Yang diimpikan Djie dibawah pada dasarnya adalah "deflasi" Saya rasa negara 
penganut kapitalisme seperti Indonesia deflasi akan dianggap momok, dgn harga2 
yg turun si Djie misalnya akan menunda beli barang (kalaupun beli hanya 
sedikit) menunggu turun lebih rendah lagi, akibatnya produksi jadi "idle" dan 
investasi jeblok. Secara keseluruhan terjadi kontraksi ekonomi, GDP merosot.

---In [email protected], <jetaimemucho1@...> wrote :

Orang Islam akan bilang "alhamdulilah" kalau harga sembako bisa turun sesuai 
dengan kebutuhan hidup rakyat jelata. Pernahkah rakyat mengalami itu???akan 
pernahkah rakyat mengalami itu selama pemerintah ditangan Oligarki seperti 
diperlihatkan film Sexy killer???Orang yang selalu ngeyel membela PYM 
seolah-olah dia bebas dari Oligarki pun tidak kedengeran lagi suara 
pembelaannya....

On Friday, April 19, 2019, 3:47:36 PM GMT+2, kh djie djiekh@... [GELORA45] 
<[email protected]> wrote:


 

Yang bisa dilakukan barangkali :1. Gaji tidak naik, tetapi beaya kebutuhan 
hidup harus turun banyak ( 9 bahan pokok, perumahan,    transportatie gratis ke 
tempat kerja, atau sebagian transportatie ke tempat kerja harus ditanggung    
perusahaan seperti di negeri Belanda).2. Cara kerja harus dibikin lebih 
efficient oleh pimpinan perusahaan, dan dibantu dengan alat2 untuk     
meringankan pekerjaan.3. Sekali buat harus 100% sempurna. Tidak ada yang harus 
diperbaiki, diulang kembali.Di Belanda yang dikira orang kerjanya sudah 
efficient, ternyata dengan mudah di beberapa prosesefficiencynya bisa naik 10 - 
20% dengan perbaikan proses. Heran di Indonesia kok Perusahaanmaunya turunkan 
gaji dan atau suruh orang kerja lebih lama  ? Kan ya pada mogok....nanti.Satu 
contoh saja : Di spray drying, efficiency bisa naik luar biasa dengan menaikkan 
inlet temperatur 10 derajat Celcius, dan menurunkan outlet temperature 5 - 10 
derajat dan mengurangi jumlah air pelarut. Spray drying time dari 12 jam bisa 
turun jadi 10 jam.

Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 13.38 Tatiana Lukman jetaimemucho1@... 
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

 

Bahasanya kaum pengusaha tidak akan pernah sama dengan bahasanya kaum buruh.. 
Hanya kaum remo dan kaum reaksioner yang berpihak kepada penguasa selalu 
menganjurkan dan menjebarkan ilusi seolah-olah kaum buruh dan kaum pengusaha 
bisa maju bersama. Kalau pengusaha omong soal "win-win situasi", 
"produktivitas", "competitiveness", semua itu berarti sangat negatif bagi buruh.

Pengusaha Minta Presiden Terpilih Revisi UU Tenaga Kerja

Ketua Dewan Pembina IBCWE, Shinta Widjaja Kamdani dalam acara CEO Talks di The 
Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Para pengusaha ingin presiden terpilih nantinya bisa merevisi Undang-Undang 
(UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ini bertujuan agar pekerja di 
Indonesia memiliki daya saing dengan pekerja asing.

Wakil ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani 
mengatakan, salah satu hal yang membebani pengusaha adalah jam kerja yang 
dinilai masih rendah, sementara upah yang dibayarkan cukup tinggi. Jika hal ini 
terus terjadi, dikhawatirkan bisa menekan produktivitas.

"Iya betul (harus direvisi). UU Nomor 13 penting diperhatikan sebagai pemberi 
kerja dan penerima kerja harus ada keseimbangan, harus jadi win-win solution 
kedua belah pihak dan perlu direvisi kembali. Perlu dipikirkan aspek 
competitiveness yang terjadi di negara lain," ujar Shinta dalam diskusi di 
Hotel Millennium, Jakarta, Rabu (10/4).

Dia mencontohkan, jam kerja di Indonesia saat ini selama 40 jam per minggu, 
paling rendah di antara negara lain. Bangladesh selama 49 per minggu, Kamboja 
45 jam per minggu, China 47 jam per minggu, dan Vietnam 41 jam per minggu. 
Sementara upah yang dibayarkan masih lebih tinggi Indonesia dibandingkan negara 
tersebut. 

"Vietnam yang paling dekat dengan kita, jam kerjanya 41 jam.. Kalau ditarik 
upah dia rata-rata Rp 2 juta-2,3 juta. Kita paling rendah jam kerja, lalu upah 
juga termasuk tinggi," katanya.

Sementara itu, Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko mengatakan, 
risiko ongkos usaha di dalam negeri memang lebih besar dibandingkan di luar 
negeri. Maka tak heran, banyak perusahaan domestik yang membangun pabrik di 
luar negeri.

Adapun upah pekerja di Indonesia setahun saat ini mencapai USD 5.070 per tahun, 
sementara Vietnam hanya USD 3.800 per tahun.

"Yang mesti dilihat adalah apakah kompetensinya (tenaga kerja) lebih baik 
dibanding Vietnam? Siapapun yang nanti menang punya PR untuk meningkatkan SDM 
supaya kompetensinya makin baik," tambahnya.



Kirim email ke