Terus ngoceh tentang kesejahteraan.... tak pernah mau mengakui tentang praktek 
penghisapan kejam terhadap buruh Tkk yang sudah seabrek-abrek dipostingkan di 
milis ini!!! Lupa sudah dengan jutaan buruh yang digusur dari daerah perkotaan 
karena pabrik pada tutup dan pemerintah tidak ingin mereka hidup di kota-kota 
besar???Semua itu hoax ya???
    On Sunday, April 21, 2019, 3:10:51 AM GMT+2, ChanCT [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     
 

Lalu, ... kesejahteraan BURUH-TANI di Tiongkok selama 70 tahun ini tidak 
terangkat dan TETAP saja PAPA-MISKIN??? Betul-betul nenek yg hidup dalam 
tempurung dan terus tidak bangun dari mimpinya saja! Pemerintah Tiongkok "TIDAK 
PERNAH" berusaha memperbaiki nasib buruh!!! Buruh-buruh Tiongkok masih seperti 
gembel, hanya makan wowotou, ubi-jalar bahkan akar rumput, baju 
bertambal-tambal sampai tidak lagi terlihat kain aslinya karena digunakan 
turun-temurun bergenerasi??? TETAP merupakan bangsa SAKIT di Asia??? Hehehee, 
...
 
Terakhir ini banyak diperbincangkan kerja 996 yg didukung Ma Yun dari Alibaba 
itu, maksudnya buruh bekerja dari jam 9 sampai jam 9 selama 6 hari/minggu! Ma 
Yun bilang, dari KERJA KERAS kita semua inilah kita bisa melihat KEBERHASILAN 
kemajuan kesejahteraan, teknologi yang kita nikmati sekarang ini! Sementara 
pendapat mengeritik dan menentangnya dengan menyatakan kerja 12 jam/hari 
bertentanganan dengan UU perlindungan buruh/pekerja!
 
 
Saya berpendapat, jangan diekstrimkan pertentangan antara kerja, upah dan 
kesehatan buruh/pekerja, dalam praktek harus dibuat bijaksana untuk 
melaksanakannya, harus ada keseimbangan yang baik. Prinsip kerja keras bagus 
bagi anak-muda, bersusah-susah dahulu untuk kebahagiaan kemudian! Tanpa ada 
kerja keras  rakyat Tiongkok, gtentu tidak ada keberhasilan dahsyat yang 
dicapai sekrang, yang dinikmati 1,4 milyar RAKYAT Tiongkok sekarang ini! BEBAS 
dari kemiskinan memasuki masyarakat sedikit makmur, ...
 
Kerja keras dengan meningkatkan kesejahteraan buruh lebih baik dan tentunya 
jangan sampai merusak kesehatan buruh yg kelelahan, ... Artinya, kerja lembur 
harus dapatkan upah berlipat, setidaknya 2X upah/jam dan, ... TIDAK BOLEH 
dilangsungkan berkepanjangan! Kerja-kerja lembur begitu apalagi sampai 12 jam 
hanya boleh dilakukan sesaat diperlukan untuk kejar produksi saja, jangan 
dilakukan dalam jangka waktu berminggu-minggu bahkan lebih sebulan, .... karena 
kerja digenjot begitu tentu sangat melelahkan dan sangat mempengaruhi kesehatan 
buruh! Kalau memang dibutuhkan kerja lebih 12jam/hari, kenapa tidak bikin 2  
atau bahkan 3 grup kerja saja, dengan tetap pertahankan 8 jam kerja/hari.
 
 

 
 Tatiana Lukman 於 21/4/2019 3:10 寫道:
  
  Kelihatan lain jalan keluar yang ditawarkan bung Djie dan jalan keluar yang 
ditawarkan remo Chan.... sama-sama menang, madju bersama, etc..Karena  
revisionis berarti juga pendukung kaum kapitalis, ia selalu ingin menolak 
kenyataan yang juga terang benderang di lapangan, bahwa negara yang dikuasai 
kaum revisionis dan oligarki  TIDAK AKAN PERNAH berusaha memperbaiki nasib kaum 
buruh!!! Perbaikan itu hanya datang dengan perlawanan dan perjuangan kaum buruh 
sendiri!!!! Coba tunjukkan contoh negara Indonesia dengan undang-undangnya yang 
berpihak kepada kaum buruh???? 
      On Saturday, April 20, 2019, 2:42:41 AM GMT+2, ChanCT 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:  
  
          
 
 
Suara dan bahasa Majikan dan buruh tentu saja bertentangan, ... tapi, 
PEMERINTAH yang berkuasa masih bisa menjadi penengah untuk membuat kebijakan 
yang lebih adil! Itulah tugas pemerintah yang baik, ... untuk  mendorong maju 
lebih cepat ekonomi nasional! Jangan jomplang terlalu berat kesatu pihak, .... 
untuk maju bersama, untung bersama!
 
