemakmuran yg sudah terjadi.
Bagaimanapun juga berlimpahnya produksi hanya bisa dicapai dengan makin
tingginya teknologi, dan dalam proses kemajuan pengenalan dan pengertian yang
lebih baik, manusia akan menemukan cara untuk meratakan kemakmuran yang sudah
terjadi itu. TIDAK AKAN membiarkan kesenjangan terus terjadi, ... Akan
memberlakukan keadilan yang dirasa lebih ADIL bagi semua pihak, ...! Tentu
tidak mesti dijalankan dengan kekerasan, dengan REVOLUSI membasmi kapitalis,
tapi menjadikan semua warga juga pemilik kapital, semua RAKYAT menjadi
kapitalis juga! Sebaliknya yang dulu dikatakan klas kapitalis adalah juga
PEKERJA, dengan tugasnya masing-masing! Jadi, bukan dengan cara kapitalis
harus dibasmi dengan mensita kelebihan kapital perseorangan, dan membuat mereka
jadi MISKIN, ... tapi membatasi saja hak-milik kapital perseorangan tidak lebih
dari sekian % dan dengan berangsur terus mengurangi persentasi hak-milik
perseorangan, dimana untuk selebihnya harus dijual kepublik.. Dan, dengan
makin meningkatkan kesejahteraan BURUH-PEKERJA dan PETANI, ... memungkinkan
juga menjadi pemilik SAHAM, menjadi kapitalis! Itu yang saya lihat yang terjadi
di Tiongkok dalam gerak mengentaskan kemiskinan, .... dimana semua petani
didesa berubah menjadi pemilik SAHAM koperasi-desa yang dibentuk! Bukan hanya
kerja KOLEKTIF yang dikembangkan, tapi juga semua tunjangan sosial yang
mendasar, dari kesehatan, pendidikan anak-anak dan perawatan panti-jompo
sepenuhnya ditanggung koperasi-desa itu. Itulah masyarakat sosialis
berkepribadian Tiongkok yang hendak diwujudkan dalam kehidupan nyata. BUKAN
meratakan KEMISKINAN tapi meratakan KEMAKMURAN! Salam,ChanCT From: Tatiana
Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Thursday, January 4, 2018 6:41
PMTo: [email protected] ; Jonathan Goeij ; Hsin Hui Lin Cc: Yahoogroups
; DISKUSI FORUM HLD ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Daeng ; Harry Singgih ; Gol ;
Farida Ishaja ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; [email protected] ; Ronggo A. ;
Billy Gunadi ; Oman Romana ; Harsono Sutedjo ; Sie Tik Tan ; [email protected] ;
Tjoa ; Andreas Sungkono Subject: Re: [GELORA45] Re: [nasional-list] Made in
China Argumentasi yang aneh dan tidak masuk akal! Apakah karena kita tinggal
di negeri kapitalis, maka kita harus mendukung, memuja dan berterima kasih
kepada sistim kapitalis? Marx, Engels dan Lenin, semua tinggal di negeri
bersistim kapitalis, tapi ajaran dan prakteknya justru membelejeti dan mengutuk
kekejaman dan kebusukan sistim penghisapan. Teorinya merupakan pembimbing untuk
membebaskan rakyat dari penghisapan tersebut!!!
