Di Radio Elsinta tadi diberitakan Polisi sudah menyimpulkan kasus Lumpur ini
adalah sudah kasus Pidana ( artinya bukan lagi karena alam / gempa) dan juga
disebutkan pasal pasalnya yang dilanggar serta siapa saja yang diduga
terlibat , bahkan dinyatakan ancaman hukumannya  bisa 20 thn,
Rasanya ini merupakan Keprihatinan kita semua khususnya komunitas geologi ,
semoga cepat selesai dan tidak merambat kemana mana
Mungkin Tahun 2006 bisa dijadikan "Tahun Keprihatinan Geologi" ,dilihat dari
peristiwa peristiwa ditahun ini.

ISM
Subject: Re: [iagi-net-l] Gempa, Pemicu Banjir Lumpur Porong?


Seandainya memang gempa adalah pemicunya, seharusnya tidak hanya Lapindo dan
Porongnya saja yang mengalami kejadian ini.

Salam
-SS-


On 6/29/06, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalo mau dihubung-hubungkan dengan gempa..saya kok tetep kurang percaya,
> tapi kalo penjelasannya kembali ke "underground blow out" yang men-trigger
> terjadinya bencana..saya lebih percaya ke kesimpulan tersebut...
>
>
> Regards,
> YP
>
>
>
> |---------+---------------------------->
> |         |           Ariadi Subandrio |
> |         |           <ariadisubandrio@|
> |         |           yahoo.com>       |
> |         |                            |
> |         |           06/29/2006 05:05 |
> |         |           PM               |
> |         |           Please respond to|
> |         |           iagi-net         |
> |         |                            |
> |---------+---------------------------->
>
>
>---------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------|
> |
> |
> |       To:       IAGI NET <[email protected]
> >                                                                  |
> |
> cc:
> |
> |       Subject:  [iagi-net-l] Gempa, Pemicu Banjir Lumpur
> Porong?                                                |
>
>
>---------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------|
>
>
>
>
> Kiriman informasi dari tetangga "Banjir Lumpur Porong ".
>
>
>
>
>    ...buat temen2 geolog, ditunggu komentarnya...
>
>
>
>          Assalamu'alaykum Wr.Wb.
>
>    Masa Allah...Astaghfirullah al adziiim...Benarkan demikian?  Namun
> Ustadz Nana Djumhana kebetulan memang juga seorang geolog, tentunya sangat
> layak tausiyahnya  kita percayai.  Yang mengherankan jika "bencana Porong"
> ini memang "natural disaster", kenapa ya Lapindo yg notabene Bakrie Group
> committed untuk mengganti?   Apa karena akan ada penggantian asuransi jika
> "human error"? Apa hanya sejumlah itu (US$. 27 Juta) cukup untuk
> mengkompensasi semua kerugian yang ada?  Wallahu a'lam.
> Wassalamu'alaykum Wr.Wb.
> [EMAIL PROTECTED] (Kakek 3 Cucu).
>
>
>
>    ----- Original Message -----
>    From: Nila Anggria
>
>    To: undisclosed-recipients:
>
>    Sent: Friday, June 23, 2006 12:48 PM
>
>    Subject: FW: [bdi-kps] Mimbar Jum'at 258 : Bencana Porong
>
>
>
>
>    Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
> Bencana ternyata bukan dari sumur Lapindo… mungkin juga pulau jawa bakal
> tenggelam..
> Bacalah ulasan pak Ustadz yg seorang geolog ini…
> Wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
> Of
> Nana Djumhana
> Sent: Friday, June 23, 2006 6:43 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [bdi-kps] Mimbar Jum'at 258 : Bencana Porong
>            Assalamu'alaikum wr.wb.
>
>    Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim,
>
>    "Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya
> gunung-gunung, dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
> Dan Kami telah menjadikan untukmu segala keperluan hidup di bumi, dan
> (menciptakan) makhluk-makhluk yang sekali-kali kamu bukan pemberi rizki
> kepadanya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami lah
> khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran
> tertentu"
> (QS Al Hijr 19-21).
