Adalah sebuah FITNAHAN  KEJI DAN REAKSIONER dari Chan yang mengatakan pada 
jaman Mao terjadi penghisapan, bahkan lebih kejam dari pada yang ada dalam 
kapitalisme. Di samping FITNAHAN, dengan tuduhannya itu Chan menunjukkan 
KEBUTAAN DAN KEGOBLOKANNYA SENDIRI. Dan yang lebih tragis adalah sudah lama ia 
MENGKHIANATI apa yang diperjuangkan oleh ayahnya sendiri.
Demi membela kapitalisme dan penghisapan,  Chan dengan sengaja menghapus 
perbedaan hakiki dalam nilai-nilai moral dan etik antara kapitalisme dan 
sosialisme. Chan tidak pernah bisa menjawab ketika orang bicara tentang 
nilai-nilai moral dan etik yang busuk, bobrok, menjijikan dan memuakkan yang 
sekarang berdominasi di Tkk kapitalis. Tidak pernah menjawab atau berkomentar 
tentang basis militer Tkk, tentang perlakuan Tkk terhadap negeri-negeri yang 
berhutang, tentang penghisapan SDM dan penjarahan SDA yang dilakukan oleh 
pemodal Tkk.
Chan tidak pernah mengerti, apalagi menerima ajaran Mao tentang "Mengabdi 
Rakyat", tidak pernah mengerti apalagi menerima kampanye "memerangi egoisme, 
melawan Revisionisme". Chan tidak pernah mengerti arti KESADARAN KELAS.
Karena lumpur revisionis telah menenggelamkan dan menempatkan orang-orang 
seperti Chan di pihak imperialisme, maka mereka tidak akan mengerti MENGAPA 
ORANG KOMUNIS DI SELURUH DUNIA RELA MENGORBANKAN BAHKAN JIWANYA SENDIRI BAGI 
USAHA MEMPERJUANGAN MASYARAKAT SOSIALIS!!!! Mereka tidak minta bayaran!! Tidak 
minta penghargaan! Tidak minta pujian! Sama sekali tidak minta apa-apa sebagai 
ganti dari pengorbanan dan hilangnya jiwa mereka!!
Chan mengejek kaum buruh, kaum tani dan kelas pekerja Tkk yang bekerja 
mati-matian, kerja lembur tanpa minta bayaran, untuk membangun NEGERINYA YANG 
SEDANG MEMBANGUN SOSIALISME!! Bayangkan kepicikan dan juga reaksionernya si 
remo Chan ini!! Menyamakan pengabdian rakyat pekerja yang membangun tanah air 
sosialis dengan penderitaan rakyat pekerja di kapitalisme yang menghasilkan 
profit bagi para majikan!!!
Bagaimana dengan rakyat Soviet di bawah Stalin yang bekerja mati-matian 
membangun sosialisme? Bagaimana dengan jutaan rakyat Soviet yang bersedia 
bekerja siang dan malam, dengan menahan lapar, memproduksi senjata, peluru, 
meriam, untuk front melawan agresi Hitler??? 
Adalah Che Guevara yang mengajukan dan mempraktekkan "trabajo voluntario" 
(kerja sukarela) dalam membangun sosialisme di Kuba. Seperti komunis-komunis 
sejati didunia, Che , tidak saja omong, tapi juga menerapkan "trabajo 
voluntario". Semua rakyat Kuba yang revolusioner melakukan "trabajo 
voluntario".. Bahkan ada yang namanya brigada internasional dari AS dan 
negeri-negeri Eropa yang sengaja datang ke Kuba, pertama-tama untuk turut serta 
dalam "trabajo voluntario", membangun sekolah, klinik atau apartemen. Buat otak 
bobroknya Chan, semua ini sudah tentu "penghisapan", bukan? Karena tak 
sepeserpun mereka menerima untuk kerjanya itu!!!! Sudah harus bayar ongkos 
perjalanan, eh masih harus kerja lagi!! Gobloknya orang-orang ini ya??? 
Begitulah jalan otak remo, anti sosialis Chan!
Bagaimana dengan orang-orang komunis Indonesia sejak 1926 yang rela masuk 
penjara, rela digantung dan mati untuk memperjuangan Indonesia merdeka dan 
sosialisme TANPA MENGKHIANATI CITA-CITANYA???? Belum menang revolusinya, tapi 
sudah bersedia mereka berkorban dan mati!!! Tentu bagi otak busuknya si Chan, 
orang-orang komunis ini goblok sekali ya, kok mau-maunya mati, wong menangpun 
belum!!!

