Suara dan bahasa Majikan dan buruh tentu saja bertentangan, ... tapi,
PEMERINTAH yang berkuasa masih bisa menjadi penengah untuk membuat
kebijakan yang lebih adil! Itulah tugas pemerintah yang baik, ... untuk
mendorong maju lebih cepat ekonomi nasional! Jangan jomplang terlalu
berat kesatu pihak, ... untuk maju bersama, untung bersama!
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 20/4/2019 1:25 寫道:
Orang Islam akan bilang "alhamdulilah" kalau harga sembako bisa turun
sesuai dengan kebutuhan hidup rakyat jelata. Pernahkah rakyat
mengalami itu???akan pernahkah rakyat mengalami itu selama pemerintah
ditangan Oligarki seperti diperlihatkan film Sexy killer???Orang yang
selalu ngeyel membela PYM seolah-olah dia bebas dari Oligarki pun
tidak kedengeran lagi suara pembelaannya....
On Friday, April 19, 2019, 3:47:36 PM GMT+2, kh djie [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:
Yang bisa dilakukan barangkali :
1. Gaji tidak naik, tetapi beaya kebutuhan hidup harus turun banyak (
9 bahan pokok, perumahan,
transportatie gratis ke tempat kerja, atau sebagian transportatie
ke tempat kerja harus ditanggung
perusahaan seperti di negeri Belanda).
2. Cara kerja harus dibikin lebih efficient oleh pimpinan perusahaan,
dan dibantu dengan alat2 untuk
meringankan pekerjaan.
3. Sekali buat harus 100% sempurna. Tidak ada yang harus diperbaiki,
diulang kembali.
Di Belanda yang dikira orang kerjanya sudah efficient, ternyata dengan
mudah di beberapa proses
efficiencynya bisa naik 10 - 20% dengan perbaikan proses. Heran di
Indonesia kok Perusahaan
maunya turunkan gaji dan atau suruh orang kerja lebih lama ? Kan ya
pada mogok....nanti.
Satu contoh saja : Di spray drying, efficiency bisa naik luar biasa
dengan menaikkan inlet temperatur
10 derajat Celcius, dan menurunkan outlet temperature 5 - 10 derajat
dan mengurangi jumlah air pelarut.
Spray drying time dari 12 jam bisa turun jadi 10 jam.
Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 13.38 Tatiana Lukman
[email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45]
<[email protected] <mailto:[email protected]>> menulis:
Bahasanya kaum pengusaha tidak akan pernah sama dengan bahasanya
kaum buruh. Hanya kaum remo dan kaum reaksioner yang berpihak
kepada penguasa selalu menganjurkan dan menjebarkan ilusi
seolah-olah kaum buruh dan kaum pengusaha bisa maju bersama. Kalau
pengusaha omong soal "win-win situasi", "produktivitas",
"competitiveness", semua itu berarti sangat negatif bagi buruh.
Pengusaha Minta Presiden Terpilih Revisi UU Tenaga Kerja
Ketua Dewan Pembina IBCWE, Shinta Widjaja Kamdani dalam acara CEO
Talks di The Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho
Sejati/kumparan
Para pengusaha <https://kumparan.com/topic/pengusaha> ingin
presiden terpilih nantinya bisa merevisi Undang-Undang (UU) Nomor
13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ini bertujuan agar pekerja
di Indonesia memiliki daya saing dengan pekerja asing.
Wakil ketua Umum Asosiasi Pengusaha
<https://kumparan.com/topic/pengusaha> Indonesia (Apindo) Shinta
Kamdani mengatakan, salah satu hal yang membebani pengusaha adalah
jam kerja yang dinilai masih rendah, sementara upah yang
dibayarkan cukup tinggi. Jika hal ini terus terjadi, dikhawatirkan
bisa menekan produktivitas.
"Iya betul (harus direvisi). UU Nomor 13 penting diperhatikan
sebagai pemberi kerja dan penerima kerja harus ada keseimbangan,
harus jadi win-win solution kedua belah pihak dan perlu direvisi
kembali. Perlu dipikirkan aspek competitiveness yang terjadi di
negara lain," ujar Shinta dalam diskusi di Hotel Millennium,
Jakarta, Rabu (10/4).
Dia mencontohkan, jam kerja di Indonesia saat ini selama 40 jam
per minggu, paling rendah di antara negara lain. Bangladesh selama
49 per minggu, Kamboja 45 jam per minggu, China 47 jam per minggu,
dan Vietnam 41 jam per minggu. Sementara upah yang dibayarkan
masih lebih tinggi Indonesia dibandingkan negara tersebut.
"Vietnam yang paling dekat dengan kita, jam kerjanya 41 jam..
Kalau ditarik upah dia rata-rata Rp 2 juta-2,3 juta. Kita paling
rendah jam kerja, lalu upah juga termasuk tinggi," katanya.
Sementara itu, Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko
mengatakan, risiko ongkos usaha di dalam negeri memang lebih besar
dibandingkan di luar negeri. Maka tak heran, banyak perusahaan
domestik yang membangun pabrik di luar negeri.
Adapun upah pekerja di Indonesia se tahun saat ini mencapai USD
5.070 per tahun, sementara Vietnam hanya USD 3.800 per tahun.
"Yang mesti dilihat adalah apakah kompetensinya (tenaga kerja)
lebih baik dibanding Vietnam? Siapapun yang nanti menang punya PR
untuk meningkatkan SDM supaya kompetensinya makin baik," tambahnya.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com