>
>    "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di
> dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar karena
> pembicaraanmu tentang berita dusta itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima
> berita dusta itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa
> yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga dan kamu menganggapnya sesuatu
> yang
> ringan saja, padahal di sisi Allah (hal itu) adalah besar. Dan mengapa
> kamu
> tidak berkata di waktu mendengar berita dusta itu : 'Sekali-kali tidaklah
> pantas bagi kita memperbincangkan hal ini. Maha suci Allah, ini merupakan
> dusta yang besar'. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) berbuat yang
> seperti itu kembali untuk selama-lamanya jika kamu orang-orang beriman,
> dan
> Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu. Dan Allah maha mengetahui lagi
> maha bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar perbuatan
> keji itu tersiar di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang
> pedih di dunia dan di akhirat. Dan
> Allah maha mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" (QS An Nuur 14-19).
>
>    Maha benar segala firman Allah. Maha suci Allah yang telah menurunkan
> al-Furqaan kepada hambaNya, agar ia menjadi pemberi peringatan kepada
> seluruh alam, yang kepunyaanNya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia
> tidak
> mempunyai anak dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan, dan Dia telah
> menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan kadar ukurannya dengan
> sangat
> akurat (QS Al Furqaan 1-2). Yang telah menciptakan tujuh langit
> berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang
> maha
> pemurah itu sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulangkali adakah
> yang kamu lihat itu sesuatu yang tidak seimbang ? (QS Al Mulk 3). Segala
> puji dan ungkapan syukur hanya bagi Allah atas segala karunia dan
> rahmatNya
> yang berlimpah kepada kita semua, dan atas perkenaanNya kita dipertemukan
> kembali melalui mimbar yang hadir di pagi hari Jum'at terakhir di bulan
> Jumadil Awal (26 Jumadil Awal 1427 H), yang bertepatan dengan tanggal 23
> Juni 2006, dengan kajian tentang
> musibah banjir lumpur di Porong, Sidoarjo, yang selama ini dianggap
> sebagai human error dari pemboran eksplorasi minyak dan gas, benarkah
> demikian ? Maka ikutilah bahasannya. Namun sebelum itu, selaku umat Nabi
> Muhammad salallahu alaihi wassalam, seyogyanya kita bermohon semoga
> shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, seluruh keluarga dan
> para sahabatnya, serta semua pengikutnya yang senantiasa istiqamah
> mendakwahkan Islam dimana dan kapan saja.
>
>    Muslimin dan muslimat dimana saja berada,
>
>    Ketika kita sedang terkonsentrasi kepada pemberitaan masalah gempa yang
> melanda wilayah Jogjakarta dan sekitarnya serta penanganan korban pasca
> gempa tersebut, dan juga berita tentang Gunung Merapi yang dianggap sudah
> menurun aktivitasnya sehingga statusnya diturunkan dari "awas" menjadi
> "siaga", namun baru beberapa jam kemudian justru gunung tersebut
> memuntahkan lava pijar yang diikuti awan panas "wedhus gembel" yang lebih
> besar, yang memakan korban dua orang relawan yang berusaha berlindung di
> dalam bunker. Nun di timur, di Jawa Timur, tepatnya di daerah Porong,
> Sidoarjo terjadi pula musibah yang cukup merepotkan dan mengganggu
> penduduk
> setempat dan kegiatan industri yang berada di sekitarnya, yaitu banjir
> lumpur panas, yang terjadi dua hari setelah gempa bumi yang mengguncang
> Jogja dan sekitarnya. Sehingga penduduk setempat diungsikan ke tempat yang
> aman dan kegiatan industri berhenti total karena lumpur panas terus
> mengalir dari dalam bumi, dan menutupi daerah
> setebal lebih dari satu meter serta mengganggu kelancaran arus lalu-lintas
> jalan toll Gempol - Surabaya, bahkan saat ini ditutup sebagian dan akan
> dialihkan melalui jembatan bailley yang hampir selesai dibangun. Semburan
> lumpur panas tersebut keluar melalui tiga titik dengan volume sekitar
> 40.000 - 50.000 meter kubik per hari, yang masih terus mengalir hingga
> hari
> ini, dan tidak tahu sampai kapan akan berhenti. Sehingga timbunan lumpur
> di
> sekitar sumber semburannya saat ini telah mencapai dua-setengah meter
> tingginya, dan mungkin akan terus bertambah dan membentuk gunung kecil.
> Kebetulan di dekat lokasi semburan lumpur tersebut, perusahaan minyak
> nasional Lapindo Brantas sedang melakukan pemboran eksplorasi, sehingga
> semburan lumpur itu dianggap "drilling hazard", oleh karenanya Lapindo
> Brantas yang harus bertanggung-jawab sepenuhnya atas bencana ini. Sejak
> awal seluruh media massa menyampaikan hal ini dan membentuk opini
> masyarakat awam, termasuk pemerintah, dimana
> semburan lumpur panas tersebut berasal dari kebocoran gas yang terjadi
> karena adanya pemboran tersebut. Atau dengan kata lain bencana semburan
> lumpur panas tersebut sebagai akibat "human error". Benarkah demikian ?