Berarti Chan juga tidak mengerti dan menerima jalan yang diambil oleh ayahnya 
sendiri!! Ayahnya juga masuk keluar penjara, seperti banyak orang komunis 
Indonesia lainnya! Lho, kok mau-maunya SGT berkorban??? Buat apa?? Apa ada 
orang yang membayarnya? Apa ada yang menjanjikan medali emas??
Memang renegad dan pengkhianat macam Chan ini hanya patut masuk keranjang 
sampah! Patut diangkat jadi kesayangan si Trump buat bersihkan toiletnya!!!
 

    On Friday, January 5, 2018 5:26 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:
 

     Hahahaa, ... ini nenek dalam tempurung masih saja dengungkan lagu lama, 
jadi seperti gramofon rusak berputar ditempat, dengan mengunyah-ngunyah dalil 
lama seperti pemakan sirih! TANPA bisa melihat perkembangan nyata yang terjadi. 
Bagaimana sesungguhnya “PENGHISAPAN MANUSIA ATAS MANUSIA” itu juga terjadi di 
jaman Mao yang dikatakan masyarakat sosialis itu! Bahkan dalam batas-batas 
tertentu bisa dikatakan jauh lebih KEJAM ketimbang penghisapan yang terjadi 
dimasyarakat Kapitalis. Tentu semua dilakukan atas nama RAKYAT, demi RAKYAT 
atas KESADARAN tinggi mengabdi rakyat, ... Coba saja perhatikan bagaimana 
kehidupan buruh yang dituntut berkesadaran tinggi MENGABDI RAKYAT, bukan saja 
harus mengebawahkan kepentingan pribadi, tapi juga mengHILANGKAN kepentingan 
pribadi! Begitu ekstrimnya, sampai-sampai seringkali diharuskan kerja LEMBUR 
dan itupun tanpa imbalan gaji-lembur berlipat sebagaimana biasa diberlakukan 
dalam masyarakat kapitalis! Tentu kerja lembur tanpa bayaran kalau hanya 
sekali-dua kali sih tidak apa, tapi kalau berkepanjangan sampai puluhan tahun 
begitu, apa TIDAK KASIHAN pada jutaan buruh yang diperas sampai nyaris kering, 
... hidup dalam kemiskinan dan serba kekurangan begitu! Anda boleh bilang itu 
TERPAKSA, terpaksa karena pemerintah ketika itu menghadapi blokade sejagad AS 
dan kemudian juga dari USSR, dan,.... harus mendahulukan PERTAHANAN, tapi itu 
tetap merupakan pemerasan berlebih yang mestinya juga bisa dihindari. Tidak 
perlu begitu sampai berkepanjangan, ...! Ada kesalahan yang terjadi disitu yang 
harus dibetulkan dan harus dikoreksi! Kalau saja pernyataan anda diucapkan 20 
tahun yl, orang akan sulit membantah, tapi sekarang masih saja juga dengungkan 
suara sumbang begitu, .... itu hanya buktikan anda betul-betul hidup dalam 
tempurung saja!! Sampai sekarang anda hanya terpaku pada bentuk penghisapan 
yang masih terjadi, TANPA bisa melihat atau TIDAK BERANI mengakui kenyataan 
perkembangan EKONOMI, TEKNOLOGI, PERTAHANAN yang dicapai RRT dan, ... KENYATAAN 
kesejahteraan RAKYAT Tiongkok yang juga melesat maju dengan dahsyat! Ingat, 
bukan hanya sudah lebih 300 juta RAKYAT Tiongkok masuk dalam klas 
menengah-atas, tapi PKT targetkan seluruh rakyat Tiongkok yg berjumlah lebih 
1,3 milyar itu, nanti tahun 2020 TIDAK SEORANG pun boleh tertinggal masih 
dikategorikan MISKIN! Tiongkok memasuki masyarakat sedikit makmur! Bahwa 
kesenjangan sosial masih terjadi adalah juga kenyataan yang tidak perlu 
disangkal, tapi saya yakin pada satu saat setelah kemakmuran dicapai lebih 
baik, tentu akan memasuki tahap meratakan kemakmuran yg sudah terjadi. 