Chan mempostingkan berita tentang "Made in China", sudah tentu karena ia
memang bangga akan "kebesaran" dan "kemakmuran" Tkk kapitalis. Tkk memang sudah
menjadi pabriknya dunia. Sayang sekali penulis artikel ini tidak melihat lebih
dalam lagi apa yang ada di belakang "Made in China" itu. Jadi hanya lihat
kulitnya saja. Di samping masalah penghisapan yang menjadi sandaran pokok bagi
pencapaian yang dibanggakan kaum pendukung Tkk kapitalis, mereka melupakan
dampak dari status pabrik dunia itu, seperti misalnya, penyusutan tanah
pertanian, polusi udara, tanah dan air luar biasa, penyusutan sumber air (hal
ini yang terus dicanangkan oleh kaum tani dan pembela lingkungan yang menentang
pabrik semen Rembang!) Tkk sekarang harus mengimport bahan makanan, seperti
gandum, kacang kedelai. Tidak seperti dulu, sepenuhnya swasembada. Kita memang
tenggelam dalam barang-barang made in China. Tapi jangan lupa teknologi dan
merek dari banyak barang-barang canggih itu! Bukan teknologi dan merek asli
Tkk! Komputer saya mereknya Dell dan made in China! Ingat para buruh yang bunuh
diri di pabrik Foxconn yang memproduksi ipad, iphone Apple??? Itulah praktek
outsourcing... Siapa yang mengeruk keuntungan luar biasa dari tenaga kerja
murah?? Ya para boss Apple!! Mobo Gao, dalam "The Battle for China"s Past"
bicara tentang sebuah kronik yang menderetkan sukses dalam ilmu dan teknologi
dari tahun 1966 sampai 1976, artinya periode yang menurut kaum revisionis dan
borjuis Barat "10 tahun yang hilang". Misalnya, mobil "Bendera Merah",
peletusan bom atom, pembuatan insulin kristal sintetis untuk sapi, komputer
transistor, komputer sirkuit terpadu, kamera tiga dimensi otomatis, ambiotik
Qingda, peluncuran satelit, rel kereta api elektron, tanker 100.000 ton,
perkembangan sumur minyak Dagang dan Shenli dan kilang minyak Yanshan Peking.
Dalam kronik tersebut bahkan tercatat konferensi pertama tentang lingkungan dan
politik pemerintah untuk mengatasi polusi air. Makanya saya bilang, seandainya
kaum remo tidak berkuasa dan mengubah haluan, Tkk sudah siap tinggal landas
untuk meneruskan industrialisasi modernnya dan pasti kemakmuran dan
keberhasilan luar biasa akan dicapai. Dan itu akan dicapai TANPA PENGHISAPAN
terhadap rakyatnya sendiri maupun rakyat negeri lain atau menjarah SDA negeri
lain dan Tkk tidak akan memandang perlu memiliki basis militer di negeri
lain!!! Justru untuk mempertahankan status "pabrik dunia" dan ekonomi terus
berputar itulah, Tkk membutuhkan bahan baku/SDA/minyak dari negeri lain. Dan
berapa keuntungan Tkk dan perusahaan yang menjalankan subkontrak multinasional
raksasa dunia? Mobo Gao menjelaskan, sepasang sepatu merek Puma dijual di AS
antara US$65,00-%100,00 (tentu pada tahun bukunya ditulis). Untuk tiap pasang
sepatu itu buruh Tkk dibayar rata-rata US$1,09. Upah yang diterima buruh Tkk
hanya 31 sen tiap jam, sedangkan profit yang didapat perusahaan multinasional
asing dari setiap buruh Tkk adalah $12,24 Untuk memproduksi barang-barang yang
diekspor ke pasar dunia, buruh Tkk pada umumnya harus bekerja dari jam 7:30 AM
sampai jam 9:00 PM. Kadang-kadang harus kerja lembur sampai jam 12:00 PM tanpa
tambahan bayaran tiap jam, atau bahkan tanpa bayaran sama sekali. Tidak boleh
bicara ketika bekerja dan tidak boleh meninggalkan halaman pabrik tanpa ijin.
Kalau datang telat 5 menit, maka upah dipotong sebanyak 3 jam kerja. Buruh
mendapat istirahat satu jam untuk makan siang, dan satu setengah jam untuk
makan malam. Mereka tidur di barak-barak yang terletak di sekitar pabrik: 12
orang dalam setiap kamar dan satu kamar mandi untuk 100 orang. (China Labour
Watch 2004).