>
>
>
>    Bencana semburan lumpur panas ini terjadi dua hari setelah gempa bumi
> yang mengguncang wilayah Jogja dan sekitarnya. Sejak ditayangkan pertama
> kali di televisi dan diberitakan di media massa, sebagai seorang geolog
> yang kebetulan mempunyai data bawah tanah daerah bencana Porong, terus
> terang saya menyangkal apa yang diberitakan oleh media massa, dan meyakini
> bahwa kejadian itu merupakan bencana alam murni. Hal ini disampaikan tanpa
> ada maksud membela Lapindo yang harus bertanggung-jawab atas bencana ini,
> tetapi karena sebagai praktisi pemboran yang mengetahui prosedur dan
> akibat
> yang terjadi jika drilling hazard. Dan hal ini semakin jelas dan lebih
> meyakinkan lagi ketika saya rapat dengan eksplorasi BP Migas yang dihadiri
> juga oleh staf dari bagian pemboran, pada hari Kamis siang 15 Juni pekan
> lalu (materi rapatnya tentang pemboran di Irian Jaya Barat, dan usai rapat
> dibicarakan tentang banjir lumpur tersebut), bahwa tidak ada kesalahan
> prosedur akibat human error dalam
> pemboran yang dilakukan oleh Lapindo, dan semburan lumpur tersebut
> merupakan bencana alam sebagai "mud vulcano" yang muncul di tiga titik
> agak
> jauh dari lokasi pemboran, kemungkinan sebagai dampak dari adanya gempa
> Jogja terhadap daerah bencana Porong. Lumpur panas yang menyembur keluar
> itu jelas dan dapat dipastikan bukan lumpur yang digunakan dalam pemboran
> eksplorasi, tetapi merupakan lumpur laut yang diperkirakan berumur sekitar
> 5 sampai 15 juta tahun, yang terjebak dan tidak sempat membatu di antara
> batuan sedimen yang lebih tua dan lebih muda dalam lapisan kulit bumi.
> Sehingga ketika ada kesempatan  keluar ke permukaan bumi melalui rekahan
> atau patahan, maka muncullah semburan lumpur panas yang berbau tidak enak
> dan berasa asin, yang dalam istilah geologi disebut dengan "mud vulcano".
> Hal ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kegiatan gunung api seperti
> yang sedang terjadi di Gunung Merapi, meskipun ada kata vulcano. Pernahkah
> anda mendengar "Bledug Kuwu" ?
> Itulah contoh mud vulcano.
>
>
>
>    Mud vulcano "Bledug Kuwu' letaknya empat kilometer selatan kota kecil
> Wirosari (di tepi barat jalan Wirosari - Sragen), yaitu antara Purwodadi -
> Blora, Jawa Tengah, atau kira-kira 200 kilometer sebelah barat agak
> barat-laut dari lokasi bencana semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, Jawa
> Timur. Sudah ratusan tahun mengalirkan lumpur panas, meskipun saat ini
> alirannya intermitten (terputus-putus), dan sudah lama airnya dibuat garam
> oleh penduduk setempat. Kalau kita perhatikan lumpur yang keluar dari
> "Bledug Kuwu" dan dibandingkan dengan lumpur yang keluar dari semburan di
> daerah bencana Porong, maka secara fisik akan mirip. Data bawah tanah yang
> ada di wilayah bencana (lihat sketsa yang terlampir, atau kalau ada yang
> penasaran dan ingin tahu, bisa datang ke tempat saya), struktur Porong
> secara geologi merupakan sebuah antiklin barat timur agak ke timur-laut
> melanjut ke Selat Madura, terbentuk karena adanya "shale diapir" yang
> berasosiasi dengan pensesaran. Padahal target
> pemboran yang dilakukan Lapindo itu adalah batuan karbonat formasi Kujung
> yang ada di bawah "shale diapir" tersebut, dan lokasi pemboran berada
> menjauhi atau di tepinya "shale diapir", karena sangat berbahaya dan tidak
> mungkin lokasi pemborannya di tengah atau puncak dari "shale diapir" untuk
> dapat mencapai target tersebut. Kalau kita lihat Peta Struktur Elemen
> Utama
> separuh bagian timur Pulau Jawa (juga bisa dilihat di tempat saya), maka
> sistim sesar atau patahan yang ada, secara langsung atau tidak langsung
> tampak saling berkaitan, sebagai akibat adanya sistim tumbukan lempeng
> Samudra Hindia dan lempeng Kontinen Asia Tenggara. Sehingga ketika terjadi