Bagaimanapun juga berlimpahnya produksi hanya bisa dicapai dengan makin 
tingginya teknologi, dan dalam proses kemajuan pengenalan dan pengertian yang 
lebih baik, manusia akan menemukan cara untuk meratakan kemakmuran yang sudah 
terjadi itu. TIDAK AKAN membiarkan kesenjangan terus terjadi, ... Akan 
memberlakukan keadilan yang dirasa lebih ADIL bagi semua pihak, ...! Tentu 
tidak mesti dijalankan dengan kekerasan, dengan REVOLUSI membasmi kapitalis, 
tapi menjadikan semua warga juga pemilik kapital, semua RAKYAT menjadi 
kapitalis juga! Sebaliknya yang dulu dikatakan klas kapitalis adalah juga 
PEKERJA, dengan tugasnya masing-masing!  Jadi, bukan dengan cara kapitalis 
harus dibasmi dengan mensita kelebihan kapital perseorangan, dan membuat mereka 
jadi MISKIN, ... tapi membatasi saja hak-milik kapital perseorangan tidak lebih 
dari sekian % dan dengan berangsur terus mengurangi persentasi hak-milik 
perseorangan, dimana untuk selebihnya harus dijual kepublik..  Dan, dengan 
makin meningkatkan kesejahteraan BURUH-PEKERJA dan PETANI, ... memungkinkan 
juga menjadi pemilik SAHAM, menjadi kapitalis! Itu yang saya lihat yang terjadi 
di Tiongkok dalam gerak mengentaskan kemiskinan, .... dimana semua petani 
didesa berubah menjadi pemilik SAHAM koperasi-desa yang dibentuk! Bukan hanya 
kerja KOLEKTIF yang dikembangkan, tapi juga semua tunjangan sosial yang 
mendasar, dari kesehatan, pendidikan anak-anak dan perawatan panti-jompo 
sepenuhnya ditanggung koperasi-desa itu.  Itulah masyarakat sosialis 
berkepribadian Tiongkok yang hendak diwujudkan dalam kehidupan nyata. BUKAN 
meratakan KEMISKINAN tapi meratakan KEMAKMURAN! Salam,ChanCT  From: Tatiana 
Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Thursday, January 4, 2018 6:41 
PMTo: [email protected] ; Jonathan Goeij ; Hsin Hui Lin Cc: Yahoogroups 
; DISKUSI FORUM HLD ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Daeng ; Harry Singgih ; Gol ; 
Farida Ishaja ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; [email protected] ; Ronggo A. ; 
Billy Gunadi ; Oman Romana ; Harsono Sutedjo ; Sie Tik Tan ; [email protected] ; 
Tjoa ; Andreas Sungkono Subject: Re: [GELORA45] Re: [nasional-list] Made in 
China   Argumentasi yang aneh dan tidak masuk akal! Apakah karena kita tinggal 
di negeri kapitalis, maka kita harus mendukung, memuja dan berterima kasih 
kepada sistim kapitalis? Marx, Engels dan Lenin, semua tinggal di negeri 
bersistim kapitalis, tapi ajaran dan prakteknya justru membelejeti dan mengutuk 
kekejaman dan kebusukan sistim penghisapan. Teorinya merupakan pembimbing untuk 
membebaskan rakyat dari penghisapan tersebut!!!
Chan mempostingkan berita tentang "Made in China", sudah tentu karena  ia 
memang bangga akan "kebesaran" dan "kemakmuran" Tkk kapitalis. Tkk memang sudah 
menjadi pabriknya dunia. Sayang sekali  penulis artikel ini tidak melihat lebih 
dalam lagi apa yang ada di belakang "Made in China" itu. Jadi hanya lihat 
kulitnya saja. Di samping masalah penghisapan yang menjadi sandaran pokok bagi 
pencapaian yang dibanggakan kaum pendukung Tkk kapitalis, mereka melupakan 
dampak dari status pabrik dunia itu, seperti misalnya, penyusutan tanah 