On Thursday, January 4, 2018 2:32 AM, "Hsin Hui Lin [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Correction:Salah ketik, "segelintir manusia MENGHISAP majority" On 4 Jan
2018 6:57 a.m.., "Hsin Hui Lin" <[email protected]> wrote:
Bg. Lusi. Nah anda tinggal di German yn maju dan nyaman apalagi kalau di
banding jika Anda tinggal di Tanah Air, Indonesia...... Loo dari mana
kesejahteraan yg di capai German...... datang dari sorga atau dari hasil
penghisapan manusia oleh segelintir manusia yg menghadiri majority.... Tak
langsung anda menikmati hasil penghisapan itu.... Nyaman kan??. Sebagai ahli
teori Marxist, dari dasar "kebenaran berdasarkan fakta, kenyataan", bagimana
menilai kemajuan Tiongkok.Ngelamun tak akan membawa kita ke masyarakat yg anda
impikan Lin On 4 Jan 2018 1:21 a.m., "Jonathan Goeij [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Menarik juga ya bahkan Alquran-pun made in China, dan itu di Mekkah.
Mereka yang umrah, naik haji, dan pakai tasbih, sajadah, kafiah, peralatan
salat, bahkan Alquran buatan orang-orang kafir itu bagaimana ya hukumnya,
termasuk halal atau haram? Apakah ada sertifikasi halal dari MUI? Terus
bagaimana dgn Habib Rizieq Shihab, Ustad Abdul Somad, ataupun Anies Baswedan
waktu umroh di Mekkah itu, apakah juga pakai barang buatan orang2 kafir itu?
Kutipan berita: Tak terkecuali kota suci Mekkah sekalipun. Lihat saja semua
pernak-pernik peralatan ibadah umat Islam yang ada, hampir semua berasal dari
Negeri Naga ini! Ada tasbih, sajadah, kafiah, peralatan salat, malah
Alquran sekalipun, semua tertulis ”made in China”.
---In [email protected], <lusi_d@...> wrote :
Made in China itu hanya menjelaskan: dibuat di Tiongkok. Yang semacam
itu baru menjelaskan produk apa yang dihasilkan dan belum menjawab
bagaimana produk itu dihasilkan. Sedangkan untuk menjawab masalah
kesejahteraan masyarakatnya harus jelas bagaimana sistim produksi yang
berlaku di dalam masyarakatnya, apakah berwatak exploitation de l'home
par l'home atau tidak kata Bung Karno.
Am Wed, 3 Jan 2018 21:22:05 +0800
schrieb "'Chan CT' SADAR@... [nasional-list]"
<[email protected] >:
> Made in China
> Koran Sindo
> Senin, 18 Desember 2017 - 07:08 WIB
> https://nasional.sindonews.c om/newsread/1266546/18/made-in -china-1513533508
>
> Joni Hermana
> Staf Pengajar ITS Surabaya
>
> SAYA tidak terlalu yakin apakah Anda sependapat dengan saya,
> namun percayakah Anda dengan pendapat ”tiada hari tanpa
> produk negeri China dalam kehidupan kita?” Coba simak
> bagaimana sulitnya seorang ibu bernama Sara Bongiorni
> beserta keluarganya di Amerika Serikat berjuang selama
> setahun untuk tidak menggunakan barang yang berbau China.
> Pengalaman luar biasa ini dia tulis dalam bukunya yang
> berjudul A Year Without ”Made in China”. Atas eksperimennya itu,
> dia ternyata harus berjibaku, berkendaraan dari mal ke mal
> sekedar mencari sebuah kolam renang plastik untuk anaknya.
> Bayangkan! Ini sekadar untuk menggambarkan bahwa tidak mudahnya
> kita melepaskan diri dari barang buatan China dalam kehidupan
> keseharian kita, bahkan untuk negara maju sekelas AS sekalipun.