> gempa bumi di daerah Jogja, dimana yang banyak menimbulkan kehancuran
> bangunan dan menelan korban jiwa adalah yang berada di jalur-jalur sistim
> patahan, maka sangat mungkin akan berpengaruh ke tempat lainnya juga, yang
> dalam hal ini adalah ke daerah Porong. Barangkali dampak gempa tersebut
> telah mengaktifkan sesar antiklin
> Porong  atau membuat rekahan pada batuan penutup yang menahan "shale
> diapir" tadi, sehingga lumpur panas yang bertekanan cukup tinggi dan
> membentuk "shale diapir" tersebut keluar melalui rekahan atau patahan, dan
> terjadilah "mud vulcano" pada tiga titik, sebagai suatu bencana alam
> murni,
> dan boleh kita namai sebagai "Bledug Porong". Kalau dianggap sebagai
> "drilling hazard", seharusnya lumpur itu keluar dari satu titik pemboran,
> dan kenyataannya lumpur itu keluar dari tiga titik yang agak jauh dari
> titik pemboran. Tetapi mengapa sampai saat ini bencana tersebut dianggap
> "human error" dari aktivitas pemboran yang dilakukan oleh Lapindo Brantas,
> dan bukan sebagai bencana alam ?
>
>
>
>
>
>    Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,
>
>
>
>    Meskipun bencana banjir lumpur yang terjadi di Porong, Sidoarjo ini
> tidak menimbulkan korban jiwa manusia secara langsung, namun akan
> berdampak
> luas dan merugikan bagi kehidupan di wilayah bencana. Dari segi
> lingkungan,
> adanya banjir lumpur panas dan asin serta mengandung sedikit gas hidrogen
> sulfida yang beracun ini jelas merupakan pencemaran dan akan merusak
> lingkungan. Lumpur tersebut akan terus mengalir sampai waktu yang tidak
> kita ketahui, seperti halnya "Bledug Kuwu" yang sudah ratusan tahun masih
> terus mengalir sampai saat ini meskipun alirannya terputus-putus. Jika
> aliran lumpur ini tidak segera ditangani secara tepat dan benar, akan
> mencemari wilayah yang lebih luas. Dan tanah yang tercemari lumpur ini
> tidak akan dapat ditanami lagi karena kadar garam yang terkandung dalam
> lumpur tersebut sangat tinggi. Sedang untuk menghentikan aliran lumpur
> tersebut dengan pemboran miring akan sangat sulit dan memakan biaya yang
> sangat besar, dan belum tentu berhasil baik.
> Maka sebaiknya melokalisir atau membatasi ruang gerak tempat keluarnya
> lumpur dan kemudian mengalirkannya ke suatu tempat lain yang beresiko
> lebih
> rendah. Dampak yang membahayakan dengan adanya aliran lumpur dari dalam
> bumi ini adalah cepat atau lambat akan terjadi penurunan tanah atau ambles
> karena terjadi "settlement" di daerah bencana dan jalurnya, sehingga
> bangunan yang ada di atasnya akan mengalami kerusakan atau ambruk. Jika
> turunnya permukaan tanah hanya beberapa sentimeter saja, tidak begitu
> bermasalah. Tetapi jika turunnya lebih dari dua meteran, maka tidak
> menutup
> kemungkinan air laut Selat Madura akan menginvasi masuk ke daratan
> sehingga
> daerah itu akan menjadi teluk, atau paling tidak menjadi rawa untuk
> selamanya. Hal ini sebenarnya merupakan suatu sunnatullah pada alam,
> khususnya pada muka bumi yang akan terus mencari keseimbangan, sesuai
> firman Allah dalam QS Al Hijr 19-21 yang terjemahannya dikutipkan pada
> awal
> mukadimah mimbar ini. Maka untuk menghindari
> kemungkinan tersebut, sebaiknya pemerintah daerah Jawa Timur, khususnya
> Kabupaten Sidoarjo, segera bertindak untuk memindahkan pemukiman dan
> industri serta fasilitas kehidupan yang ada di wilayah mud vulcano yang
> rawan bencana penurunan tanah. Bukankah Allah telah mengingatkan pula
> sunnahNya bagi manusia : "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu
> masyarakat sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka
> sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu
> masyarakat,
> maka tak ada yang dapat menolaknya, sekali-kali tidak ada pelindung bagi
> mereka selain Dia" (QS Ar Ra'd 11).