pertanian, polusi udara, tanah dan air luar biasa, penyusutan sumber air (hal 
ini yang terus dicanangkan oleh kaum tani dan pembela lingkungan yang menentang 
pabrik semen Rembang!) Tkk sekarang harus mengimport bahan makanan, seperti 
gandum, kacang kedelai. Tidak seperti dulu, sepenuhnya swasembada. Kita memang 
tenggelam dalam barang-barang made in China. Tapi jangan lupa teknologi dan 
merek dari banyak barang-barang canggih itu! Bukan teknologi dan merek asli 
Tkk! Komputer saya mereknya Dell dan made in China! Ingat para buruh yang bunuh 
diri di pabrik  Foxconn yang memproduksi ipad, iphone Apple??? Itulah praktek 
outsourcing... Siapa yang mengeruk keuntungan luar biasa dari tenaga kerja 
murah?? Ya para boss Apple!! Mobo Gao, dalam "The Battle for China"s Past" 
bicara tentang sebuah kronik yang menderetkan sukses dalam ilmu dan teknologi 
dari tahun 1966 sampai 1976, artinya periode yang menurut kaum revisionis dan 
borjuis Barat "10 tahun yang hilang". Misalnya, mobil "Bendera Merah", 
peletusan bom atom, pembuatan insulin kristal sintetis untuk sapi, komputer 
transistor, komputer sirkuit terpadu, kamera tiga dimensi otomatis, ambiotik 
Qingda, peluncuran satelit, rel kereta api elektron, tanker 100.000 ton, 
perkembangan sumur minyak Dagang dan Shenli dan kilang minyak Yanshan Peking. 
Dalam kronik tersebut bahkan tercatat konferensi pertama tentang lingkungan dan 
politik pemerintah untuk mengatasi polusi air. Makanya saya bilang, seandainya 
kaum remo tidak berkuasa dan mengubah haluan, Tkk sudah siap tinggal landas 
untuk meneruskan industrialisasi modernnya dan pasti kemakmuran dan 
keberhasilan luar biasa akan dicapai. Dan itu akan dicapai TANPA PENGHISAPAN 
terhadap rakyatnya sendiri maupun rakyat negeri lain atau menjarah SDA negeri 
lain dan Tkk tidak akan memandang perlu memiliki basis militer di negeri 
lain!!! Justru untuk mempertahankan status "pabrik dunia" dan ekonomi terus 
berputar itulah, Tkk membutuhkan bahan baku/SDA/minyak dari negeri lain. Dan 
berapa keuntungan Tkk dan perusahaan yang menjalankan subkontrak multinasional 
raksasa dunia?  Mobo Gao menjelaskan, sepasang sepatu merek Puma dijual di AS 
antara US$65,00-%100,00 (tentu pada tahun bukunya ditulis). Untuk tiap pasang 
sepatu itu buruh Tkk dibayar rata-rata US$1,09. Upah yang diterima buruh Tkk 
hanya 31 sen tiap jam, sedangkan profit yang didapat perusahaan multinasional 
asing dari setiap buruh Tkk adalah $12,24 Untuk memproduksi barang-barang yang 
diekspor ke pasar dunia, buruh Tkk pada umumnya harus bekerja dari jam 7:30 AM 
sampai jam 9:00 PM. Kadang-kadang harus kerja lembur sampai jam 12:00 PM tanpa 
tambahan bayaran tiap jam, atau bahkan tanpa bayaran sama sekali. Tidak boleh 
bicara ketika bekerja dan tidak boleh meninggalkan halaman pabrik tanpa ijin.  
Kalau datang telat 5 menit, maka upah dipotong sebanyak 3 jam kerja. Buruh 
mendapat istirahat satu jam untuk makan siang, dan satu setengah jam untuk 
makan malam. Mereka tidur di barak-barak yang terletak di sekitar pabrik: 12 
orang dalam setiap kamar dan satu kamar mandi untuk 100 orang. (China Labour 
Watch 2004).
 