 

 
 Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 20/4/2019 1:25 寫道:
  
     Orang Islam akan bilang "alhamdulilah" kalau harga sembako bisa turun 
sesuai dengan kebutuhan hidup  rakyat jelata. Pernahkah rakyat mengalami 
itu???akan pernahkah rakyat mengalami itu selama pemerintah ditangan Oligarki 
seperti diperlihatkan film Sexy killer???Orang yang selalu ngeyel  membela PYM 
seolah-olah dia bebas dari Oligarki pun tidak kedengeran lagi suara 
pembelaannya.... 
      On Friday, April 19, 2019, 3:47:36 PM GMT+2, kh djie [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> wrote:  
  
          Yang bisa dilakukan barangkali : 1. Gaji tidak naik, tetapi beaya 
kebutuhan hidup harus turun banyak (  9 bahan pokok, perumahan,     
transportatie gratis ke tempat kerja, atau sebagian  transportatie ke tempat 
kerja harus ditanggung     perusahaan seperti di negeri Belanda). 2. Cara kerja 
harus dibikin lebih efficient oleh pimpinan perusahaan,  dan dibantu dengan 
alat2 untuk      meringankan pekerjaan. 3. Sekali buat harus 100% sempurna. 
Tidak ada yang harus diperbaiki,  diulang kembali. Di Belanda yang dikira orang 
kerjanya sudah efficient, ternyata dengan  mudah di beberapa proses 
efficiencynya bisa naik 10 - 20% dengan perbaikan proses. Heran di Indonesia  
kok Perusahaan maunya turunkan gaji dan atau suruh orang kerja lebih lama  ? 
Kan ya pada mogok....nanti. Satu contoh saja : Di spray drying, efficiency bisa 
naik luar biasa  dengan menaikkan inlet temperatur  10 derajat Celcius, dan 
menurunkan outlet temperature 5 - 10 derajat  dan mengurangi jumlah air 
pelarut.  Spray drying time dari 12 jam bisa turun jadi 10 jam. 
   
  Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 13.38 Tatiana Lukman 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis:
  
         Bahasanya kaum pengusaha tidak akan  pernah sama dengan bahasanya kaum 
buruh. Hanya kaum remo dan  kaum reaksioner yang berpihak  kepada penguasa 
selalu menganjurkan dan  menjebarkan ilusi seolah-olah  kaum buruh dan kaum 
pengusaha  bisa maju bersama. Kalau pengusaha  omong soal "win-win situasi", 
"produktivitas","competitiveness", semua itu berarti sangat negatif bagi buruh. 
   
     
Pengusaha Minta Presiden Terpilih Revisi UU Tenaga Kerja
   
    Ketua Dewan Pembina IBCWE,  Shinta Widjaja Kamdani dalam acara CEO  Talks 
di The Sultan Hotel,  Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho  Sejati/kumparan 
Para pengusaha ingin presiden terpilih nantinya bisa merevisi Undang-Undang 
(UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ini bertujuan agar pekerja di 
Indonesia memiliki daya  saing dengan pekerja asing. 
 
Wakil ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani 
mengatakan, salah satu hal yang membebani pengusaha adalah jam kerja yang 
dinilai masih rendah, sementara upah yang  dibayarkan cukup tinggi. Jika hal 
ini terus terjadi, dikhawatirkan  bisa menekan produktivitas. 
 
"Iya betul (harus direvisi). UU Nomor 13 penting diperhatikan  sebagai pemberi 
kerja dan penerima kerja harus ada keseimbangan, harus jadi win-win solution 
kedua belah pihak dan perlu  direvisi kembali. Perlu dipikirkan aspek 
competitiveness yang terjadi di negara lain," ujar Shinta dalam diskusi di 
Hotel  Millennium, Jakarta, Rabu (10/4). 
 