> Produk buatan negeri China sudah merasuk ke dalam semua sendi
> kehidupan kita; di rumah, di sekolah, tempat kerja, dan di
> mana-mana. Kalau bulan pun ada penduduknya, sudah dipastikan ada
> buatan negeri China di sana, he.. he.. Tak terkecuali kota suci
> Mekkah sekalipun. Lihat saja semua pernak-pernik peralatan ibadah
> umat Islam yang ada, hampir semua berasal dari Negeri Naga ini! Ada
> tasbih, sajadah, kafiah, peralatan salat, malah Alquran
> sekalipun, semua tertulis ”made in China ”. Anehnya, walaupun produk
> mereka ini sudah menjadi keseharian dalam hidup kita,
> mayoritas bangsa kita pasti akan merasa gamang kalau diminta
> untuk memakai, apalagi membeli, produk berteknologi canggih dari
> negeri China. Setidaknya kita akan bertanya masygul apa beneran
> ya ? Sebab, branding produk buatan China yang tertanam dalam
> benak kita selama ini adalah untuk barang remeh-temeh dan -
> perlu juga dicatat - yang mudah rusak. Wajarlah ketika kemudian
> China menampilkan produk-produk mereka yang berteknologi tinggi
> dan modern di negara kita, banyak orang yang meragukan
> keandalannya. Demikian, orang-orang bertanya ketika mulai
> banyak infrastruktur dibangun oleh kontraktor China.. Lalu,
> orang-orang juga bertanya ketika kereta cepat dibangun mereka.
> Tidak ketinggalan orang-orang juga bertanya ketika pembangkit
> listrik dibangun mereka... beneran nih ? Untuk menjawab
> keraguan seperti ini, tidak salah kalau direksi PLN mengajak
> akademisi dan para insan media mengunjungi pabrikan di China yang
> melaksanakan proyek pembangkit di Indonesia saat awal
> Desember beberapa saat lalu. Apa yang dilihat memang sangat
> berbeda dengan apa yang dibayangkan sebelumnya. Negeri China
> telah menjelma menjadi negara dengan kemampuan teknologi
> canggih dan terkini. Semuanya telah mereka kuasai. Sungguh luar
> biasa! Ini sesuai dengan misi mereka yang ingin menjadikan
> semuanya ”made in China ” pada 2025. China ingin mengubah wajah
> brandingnya tidak sekadar negara penghasil barang kelontongan,
> tetapi juga barang berkualitas dengan dimensi teknologi tinggi,
> canggih, dan terkini. Penguasaan yang bahkan menembus ke
> teknologi luar angkasa. Tampaknya cita-cita itu akan mudah
> terwujud dengan kesiapan infrastruktur dan sumber daya
> manusia yang mereka miliki. Yang mengagumkan juga adalah peran
> pemerintah yang demikian besar (baca: negara hadir!) untuk menjamin
> keberlanjutan produk-produk industrinya, China telah menggelar
> garis imajiner ”New Silk Road ” untuk memastikan aktivitas ekonomi
> mereka jalan dan berlanjut. Ini semua dengan memanfaatkan potensi
> pasar yang ada di negara-negara Jalur Sutra mereka, dari barat
> sampai timur dan dari utara sampai selatan dunia...(jadi ngiri
> melihat triple helix A-B-G mereka!) Melihat beragam teknologi
> modern yang telah dikuasai bangsa China, dapat disimpulkan bahwa
> dari aspek teknis, sebetulnya produk mereka tidak ada masalah..
> China hari ini bukan lagi China yang kemarin! Artinya keraguan
> dalam keandalan teknologi mereka akan hilang dengan sendirinya
> sejalan dengan waktu dan pengalaman. Toh, kita belajar, bagaimana
> ketika tahun 1960-70an dunia nyinyir terhadap mobil ”kaleng”
> buatan Jepang yang mulai masuk pasar ”menyaingi” mobil-mobil perkasa
> buatan Amerika dan Eropa yang saat itu merajai di jalan-jalan raya..