On Thursday, January 4, 2018 2:32 AM, "Hsin Hui Lin [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:


  Correction:Salah ketik, "segelintir manusia MENGHISAP majority"    On 4 Jan 
2018 6:57 a.m.., "Hsin Hui Lin" <[email protected]> wrote:

Bg. Lusi. Nah anda tinggal di German yn maju dan nyaman apalagi kalau di 
banding jika Anda tinggal di Tanah Air, Indonesia...... Loo dari mana 
kesejahteraan yg di capai German...... datang dari sorga  atau dari hasil 
penghisapan manusia oleh segelintir manusia yg menghadiri majority.... Tak 
langsung anda menikmati hasil penghisapan itu.... Nyaman kan??. Sebagai ahli 
teori Marxist, dari dasar "kebenaran berdasarkan fakta,  kenyataan", bagimana 
menilai kemajuan Tiongkok.Ngelamun tak akan membawa kita ke masyarakat yg anda 
impikan Lin    On 4 Jan 2018 1:21 a.m., "Jonathan Goeij [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
 
        Menarik juga ya bahkan Alquran-pun made in China, dan itu di Mekkah. 
Mereka yang umrah, naik haji, dan pakai tasbih, sajadah, kafiah, peralatan 
salat, bahkan Alquran buatan orang-orang kafir itu bagaimana ya hukumnya, 
termasuk halal atau haram? Apakah ada sertifikasi halal dari MUI?   Terus 
bagaimana dgn Habib Rizieq Shihab, Ustad Abdul Somad, ataupun Anies Baswedan 
waktu umroh di Mekkah itu, apakah juga pakai barang buatan orang2 kafir itu?   
Kutipan berita: Tak terkecuali kota suci Mekkah sekalipun. Lihat sa­ja semua 
pernak-pernik per­alat­an ibadah umat Islam yang ada, hampir semua berasal dari 
N­e­geri Naga ini! Ada tasbih, sa­ja­dah, kafiah, peralatan salat, ma­l­ah 
Alquran sekalipun, se­mua tertulis ”made in China”.
 
 
 
 ---In [email protected], <lusi_d@...> wrote :

 Made in China itu hanya menjelaskan: dibuat di Tiongkok. Yang semacam
itu baru menjelaskan produk apa yang dihasilkan dan belum menjawab
bagaimana produk itu dihasilkan. Sedangkan untuk menjawab masalah
kesejahteraan masyarakatnya harus jelas bagaimana sistim produksi yang
berlaku di dalam masyarakatnya, apakah berwatak exploitation de l'home
par l'home atau tidak kata Bung Karno.




Am Wed, 3 Jan 2018 21:22:05 +0800
schrieb "'Chan CT' SADAR@... [nasional-list]"
<[email protected] >:

 
> Made in China
> Koran Sindo
> Senin, 18 Desember 2017 - 07:08 WIB
> https://nasional.sindonews.c om/newsread/1266546/18/made-in -china-1513533508
> 
> Joni Hermana
> Staf Pengajar ITS Surabaya
> 
> SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan sa­ya,
> namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada hari tanpa
> produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an ki­ta?” Co­ba simak
> ba­gai­mana su­litnya s­e­orang ibu bernama Sa­ra Bo­­ngi­or­ni
> beserta ke­lua­r­ga­­nya di Ame­rika Serikat ber­­juang se­la­ma
> setahun un­tuk ti­dak meng­gu­na­kan barang yang berbau Chi­­na.
> Pe­nga­la­man luar bia­sa ini dia tulis da­lam bu­ku­nya yang
> be­r­judul A Year Wi­thout ”Made in Chi­na”. Atas eksperimennya itu,
> dia ter­nyata harus ber­­ji­ba­ku, ber­ken­daraan da­ri mal ke mal
> se­ke­dar me­n­cari se­buah ko­lam re­nang plastik un­tuk anaknya.
> Bayangkan! Ini sekadar un­­tuk menggambarkan bah­wa ti­dak mudahnya
> ki­ta melepaskan di­ri dari b­a­rang buatan China da­lam keh­idupan
> keseharian ki­ta, bahkan untuk negara ma­ju se­kelas AS sekalipun.
> Produk buatan negeri China su­dah merasuk ke da­lam semua sen­di
> ke­h­i­dup­an kita; di rumah, di se­ko­lah, tempat kerja, dan di
> mana-mana. Kalau bulan pun ada penduduknya, sudah dipas­ti­kan ada
> buatan negeri China di sa­na, he.. he.. Tak terkecuali kota suci
> Mekkah sekalipun. Lihat sa­ja semua pernak-pernik per­alat­an ibadah
> umat Islam yang ada, hampir semua berasal dari N­e­geri Naga ini! Ada
> tasbih, sa­ja­dah, kafiah, peralatan salat, ma­l­ah Alquran
> sekalipun, se­mua tertulis ”made in China ”. Anehnya, walaupun produk
> me­reka ini sudah menjadi kes­e­ha­ri­an dalam hidup kita,
> ma­yo­ri­tas bangsa kita pasti akan me­ra­sa gamang kalau diminta
> u­n­tuk memakai, apalagi membeli, pro­duk berteknologi cang­gih da­ri
> negeri China. Se­tidaknya ki­ta akan ber­ta­nya masygul apa be­neran
> ya ? Sebab, branding pro­duk buatan China yang ter­­ta­nam dalam
> benak ki­ta selama ini adalah untuk ba­rang remeh-t­e­meh dan -
> per­lu juga dicatat - yang mu­dah rusak. Wajarlah ketika kem­u­di­a­n
> Chi­na menampilkan produk-pro­duk mereka yang ber­tek­no­lo­gi tinggi
> dan modern di negara kita, ba­nyak orang yang me­ra­gu­­kan
> keandalannya. De­mi­­ki­an, orang-orang ber­ta­nya ke­ti­ka mulai
> banyak in­frastruktur di­ba­ngun oleh kontraktor Chi­n­a.. La­lu,
> orang-orang juga ­ber­ta­nya ketika kereta cepat di­b­­a­ngun mereka.
> Tidak ke­ting­­gal­an orang-orang ju­ga bertanya ke­tika pem­bang­kit
> listrik di­ba­ngun me­reka... beneran nih ? Untuk menjawab
> ke­ra­gu­an se­p­erti ini, tidak sa­lah kalau di­rek­si PLN meng­ajak
> akademisi dan pa­ra insan media mengun­jungi pabrikan di China yang
> me­laksanakan pro­yek pem­bang­­kit di In­do­ne­sia saat awal
> De­sember b­e­be­rapa saat lalu. Apa yang di­li­hat memang sa­ngat
> berbeda de­ngan apa yang di­bayangkan se­be­lumnya. Ne­ge­ri China
> telah men­jelma me­n­ja­di negara de­ngan kemampuan tek­n­ologi
> cang­gih dan terkini. Se­muanya te­lah mereka kuasai. Sung­guh luar
> biasa! Ini sesuai de­ngan misi mereka yang ingin men­ja­di­kan
> semuanya ”made in Chi­na ” pada 2025. China ingin meng­ubah wajah
> brandingnya ti­dak se­kadar negara penghasil ba­rang kelontongan,
> tetapi juga ba­­rang berkualitas dengan di­men­­si teknologi tinggi,
> cang­gih, dan terkini. Penguasaan yang bahkan menembus ke
> tek­no­­logi luar angkasa. Tam­pak­nya cita-cita itu akan mudah
> ter­wu­­jud dengan kesiapan in­fra­struk­­tur dan sumber daya
> ma­nu­­sia yang mereka miliki. Yang mengagumkan juga ada­lah peran
> pemerintah yang de­mikian besar (baca: negara ha­dir!) untuk menjamin
> ke­ber­lan­jutan produk-produk ind­us­tri­nya, China telah menggelar
> ga­ris imajiner ”New Silk Road ” un­tuk memastikan aktivitas eko­nomi
> mereka jalan dan ber­lan­jut. Ini semua dengan me­man­faatkan potensi
> pasar yang ada di negara-negara Jalur Sutra me­reka, dari barat
> sampai timur dan dari utara sampai selatan du­nia...(jadi ngiri
> melihat triple he­lix A-B-G mereka!) Melihat beragam teknologi
> mo­dern yang telah dikuasai bang­sa China, dapat disim­pul­kan bahwa
> dari aspek teknis, se­be­tulnya produk mereka tidak ada masalah..
> China hari ini bu­kan lagi China yang kemarin! Ar­ti­nya keraguan
> dalam ke­an­dal­an teknologi mereka akan hi­lang dengan sendirinya
> sejalan d­e­ngan waktu dan pengalaman. Toh, kita belajar, bagaimana
> k­e­tika tahun 1960-70an dunia nyi­nyir terhadap mobil ”ka­leng”
> buatan Jepang yang mulai ma­suk pasar ”menyaingi” mobil-mobil perkasa
> buatan Ame­rika dan Eropa yang saat itu me­rajai di jalan-jalan raya..
> Na­mun, seiring perjalanan waktu, ke­g­igihan dan inovasi yang te­rus
> dilakukan produsen Je­pang, mereka kemudian di­te­ri­ma bahkan
> digemari banyak orang. Sekarang Indonesia ter­ma­suk negara dengan
> pe­r­sen­ta­se pemakai mobil Jepang ter­be­sar di dunia di samping
> Jepang itu sendiri! Belajar dari pengalaman itu, tek­nologi tinggi
> buatan negeri Chi­na pun akan mengalami fase dan pola yang serupa
> dalam me­ma­suki pasar di negara kita.
> 
> SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan sa­ya,
> namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada hari tanpa
> produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an ki­ta?”
> 
> (kri)
   



  #yiv7426355174 #yiv7426355174 -- #yiv7426355174ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174ygrp-mkp #yiv7426355174hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mkp #yiv7426355174ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mkp .yiv7426355174ad 
{padding:0 0;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mkp .yiv7426355174ad p 
{margin:0;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mkp .yiv7426355174ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-sponsor 
#yiv7426355174ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174ygrp-sponsor #yiv7426355174ygrp-lc #yiv7426355174hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174ygrp-sponsor #yiv7426355174ygrp-lc .yiv7426355174ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7426355174 #yiv7426355174actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7426355174
 #yiv7426355174activity span {font-weight:700;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv7426355174 #yiv7426355174activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7426355174 #yiv7426355174activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv7426355174 #yiv7426355174activity span 
.yiv7426355174underline {text-decoration:underline;}#yiv7426355174 
.yiv7426355174attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv7426355174 .yiv7426355174attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv7426355174 .yiv7426355174attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7426355174 .yiv7426355174attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7426355174 .yiv7426355174attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv7426355174 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv7426355174 .yiv7426355174bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7426355174 
.yiv7426355174bold a {text-decoration:none;}#yiv7426355174 dd.yiv7426355174last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7426355174 dd.yiv7426355174last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7426355174 
dd.yiv7426355174last p span.yiv7426355174yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv7426355174 div.yiv7426355174attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv7426355174 div.yiv7426355174attach-table 
{width:400px;}#yiv7426355174 div.yiv7426355174file-title a, #yiv7426355174 
div.yiv7426355174file-title a:active, #yiv7426355174 
div.yiv7426355174file-title a:hover, #yiv7426355174 div.yiv7426355174file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7426355174 div.yiv7426355174photo-title a, 
#yiv7426355174 div.yiv7426355174photo-title a:active, #yiv7426355174 
div.yiv7426355174photo-title a:hover, #yiv7426355174 
div.yiv7426355174photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7426355174 
div#yiv7426355174ygrp-mlmsg #yiv7426355174ygrp-msg p a 
span.yiv7426355174yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7426355174 
.yiv7426355174green {color:#628c2a;}#yiv7426355174 .yiv7426355174MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv7426355174 o {font-size:0;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174photos div {float:left;width:72px;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7426355174
 #yiv7426355174reco-category {font-size:77%;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174reco-desc {font-size:77%;}#yiv7426355174 .yiv7426355174replbq 
{margin:4px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174ygrp-mlmsg select, #yiv7426355174 input, #yiv7426355174 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174ygrp-mlmsg pre, #yiv7426355174 code {font:115% 
monospace;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-mlmsg #yiv7426355174logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-msg 
p#yiv7426355174attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174ygrp-reco #yiv7426355174reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-sponsor 
#yiv7426355174ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174ygrp-sponsor #yiv7426355174ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174ygrp-sponsor #yiv7426355174ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv7426355174 #yiv7426355174ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7426355174 
#yiv7426355174ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv7426355174 

   

Kirim email ke