   Dia mencontohkan, jam kerja di Indonesia saat ini selama 40 jam per  minggu, 
paling rendah di antara negara lain. Bangladesh  selama 49 per minggu, Kamboja 
45 jam per minggu, China 47 jam per minggu,  dan Vietnam 41 jam per minggu. 
Sementara upah yang  dibayarkan masih lebih tinggi Indonesia dibandingkan 
negara  tersebut. 
   
"Vietnam yang paling dekat dengan kita, jam kerjanya 41 jam.. Kalau  ditarik 
upah dia rata-rata Rp 2 juta-2,3 juta. Kita paling rendah  jam kerja, lalu upah 
juga termasuk tinggi," katanya. 
 
Sementara itu, Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko mengatakan,  
risiko ongkos usaha di dalam negeri memang lebih besar dibandingkan  di luar 
negeri. Maka tak heran, banyak perusahaan domestik yang  membangun pabrik di 
luar negeri. 
 
Adapun upah pekerja di Indonesia se tahun saat ini mencapai USD 5.070 per  
tahun, sementara Vietnam hanya USD 3.800 per tahun. 
 
"Yang mesti dilihat adalah apakah kompetensinya (tenaga kerja) lebih baik  
dibanding Vietnam? Siapapun yang nanti menang punya PR untuk  meningkatkan SDM 
supaya kompetensinya makin baik," tambahnya.
  
       
           
 
 
|  | 不含病毒。www.avg.com  |

           
  #yiv1943717981 #yiv1943717981 -- #yiv1943717981ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981ygrp-mkp #yiv1943717981hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-mkp #yiv1943717981ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-mkp .yiv1943717981ad 
{padding:0 0;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-mkp .yiv1943717981ad p 
{margin:0;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-mkp .yiv1943717981ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-sponsor 
#yiv1943717981ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981ygrp-sponsor #yiv1943717981ygrp-lc #yiv1943717981hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981ygrp-sponsor #yiv1943717981ygrp-lc .yiv1943717981ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1943717981 #yiv1943717981actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1943717981
 #yiv1943717981activity span {font-weight:700;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1943717981 #yiv1943717981activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1943717981 #yiv1943717981activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1943717981 #yiv1943717981activity span 
.yiv1943717981underline {text-decoration:underline;}#yiv1943717981 
.yiv1943717981attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1943717981 .yiv1943717981attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1943717981 .yiv1943717981attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1943717981 .yiv1943717981attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1943717981 .yiv1943717981attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1943717981 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1943717981 .yiv1943717981bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1943717981 
.yiv1943717981bold a {text-decoration:none;}#yiv1943717981 dd.yiv1943717981last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1943717981 dd.yiv1943717981last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1943717981 
dd.yiv1943717981last p span.yiv1943717981yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1943717981 div.yiv1943717981attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1943717981 div.yiv1943717981attach-table 
{width:400px;}#yiv1943717981 div.yiv1943717981file-title a, #yiv1943717981 
div.yiv1943717981file-title a:active, #yiv1943717981 
div.yiv1943717981file-title a:hover, #yiv1943717981 div.yiv1943717981file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1943717981 div.yiv1943717981photo-title a, 
#yiv1943717981 div.yiv1943717981photo-title a:active, #yiv1943717981 
div.yiv1943717981photo-title a:hover, #yiv1943717981 
div.yiv1943717981photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1943717981 
div#yiv1943717981ygrp-mlmsg #yiv1943717981ygrp-msg p a 
span.yiv1943717981yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1943717981 
.yiv1943717981green {color:#628c2a;}#yiv1943717981 .yiv1943717981MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1943717981 o {font-size:0;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981photos div {float:left;width:72px;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1943717981
 #yiv1943717981reco-category {font-size:77%;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981reco-desc {font-size:77%;}#yiv1943717981 .yiv1943717981replbq 
{margin:4px;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981ygrp-mlmsg select, #yiv1943717981 input, #yiv1943717981 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981ygrp-mlmsg pre, #yiv1943717981 code {font:115% 
monospace;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-mlmsg #yiv1943717981logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-msg 
p#yiv1943717981attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981ygrp-reco #yiv1943717981reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-sponsor 
#yiv1943717981ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981ygrp-sponsor #yiv1943717981ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981ygrp-sponsor #yiv1943717981ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1943717981 #yiv1943717981ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1943717981 
#yiv1943717981ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1943717981   

Kirim email ke