> Namun, seiring perjalanan waktu, kegigihan dan inovasi yang terus
> dilakukan produsen Jepang, mereka kemudian diterima bahkan
> digemari banyak orang. Sekarang Indonesia termasuk negara dengan
> persentase pemakai mobil Jepang terbesar di dunia di samping
> Jepang itu sendiri! Belajar dari pengalaman itu, teknologi tinggi
> buatan negeri China pun akan mengalami fase dan pola yang serupa
> dalam memasuki pasar di negara kita.
>
> SAYA tidak terlalu yakin apakah Anda sependapat dengan saya,
> namun percayakah Anda dengan pendapat ”tiada hari tanpa
> produk negeri China dalam kehidupan kita?”
>
> (kri)
#yiv7426355174 #yiv7426355174 -- #yiv7426355174ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7426355174
#yiv7426355174ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7426355174
#yiv7426355174ygrp-mkp #yiv7426355174hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mkp #yiv7426355174ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mkp .yiv7426355174ad
{padding:0 0;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mkp .yiv7426355174ad p
{margin:0;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mkp .yiv7426355174ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-sponsor
#yiv7426355174ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7426355174
#yiv7426355174ygrp-sponsor #yiv7426355174ygrp-lc #yiv7426355174hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7426355174
#yiv7426355174ygrp-sponsor #yiv7426355174ygrp-lc .yiv7426355174ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7426355174 #yiv7426355174actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7426355174
#yiv7426355174activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7426355174
#yiv7426355174activity span {font-weight:700;}#yiv7426355174
#yiv7426355174activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7426355174 #yiv7426355174activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7426355174 #yiv7426355174activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7426355174 #yiv7426355174activity span
.yiv7426355174underline {text-decoration:underline;}#yiv7426355174
.yiv7426355174attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7426355174 .yiv7426355174attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7426355174 .yiv7426355174attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7426355174 .yiv7426355174attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7426355174 .yiv7426355174attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7426355174 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7426355174 .yiv7426355174bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7426355174
.yiv7426355174bold a {text-decoration:none;}#yiv7426355174 dd.yiv7426355174last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7426355174 dd.yiv7426355174last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7426355174
dd.yiv7426355174last p span.yiv7426355174yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7426355174 div.yiv7426355174attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7426355174 div.yiv7426355174attach-table
{width:400px;}#yiv7426355174 div.yiv7426355174file-title a, #yiv7426355174
div.yiv7426355174file-title a:active, #yiv7426355174
div.yiv7426355174file-title a:hover, #yiv7426355174 div.yiv7426355174file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7426355174 div.yiv7426355174photo-title a,
#yiv7426355174 div.yiv7426355174photo-title a:active, #yiv7426355174
div.yiv7426355174photo-title a:hover, #yiv7426355174
div.yiv7426355174photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7426355174
div#yiv7426355174ygrp-mlmsg #yiv7426355174ygrp-msg p a
span.yiv7426355174yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7426355174
.yiv7426355174green {color:#628c2a;}#yiv7426355174 .yiv7426355174MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7426355174 o {font-size:0;}#yiv7426355174
#yiv7426355174photos div {float:left;width:72px;}#yiv7426355174
#yiv7426355174photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7426355174
#yiv7426355174photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7426355174
#yiv7426355174reco-category {font-size:77%;}#yiv7426355174
#yiv7426355174reco-desc {font-size:77%;}#yiv7426355174 .yiv7426355174replbq
{margin:4px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7426355174
#yiv7426355174ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7426355174
#yiv7426355174ygrp-mlmsg select, #yiv7426355174 input, #yiv7426355174 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7426355174
#yiv7426355174ygrp-mlmsg pre, #yiv7426355174 code {font:115%
monospace;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mlmsg #yiv7426355174logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-msg
p#yiv7426355174attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7426355174
#yiv7426355174ygrp-reco #yiv7426355174reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-sponsor
#yiv7426355174ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7426355174
#yiv7426355174ygrp-sponsor #yiv7426355174ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7426355174
#yiv7426355174ygrp-sponsor #yiv7426355174ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7426355174
#yiv7426355174ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7426355174