>
>
>
>    Dari segi sosial dan ekonomi, tentu adanya banjir lumpur ini akan
> berdampak negatif. Belum diketahui berapa kerugian material maupun
> non-material akibat banjir lumpur ini, karena aliran lumpur tersebut tidak
> diketahui sampai kapan akan berhenti. Yang jelas berapa banyak penduduk
> akan kehilangan tempat tinggal dan berapa banyak buruh yang menganggur
> karena industri di wilayah bencana berhenti total. Apalagi jika kemudian
> terjadi settlement sehingga permukaan tanah tempat bangunan pemukiman dan
> industri berdiri itu ambles dan menyebabkan kerusakan atau kehancuran
> bangunan dan berbagai prasarana kehidupan yang ada di daerah bencana
> tersebut. Belum lagi dengan tersendatnya transportasi dan lumpuhnya jalan
> toll Gempol-Surabaya yang berdampak kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
> Apakah semua ini harus ditanggung oleh Lapindo ? Kasihan benar. Kita tidak
> tahu mengapa para pakar kebumian di perusahaan itu tidak menyampaikan
> kebenaran sesuai data yang dimiliki, untuk menyanggah
> pemberitaan dari media massa yang sudah menjadi opini publik. Atau memang
> ada maksud tertentu dengan membiarkan anggapan orang bahwa bencana banjir
> lumpur itu disebabkan oleh human error dari aktivitas pemboran eksplorasi
> yang dilakukan Lapindo ? Wallahu'alam. Untuk diketahui saja bahwa pemilik
> perusahaan tersebut adalah seorang mentri koordinator pada kabinet SBY
> saat
> ini. Disamping itu, operasi pemboran tersebut diasuransikan dengan ganti
> rugi sebesar US $ 27 juta, namun jika terbukti bencana itu disebabkan oleh
> alam, maka tidak akan mendapat ganti rugi. Dan secara bisnis, bisa saja
> perusahaan itu kemudian dianggap "force majeure", tetapi dampaknya
> terhadap
> perusahaan lain seperti JOB Pertamina-Petrochina Tuban yang juga melakukan
> operasi di sebelah wilayah kerja Lapindo, akan bercitra negatif dan
> ditolak
> masyarakat setempat. Maka berkaitan dengan hal ini, Allah telah
> mengingatkan : "Sesungguhnya mereka merencanakan (suatu) rekayasa dengan
> perekayasaan (yang canggih).
> Dan Aku pun merekayasa (pula) dengan perekayasaan (yang jauh lebih
> canggih). Karenanya diberi tangguh orang-orang ingkar itu dengan pemberian
> tempo yang sebentar kepada mereka" (QS Ath Thaariq 15-17). Bagi kita,
> berhati-hatilah terhadap suatu berita, apalagi berita itu diragukan
> kebenarannya atau berita yang tidak benar alias dusta. Allah telah
> mengingatkan hal ini dan mengancam dengan azab yang keras di dunia dan di
> akhirat kelak bagi yang menyebarkan berita yang tidak benar dan dianggap
> sebagai suatu kebenaran, seperti dalam firmanNya QS An Nuur 14-19 yang
> terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar ini. Sebelum mengakhiri
> mimbar ini, dengan adanya musibah yang datang berturut-turut, termasuk
> banjir bandang di Sulawesi Selatan pada pekan ini, mari kita berdo'a agar
> diselamatkan dari berbagai musibah, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah
> saw : "Allahumma innii a'udzubika min jahdil balaai wa darkisy syaqaai wa
> suuil qadhaai wa syamaatatil a'daai (Ya Allah, aku
> berlindung kepadaMu dari musibah berat, dari kecelakaan yang menimpa, dari
> ketentuan yang jelek, dan dari kejahatan musuh yang aniaya)" (HR Bukhari,
> Muslim dan Nasa'i dari Abi Hurairah). Akhirul kalam, alhamdulillahi rabbil
> 'aalamiin.
>
>    Wassalamu'alaikum wr.wb.
>
>    Nana Djumhana
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs.Try it free.
>


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke